Sebuah Riset: “Mungkinkah Ini Kebohongan Terbesar Dalam Sejarah Islam?” (Bagian Pertama)
Barangkali, meskipun saya akan di bilang tidak waras, tapi ini merupakan salah satu topik sejarah terpenting yang perlu dikaji secara mendalam oleh seluruh umat Muslim. Sebab, nyaris semua orang (Muslim maupun non-Muslim) telah menerima ‘kebenaran sejarah’ bahwa Abu Bakar dan Umar dimakamkan di samping pusara Nabi Muhammad saw. Selama ratusan tahun kita (umat Muslim) tidak pernah bertanya “Sejak kapankah berita ini pernah dicatat dan dituliskan dalam sejarah Islam?”
Kubah Hijau. Tepat dibawahnya adalah makam Nabi saw, Abu Bakar dan Umar
Bahkan saking santernya, nyaris tak ada seorangpun yang pernah menanyakan hal ini, yakni “Benarkah Abu Bakar dan Umar dimakamkan di sisi pusara Nabi saw?” Berita ini sudah dianggap sebagai kebenaran umum, karena secara kebetulan, di sisi pusara Nabi saw memang ada dua buah makam, tapi persoalannya adalah: “Siapakah penghuni kedua pusara tersebut?” Yakni apakah benar ia merupakan makam Abu Bakar dan Umar ataukah bukan? Langkah pertama untuk meninjau hal ini adalah dengan meneliti ulang historiografi sejarah Islam.
Kronologisasi Pencatatan Sirah Nabi Muhammad saw
Kelompok Pertama: tahun 700 M – 750 M
- Urwah ibn Zubair (w. 92 H atau sekitar tahun 712 M)
- Abaan ibn Uthman ibn Affan (w. 105 H)
- Hamman ibn Munnabbih (w. 101 H), murid Abu Hurairah (w. 59 H)
- Ibn Shihab Az-Zuhri (w. 124 H atau sekitar tahun 742 M)
Kelompok Kedua: tahun 750 M – 800 M
- Ibn Ishaq (w. 761 M) – dikenal Sirah Rasul Allah.
- Abi Mikhnaf (w. 157 H - 774 M) – karya Maqtal Al-Husayn
- Sayf ibn Umar (w. 796 M)
Kelompok Ketiga: tahun 800 M – 860 M
- Al-Haytsam ibn Adi (w. 882 M)
- Al-Waqidi (w. 207 H atau sekitar tahun 823 M) - Kitab At-Tarikh wa Al-Maghazi.
- Al-Madaini (w. 830 - 850 M)
- Ibn Hisyam (w. 835 M)
- Ibn Sa’d (w. 845 M)
- Khalifa ibn Khayyat (w. 854 M)
Kelompok Keempat: tahun 860 M – 900 M
- Umar ibn Shabba (w. 878 M)
- Ibn Qutaybah (w. 889 M) karyanya yang terkenal Uyun al-akhbar dan Al-Imamah wa al-Siyasah
- Ad-Dinawari (w. 891 M) karyanya yang terkenal Akbar At-Tiwal
- Baladzuri (w. 892 M)
Kelompok Kelima: tahun 900 M – 950 M
- Ya’qubi (w. 900 M) – dia menulis Tarikh al-Yaqubi
- Muhammad ibn Jarir at-Tabari (838 M – 923 M) Dia menulis Tarikh Ar-Rusul wa al-Muluk.
- Ibn A’tsam (w. 314 H atau sekitar tahun 926 M – 927 M) – Dia menulis Alfutuh.
Periode Klasik, Lokasi di Iraq dan Iran
- Ali al-Mas’udi (w. 955 M)
- Tsabit ibn Sinan as-Sabi (w. 976 M)
- Ibn Miskawayh (w. 1030 M)
- Al-Utbi (w. 1036 M)
- Hilal ibn al-Muhassin as-Sabi (w. 1055 M)
- Al-Khatib al-Baqdadi (w. 1071 M)
- Abu al-Fadhl Bayhaqi (995 M – 1077 M) Dia menulis Tarikh al-Mas’udi atau yang dikenal dengan judul Tarikh al-Bayhaqi.
- Abu Ishaq as-Shirazi (w. 1083 M)
- Ibn al-Imrani (w. 1184 M)
- Abu al-Faraj ibn al-Jawzi (w. 1201 M)
- Ibn as-Sa’i (w. 1276 M)
- Ibn al-Fuwati (w. 1323 M)
Periode Klasik, Lokasi Andalusia, Maghrib, Mesir dan Syria
- Al-Musabbihi (w. 1030 M)
- Ibn Hazm (w. 1063 M)
- Ibn Abd al-Barr (w. 1071 M)
- Al-Qadi Iyad (w.1149 M)
- Ibn al-Qalanisi (w. 1160 M)
- Ibn Asaqir (w. 1176 M)
- Imad ad-Din al-Isfahani (w. 1201 M)
- Ali ibn al-Atsir (1160 M – 1231 M) – Dia menulis Al-Kamil fi at-Tarikh
- Baha al-Din ibn Shaddad (w. 1235)
- Al-Kalabi (w. 1237 M)
- Sibt ibn al-Jawzi (w. 1256 M)
- Ibn al-Adim (w. 1262 M)
- Abu Shama (w. 1267 M)
- Ibn Khallikan (w. 1282 M)
- Ibn Abd az-Zahir (w. 1292 M)
- Baybars al-Mansuri (w. 1325 M)
- Abu al-Fida (w. 1331 M)
- Al-Nuwayri (w. 1332 M)
- Al-Mizzi (w. 1341 M)
- Ad-Dzahabi (w. 1348 M)
- Ibn ad-dawadari
- As-Safadi (w. 1363 M)
- Ibn Kathir (w. 1373 M)
- Ibn al-Furat (w. 1405 M)
- Ibn Khaldun (27 Mei 1332 M atau sekitar tahun 732 H sampai 19 Maret 1406 M atau sekitar tahun 808 H) – Dia menulis Muqaddimah.
- Al-Maqrizi (w. 1442 M)
- Ibn Hajr al-Asqalani (w. 1449 M)
- Al-Ayni (w. 1451 M)
- As-Saqhawi (w. 1497 M)
- As-Suyuti (w. 1505 M)
1. Ibn Ishaq.
Nama lengkapnya adalah Muhammad ibn Ishaq ibn Yassar. Dia dilahirkan tahun 85 Hijriyah atau sekitar 704 Masehi, dan merupakan sejarawan yang hidup di periode Bani Umayyah dan awal periode Bani Abbasiyah. Dia wafat usia 57 tahun pada kisaran tahun 761 Masehi atau 142 Hijriyah di Baghdad.
Menurut sejarawan, ayahnya bernama Yassar. Namun, siapakah Yassar ini dan dari mana asal-usulnya serta apa latar belakangnya? Wallahu’alam, karena tak ada pencatat yang mengetahui secara pasti tentang hal ini. Artinya, apakah dia keturunan Arab asli ataukah peranakan? Yang jelas, nama dia dan anaknya (Ishaq) tidak mencerminkan nama Arab yang lazimnya digunakan oleh klan-klan Arab di awal periode Islam. Pada masa itu, jarang kita temukan orang Arab asli yang menamakan anaknya Ishaq. Kalaupun ada, mungkin hal ini sangat tidak umum.
Alhasil, ayahnya konon telah ditangkap pada salah satu ekspedisi militer yang dipimpin oleh Khalid bin Walid, kemudian dia dijadikan budak di Madinah. Yassar baru dibebaskan setelah dia menerima ajaran Islam, tapi apa ajaran dia sebelumnya? Wallahu’alam, karena tak ada seorangpun yang mengetahui secara pasti mengenai hal itu.
Namun anehnya, anaknya yang bernama Ishaq menjadi seorang pencacat tradisi Nabi saw. Konon dia telah mengumpulkan berbagai catatan sejarah tentang permulaan kenabian dan Islam. Setelah itu, Muhammad bin Ishaq, yakni anaknya (cucu Yassar), melanjutkan kegiatan sang ayah.
Pada usia 30 tahun, Ibn Ishaq pergi ke Mesir dan berguru kepada Yazid ibn Abu Habib. Kemudian bersama teman-temannya, mereka pindah dan menetap di Irak.
Dia menulis beberapa catatn atau buku, tapi sayangnya, semua hasil karyanya itu tidak selamat sepenuhnya. Karya yang selamat hanya berupa suntingan atau semacam resensi yang dipelihara oleh muridnya, Al-Bakka’i. Ini pertanyaan yang lain lagi siapakah Al-Bakka’i ini? Dari mana dia berasal dan apa latar belakang agama dan pribadinya? Sekali lagi sungguh disayangkan hal itu tidak ada dalam catatan sejarah. Kemudian karya itu di edit kembali oleh Abdul Malik bin Hisyam, sedangkan salinan yang dimiliki Al-Bakka’i sendiri raib dan yang tersisa pada saat ini hanyalah Sirah Ibn Hisyam yang terkenal.
(Bersambung)
___________________________________________
Bagi segenap ikhwan dan akhawat (Baik Sunni maupun Syi’ah) yang memiliki referensi dan informasi bermanfaat bagi riset ini, silahkan di email langsung atau dituliskan pada bagian komentar pada artikel ini.
DIarsipkan di bawah: Investigasi, Kristologi, Misteri, Wacana


hadooh!
kok bsambung sehhh!!
continue plisss!! hohohoh,,,
cmon “reveal” it already!!
Sebagian besar pendapat menyatakan bahwa memang benar kuburan Umar dan Abu Bakar ada disamping kubur Rasulullah. Tapi yang menjadi pertanyaan adalah apakah sudah ada ijin dari seluruh pewarisnya sehingga Beliau berdua bisa dikubur di tanah milik Rasulullah?
_______________________________________________
Syukran atas masukan antum, saya senang sekali bisa mendapat sumbangsih dan masukan dari antum.
Adapun “sebagain besar pendapat” yang kita maksudkan itu sebenarnya baru dinyatakan di dalam buku-buku sejarah Islam sekitar setelah 100-200 tahun kemudian. Sedangkan sebelum itu, tak ada penyebutan yang bisa meyakinkan kita bahwa Abu Bakar dan Umar bin Khattab telah dikuburkan di sana. Ada beberapa alasan lain yang menyangsikan hal ini, tapi saya masih menantikan feedback lain dari para pembaca. Jazakallah.
Saya pribadi percaya bahwa kedua makam yang dinisbahkan kepada Abu Bakar dan Umar bin Khattab itu sebenarnya adalah propaganda politik yang dimunculkan belakangan, dan salah satu pemicunya adalah faktor politik dan kekuasaan (yang sangat mungkin baru terjadi) di era Bani Umayyah. Dan itupun paska pembantaian cucunda Nabi saw, Al-Husein.
Satu arah penelitian baru dalam sejarah Islam. Apa mungkin penelitian sejarah Islam diarahkan seperti penelitian sejarah umum yang lebih berpegang pada artifak dan data arkeologis, sehingga menghasilkan kesimpulan yg faktual???
______________________________________________
Ana sangat setuju dengan cara2 ini. Orang-orang Yahudi dan Kristen melakukan penelitian seperti ini, meskipun terhadap figur-figur Santo mereka. Namun, menurut ana sendiri, mereka sering kebablasan (khususnya Yahudi) yang sering menyembunyikan hasil temuan-temuan tersebut. Dead Sea Scroll adalah salah satunya. Sedangkan Islam justru kebalikannya, kita memiliki sederet data yang banyak, tapi sikap dogmatis (khususnya di Sunni) sangat kuat, sehingga penyelidikan sejarah sering dianggap sebagai barang haram yang najis dan mesti dbuang jauh-jauh… Afwan. Kelompok ini, setiap ada penyelidikan ke arah masa lalu Islam selalu dianggap upaya dari seorang Muslim orientalis, tapi ketika berbicara seputar sisa-sisa propaganda politik masa lalu, maka hal itu selalu dianggap tidak tabu…
Sudah saatnya kita meninjau sejarah Islam secara obyektif dan bukan subyektif-ideologis… Syukran atas kunjungan dan komentar antum, mohon ditambahi jika antum punya masukan atau data2 yang serupa seperti ini… Jazakallah.
Memang sampai sekarang tidak ada buku yang menyebutkan kepastian kedua maqam tersebut karena pada jaman imam-imam dulu, sulit sekali bagi seseorang untuk mendekati apalagi bertanya pada imam. Di jaman imam Ridha, seseorang dibunuh hanya karena bersalam. Banyak buku dimusnahkan oleh penguasa pada jaman itu agar berita tidak sampai ke kita seperti sekarang ini. Akhirnya, berita dhon lah yang dipake, dan berita dhon itu menyebutkan bahwa itu kubur Umar dan Abu Bakar. Jadi pembuktian hanya bisa berdasarkan sejarah karena tidak ada buku yang dikarang oleh seseorang berdasarkan keterangan dari imam mengenai status kedua maqam tersebut. Tapi siapa pun yang dikubur disitu, tidak ada hubungan dengan furu’ dan ushul. jadi kita hanya membicarakan sejarah yang mana akan kita dapati konspirasi politik yang kejam.
Wallahu a’lam.
_____________________________________________
Setuju sekali dengan uraian antum. Banyak hadis di zaman khalifah kedua yang di bakar, dan Umar bin Khattab sendiri kurang menyukai figur sahabat yang paling jawara dalam periwayatan hadis seperti Abu Hurairah, karena peristiwa yang pernah dia alami kala itu, dan hal ini diriwayatkan dalam sejarah Islam (khususnya Sunni).
meskipun… kajian ini sama sekali tidak ingin menyorot sisi-sisi furu’iayah tersebut…
Persoalan topik ini memang tidak ingin mengupas persoalan furu’ dan Ushul Islam, tapi untuk membuka pola berpikir kita (sebagai Muslim) bahwa sejarah Islam telah banyak mengalami interpolasi dan penambahan sesuai dengan keinginan dari pimpinan yang berkuasa saat itu. Artinya, bukan mustahil telah terjadi penambahan juga dalam konteks syariat, seperti solat tarawih, misalnya atau kalimat “asholatu khairun minanaum” pada azan Subuh dan hal ini, setidaknya, telah “menyentil” furu’ Islam
Hipotesis saya dalam hal ini…:
apabila persoalan kuburan yang (seharusnya) tidak begitu penting sudah “mungkin dimanupulasi” sedemikian rupa untuk tujuan propaganda pihak penguasa (saat itu), lalu apalagi dengan beberapa peristiwa sejarah lainnya…?
Di sini, kita akhirnya harus bisa menyikapi bahwa sejarah Islam bukanlah produk sakral dan haram untuk ditelaah atau dikupas. Karena faktanya, ia (sejarah Islam) tidak berhubungan secara langsung, baik dengan ushul, maupun furu’ Islam…
Dengan demikian, buku-buku sejarah Islam (saat ini) hanyalah “alat bantu” untuk mempelajari sisi perilaku sosial masyarakat Muslim (paska Nabi saw wafat)…
Sedangkan nilai kebenaran dari suatu peristiwa di dalam sejarah Islam adalah hal yang terbuka untuk dikritik dan diuji keabsahannya. Sementara sikap menolak atau menerima suatu episode di dalamnya tidak seharusnya berimplikasi kepada kekafiran…
Intinya, sejarah Islam terkait dengan pengetahuan dan bukan keimanan…wallahu’alam.
Saat ini, saya sedang mencari buku sejarah Islam pertama dan tertua yang pernah menyebutkan bahwa kedua makam itu adalah milik Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Apabila Antum ada masukan dalam hal ini, saya sangat berterima kasih sekali. Syukran atas masukan antum wa jazakallah kheir.
Saya pernah mendengar dari beberapa orang di Najaf (Iraq) yang ‘expert’ tentang sejarah Islam yang juga membahas bahwa kuburan di samping Rasulullah SAW di Medinah bukanlah kuburan Abu-Bakar Siddiq & Umar b. Khattab.
Di Najaf banyak naskah lama yang membahas tentang sejarah Islam.
Ada baiknya Sdr. Mussadiq Marhaban berkunjung ke Najaf.
____________________________________________
Wooow…! Ingin sekali bisa berziarah ke Imam Ali as di Najaf… mau…mau…mau… it has always been my dream…

Tapi, gimana caranya? …Apa ada masukan atau cara lain yang Saudari Letitia bisa berikan …
Mungkinkah memperoleh judul-judul buku ini? Dan mungkinkah buu-buku ini dibeli di Iran, misalnya?
Terima kasih sebelumnya…
GITU AJA KOQ REPOT…ADA TIGA CARA YNG BISA DILAKUKAN:
1.GALI KUBURNYA
2.ANGKAT KERANGKANYA
3.UNTUK IDENTIFIKASI KERANGKA UMAR ADALAH HAL YANG PALING GAMPANG, DAN NGA PERLU KELUAR BAIAYA VISUM. HAL YANG PERLU DILAKUKAN RENDAM KERANGKA YANG DIYAKINI MILIK UMAR DALAM DRUM/WADAH YANG BERISI LARUTAN ALKOHOL (BISA BIR, WISKY ATAU WINE KALO ADA DANANYA KALO CEKAK DANA CUKUP PAKE TUAK MEDAN AJA). DIAMKAN SELAMA SEMALAM DALAM KEADAAN TERTUTUP RAPAT. TINGAL ANDA CEK KEESOKAN HARINYA, KALO CAIRANNYA HABIS BERARTI KUBUR TERSEBUT POSITP 1000% ADALAH KUBURNYA UMAR. KALO YANG SATU UDAH POSITIP KUBURNYA UMAR, YANG ATU LAGI NGA BAKAL JAUH2X SOHIBNYA UMAR.
Salam,
Alhamdulillah, akhirnya saya temui juga orang yang tidak sekedar membicarakan masalah ini tetapi melakukan riset. Semoga sukses membongkar The Biggest Conspirasy on Earth.
Sudah lama saya punya keyakinan bahwa tidak mungkin Abu Bakar dan Umar dikubur disamping pusara Rasulullah saaw alias kubur2 itu kosong.
Setelah membaca buku Imam Mahdi tulisan Al-Kurani, keyakinan saya makin bulat bahwa kedua tempat yang seakan pusara itu diperuntukkan buat Imam Mahdi as dan Nabi Isa as. Apalagi dalam buku tsb disebutkan sebuah hadis bahwa akan terjadi kegemparan dikalangan umat Islam kala Imam Mahdi as memugar Masjid Nabawi. Padahal, bukankah selama ini Masjid Nabawi telah mengalami pemugaran berkali-kali dan tidak terjadi kegemparan? Lalu, apa kiranya yang membuat gempar? Dua pusara itu kosong!!!
Buat sdr Muawiyah bin Abu Gozok, insya Allah harapan antum bahwa kedua pusara itu dibongkar akan terpenuhi kelak.
wassalam
HUEHEHE…AMIN…ANE TERINSPIRASI LAGUNYA KANG IWAN FALS…WO’O YA’O..YA BONGKAR…
waduh lagi nanggung brenti…
tanggung jawab…lanjutin……
ane tunggu jgn sampe mati penasaran nih…
————————————————
Bagian Kedua Coming Soon!
Apakah dengan dikubur dekat Rasul akan menaikkan derajatnya ??? kalaupun benar justru saya berpikir nggak jauh-jauh rasul minta tanggung jawabnya atas perlakuannya kepada imam ali dan sayyidah fatimah..
salam.ane cuma mau tanya aja..apa alasan anda kok repot2 mau cari tau..anda mau dikatakan ahli sejarah?..wow!! nama itu mahal om..ente aja taunya jga lewat buku.mau ngebahas orng2 dulu..susah juga ya,,ente baca dulu siapa ibnu hisyam?..ibadah ente lebih hebat dari beliau belum?kejujuran ente lebih mana dgn kejujuran ibnu hisyam.hampir semua ulama uda sepakat ko..ente yg baru lahir kemaren.eh kasih komentar..klo kejujuran ente msh dipertanyakan mana mgkin orng bisa prcya sm ente ganti dari ibnu hisyam.ane fikir ente lagi kena pnykit krisis percaya sama ulama.ya uda ente bongkar aja tu kuburan!!klo ga nyap2 lagi sama askar..ya uda ga ada gunanya ente bhs mslh ini..hnya bikin rancuh susana aja..ya uda deh..mksh jg telah berani nulis.jd bahan wat ane..
—————————————————–
Tanggapan:
Salam. Wah! ada polisi blog atau pansus blog rupanya?
Memang susah kalau umat Muslim sendiri sudah tidak mau lagi mempelajari sejarah agama mereka?
Sebab, apa hubungan ibadah Ibn Hisyam dengan tulisan ini?
Apakah anda memegang buku amal akhiratnya?
Apakah ada larangan dari Al-Qur’an untuk mengimani bukunya Ibnu Hisyam?
Apakah ada larangan dari Al-Qur’an bahwa kita tidak bisa menilai tulisan-tulisannya?
Adakah tulisan saya yang mencaci pribadinya?
Adakah tulisan saya yang mengatakan bahwa kita harus membakar buku-bukunya Ibnu Hisyam ataupun ulama lainnya?
Mengapa anda sibuk menilai saya dan tidak mengintrospeksi diri anda sendiri?
Saya tidak memerlukan anda percaya saya jujur atau berdusta, tapi nilailah suatu kajian pemikiran dengan menganalisanya? Bukan mengobral omongan akhlaq yang anda sendiri masih memerlukannya?
Apa manfaat anda bagi agama ini? Jangan tanya kepada saya, apakah saya bermanfaat bagi agama ini?
Siapa bilang saya mericuhkan keadaan?
Apakah ada pemberontakan, pembunuhan, demonstrasi, dan lain sebagainya karena tulisan saya?
Terkadang untuk menghindari kerumitan suatu kajian, maka kita terkadang membicarakan moral yaa?
LAGU PANJANG UMURNYA DIGANTI SYAIRNYA JADI :…BONGKAR KUBURNYA…BONGKAR KUBURNYA…SEKARANG JUGA…SEKARANG JUGA….
Kalau mau ke Najaf, datang dulu ke Tehran, insha Allah nanti saya bantu untuk ke Najaf-nya.
————————————————
InsyaAllah. Mohon doanya juga.
Syiah meyakini adanya dua belas imam yang menjadi penerus kenabian. Bagi
syiah, masalah imamah sudah tidak bisa ditawar lagi, karena siapa saja yang
menolak beriman pada salah satu saja dari dua belas imam itu maka dia
divonis menjadi kafir. menolak beriman pada salah satu imam saja sudah kafir
–apalagi menolak beriman pada kedua belas imam tersebut-. Karena yang
menolak dianggap kafir, maka sudah tentu masalah imamah ini merupakan pokok
yang terpenting bagi mazhab syiah. Begitu juga para imam memiliki kedudukan
yang sangat penting bagi syiah. Sudah tentu penting, karena syiah meyakini
bahwa para imam adalah penerus kenabian. barangkali pembaca bertanya-tanya
apakah syiah meyakini bahwa misi kenabian Nabi Muhammad belum selesai
sehingga masih diperlukan penerus lagi? Tetapi inilah keyakinan syiah
CUMA DUA HAL YG PASTI SY AKAN LAKUKAN KLO KUBURNYA DIBONGKAR SEMOGA ALLAH MERIDHOI APA YG SY AKAN LAKUKAN
1….BERDOA SEMOGA ALLAH MENGUTUKMU
2….ATAU KUPENGGAL KEPALA MEREKA ONE BY ONE
DLM KAIDAH USHUL FIQIH DLM ISLAM MENERIMA BERITA JANGAN DR SATU PIHAK TP TANYAKA AMA PARA PENJAGA KUBUR KLO ASAL GITU ANE JG BS
TANYA AMA AHLI SEJARAH JANGAN DR SYIAH AJA ATAU DR PIHAK YG BENCI AMA TUH KUBUR ATAU ISLAM
————————————————-
Sejarah Syiah???
Baca artikel jangan judulnya aja Mas …?!
capee deeey …
Berperasangka itu dosa menurut Al-Qur’an …
Memangnya Ibnu Hisyam itu Syiah?
Salam,
Teruskan risetnya. Saya juga menunggu bagaimana pemaparannya.
Jangan hiraukan orang yang akhlaknya patut dipertanyakan, apalagi agamanya? Kalau melihat tulisan mereka (muawiyah, daud dan sahlani) itu mencerminkan akhlaknya. Kalau mereka mengaku bermadzhab ahlusunnah, apakah demikian ajarannya? Kalau dia mengaku Muslim, apakah Islam demikian ajarannya? TIDAK kan.
———————————————
Terima kasih atas dukungannya Mas Zen. Semoga Allah merahmati anda selalu. Mohon doanya Pak
Muawiyah bisa aja…BTW Umar pernah bilang klo minum arak tapi g sampe mabuk, berarti g haram
tapi klo sampe mabuk, itu baru haram..
Bener2 aneh ijtihad Khalifah yang atu ini…
hehehe…
Saudara-saudaraku muslimin dan muslimat (yang mudah-mudahan juga adalah mu’minin dan mu’minat), marilah kita mulai belajar untuk berbeda pendapat secara elegan dan intelek. Berbedalah pendapat dengan semangat saling menghormati, tidak merendahkan (baik secara eksplisit maupun implist). Sebagai hamba Allah, kita yakin bahwa apapun pendapat kita, pastilah tidak 100% benar, pastilah ada yang tidak benarnya. Kebenaran mutlak itu hanyalah milik Allah.
Semoga benar, ..aduh senengnya ane ada kemungkinan itu. ..lha wong, waktu ada penguasa zalim yang dikubur dekat makamnya Imam Musa al-Kazhim as, saja kalo gak salah kemudian, .. orang yang mengubur (sayyid kalo gak salah) mimpi bertemu beliau as, yang kemudian memperingatkan supaya mayat orang zalim itu dipindahkan dari dekat beliau kok. …..leganya ……leganya ………leganya.
pak Daud, syiah memasukkan orang yang telah membaca syahadat adalah muslim, ada kok fatwa2nya, salah satunya dari ayatullah al-uzhma sayyid Hussien Ali Al-Sistani
Siape yang Mau Menggal Ane (YG MAU BONGKAR KUBURNYA UMAR) ? Huehehe….. Monggo Pak Daud… Kulo Persilahken…..LAGIAN PEDANG YANG BAKAL DIPAKE SAMA PAK DAUD PASTI PEDANG UMAR BIN KHATAB…..YANG UDAH PASTI TUMPUL…KARENA NGA PERNAH DIPAKE BUNUH SIAPA2X WAKTU PERANG……HUEHEHEHE
BONGKAR KUBURNYA…BONGKAR KUBURNYA…SEKARANG JUGA…SEKARANG JUGA….
asragfirullah
kalau begitu sy mau beri kabar gembira bagi pr penghina sahabat karena tempat mereka adalah neraka
kalau tak segera bertaubat
rasul bersabda :
1. Janganlah kamu mencaci-maki sahabat-sahabatku. Kalau ada orang yang menafkahkan emas sebesar gunung Uhud, tidak akan mencapai satu cupak[1] atau separonya dari yang telah mereka infakkan. (Mashabih Assunnah)
2. Sahabat-sahabatku ibarat bintang-bintang. Barangsiapa menelusuri salah satunya dia mendapat petunjuk jalan. (Ad-daarami)
kalau dibandingin tauhid seluruh manusia abad ini ame pr sahabat kaga ada artinya eh malah orang sekarang merasa sok pinter alias suci sadar dong bang emank kite udah pernah diberi kemuliaan seperti sahabat kagak kan
kasian tuh hati udah terkena racun cucinyasih ada dua
1……..alLah yg cucin kalau ente termasuk orang yg diberi rahmat tp emank allah mau cuciin ht yg menghina orang dan hamba yg mulia seperti umar, abubakar,,usman,,khalid and masih bnyak lg wallahhuallam tp kayaknya enggak deh cepat cepat taubat bung kalu enggak???KACIAN DEH LOH
2……..NAH INI PALING AMPUH NIH kalungkan aja pedang dilehernya kalau sekarang setipe,,ak47,,rpg,,rudal,,bom atom kalau perlu dijamin deh sedikit ampuh serta katakan” terima sepenuhnya atau tinggalkan seluruhnya “lalu lepaskan tubuhnya dr kepalanya jgn lupa bismillah
dijamin deh pasti kurban yg afdhol dihadapan allah kelak
buat ustads ane mau nanya emang taqiyah apa maksudnya ane kagak tau tuh????/
ane minta maaf aja kalau ada salah kata
minal aidin wal faizin mohon maaf lahir batin
ane titip salam aja ama anaknya ustads
asalammualaikum
———————————
Assalamu’alaikum Wr. Wb.,
Menurut saya, hal-hal seperti ucapan dan pernyataan-pernyataan yang tidak enak tidak perlu ditanggapi. Saling merendahkan tidak menjadikan antum dan dia menjadi lebih benar atau lebih baik. Terkadang, ada kalanya sikap diam pada diri seseorang, menjadi petunjuk atas kebijaksanaan diri orang tersebut.
Untuk itu, sebaiknya tidak perlu antum tanggapi balik. Membalas dengan berdoa kepada Allah swt lebih bisa mendidik diri kita kepada kemuliaan hati dan ketulusan jiwa, apalagi inikan sudah mau Idul Fitri, tapi biar bagaimanapun semuanya saya kembalikan masing-masing kepada anda dan dia. Selebihnya dari saya adalah hasbunallah wa ni’mal wakil,ni’mal mawla wa ni’mannashir.
Entah bagaimana, tapi saya melihat lompatan perpindahan pertanyaan antum ini, barangkali, sedikit banyak telah dipengaruhi oleh ucapan orang yang membuat pernyataan yang tidak enak itu. Padahal, seharusnya tidak perlu demikian.
Soal Taqiyah
Banyak di antara saudara-saudara Sunni yang menganggap bahwa taqiyah adalah akibat dari minimnya keimanan dan keyakinan kepada Allah swt. Alasan mereka bahwa orang-orang yang menyembunyikan keyakinannya untuk menyelamatkan diri dari ancaman bahaya adalah ciri manusia yang penakut, padahal seharusnya dia hanya perlu takut kepada Allah saja dan bukan kepada makhluk. Dalam konteks ini, sebagian kaum Wahabi sering menambahkan bahwa tindakan seperti ini mengakibatkan syirik.
Perlu dipahami bahwa Syiah tidak memahami taqiyah seperti yang diasumsikan oleh sebagian ulama Sunni atau Wahabi yang secara khusus telah menolak taqiyah dalam Islam. Syeikh Ridha Muzaffar dalam kitabnya Aqa’id al-Imamiyah menjelaskan bahwa, taqiyah harus sesuai dengan aturan khusus berdasarkan kondisi di mana bahaya besar mengancam. Aturan-aturan ini banyak tercantum dalam kitab-kitab fiqih, beserta seberapa besar atau kecilnya bahaya yang menentukan keabsahan taqiyah sendiri. Taqiyah tidak wajib dilakukan setiap waktu. Sebaliknya, taqiyah boleh dilakukan dan kadang-kdang perlu untuk tidak bertaqiyah. Contohnya pada kasus dimana mengungkapkan kebenaran akan melancarkan tujuan agama, dan member manfaat langsung kepada Islam, dan berjuang demi Islam. Sesungguhnya pada situasi demikian, harta, benda dan nyawa harus dikorbankan. Selain itu, taqiyah tidak boleh dilakukan pada kasus yang berakibat pada tersebarnya kerusakan dan terbunuhnya orang-orang yang tidak berdosa, dan pada kasus yang akan mengakibatkan hancurnya agama, dan kerugian yang nyata akan menimpa umat Muslim, baik menyesatkan mereka atau merusak dan menindas mereka.
Selain itu, sebagaimana yang diyakini kaum Syiah bahwa, taqiyah tidak menjadikan Syiah sebagai organisasi rahasia yang berusaha menghancurkan dan merusak, seperti yang coba ditambilkan oleh para pembenci Syiah. Kritik-kritik ini memperlihatkan serangan mereka secara verbal tanpa benar-benar memperlihatkan persoalan dan berusaha memahami pendapat Syiah tentang taqiyah.
Seperti yang antum bisa lihat bahwa taqiyah tidak sama dengan sifat munafik, karena sifat munafik adalah kebalikan dari taqiyah itu sendiri. Karena taqiyah sederhananya adalah menyembunyikan kebenaran untuk tujuan yang akhirnya ingin memenangkan kebenaran , sedangkan munafik adalah menonjolkan sikap bahwa dia seolah-olah manusia yang benar, padahal tujuannya justru ingin menghancurkan kebenaran.
Sumber taqiyah dalam Al-Qur’an
Di sini, saya tidak mau merujuk kepada dalil-dalil Syiah tentang taqiyah, karena antum pasti akan mengatakan bahwa sudah semestinya Syiah memiliki dalil-dalil tentang taqiyah, sebab Syiah memang mempercayai konsep taqiyah. Nah, agar bisa menepis persepsi buruk soal taqiyah, maka saya justru akan merujuk dari kitab-kitab ulama Sunni sendiri seputar pandangan taqiyah itu sendiri.
Jalaluddin As-Suyuthi dalam kitabnya, ad-Durr al-Mantsur fi tafsir al-ma’tsur meriwayatkan pendapat Ibnu Abbas tentang taqiyah dalam ayat Al-Qur’an, yaitu:
“Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena siasat (“tat-taquh”) memelihara diri (“tuqatan”) dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan hanya kepada Allah kembali (mu).” (QS. 3:28)
Kata “tat-taquh” dan “tuqatan” mengakar dari bahasa Arab taqiyah.
Ibnu Abbas berkata: Taqiyah hanya diucapkan dengan lidah saja; orang yang dipaksa menyatakan sesuatu yang bisa membuat murka Allah swt, padahal hatinya tetap beriman kepada Allah, maka ucapan yang terpaksa tersebut tidak akan merugikannya, karena taqiyah hanya diucapkan dengan lidah saja dan bukan dengan hati.
Abu Bakar Razi dalam Ahkam al-Qur’an (jilid II, hal 10) menjelaskan juga ayat di atas, “…kecuali karena siasat (“tat-taquh”) memelihara diri (“tuqatan”) dari sesuatu yang ditakuti dari mereka…(QS. 3:28)”, dengan membenarkan bahwa taqiyah harus bisa dilakukan apabila seseorang takut jika hidup atau anggota tubuhnya terancam bahaya. Selain itu, dia meriwayatkan juga bahwa Qatadah menyatakan hal berikut berkenaan ayat di atas, “seseorang boleh mengucapkan kata-kata ketidakberimanan saat taqiyah wajib dilakukan.”
Diriwayatkan dalam Sahih Bukhari (jil 7, 102) bahwa Abu Darda berkata, “Sesungguhnya kami tersenyum kepada beberapa orang, padahal hati kami mengutuk mereka.”
Mohon antum simak pesan Rasul saw ini baik-baik. Diriwayatkan dalam Sahih Muslim (versi Inggris), bab 1527, jilid 4, hal 1373, hadis 6303 bahwa Humaid bin Abdurrahman bin Auf meriwayatkan bahwa ibunya, Ummu Kaltsum binti Uqbah bin Abu Mu’ait, salah satu orang Muhajirin yang pertama kali membait Nabi Muhammad saw, berkata bahwa ia mendengar Nabi saw berkata: “Seorang pendusta adalah seseorang yang tidak berusaha membawa kedamaian di antara umat dan berbicara hal-hal yang baik (untuk mencegah timbulnya pertengkaran), atau tidak menyampaikan kebaikan.” Ibnu Syihab berkata, “Saya tidak mendengar bahwa pengecualian diberlakukan pada apapun yang orang katakan sebagai kebohongan, kecuali pada tiga hal: dalam peperangan, mendamaikan orang dan pertanyaan suami kepada isterinya, dan pertanyaan seorang isteri kepada suaminya (dalam bentuk pernyataan sebaliknya untuk mendamaikan suami isteri itu.”
Seorang ahli tafsir Sunni, Abdul Hamid Siddiqi, pada kitab Sahih Muslim (versi Inggris, bab 1527, jilid 4, hal 1373, hadis 6303) menyatakan penafsirannya sebagai berikut: Berbohong adalah sebuah dosa besar. Tetapi seorang Muslim boleh berbohong dalam beberapa kasus tertentu dan diperbolehkannya berbohong pada tiga keadaan: pada peperangan, untuk mendamaikan umat Muslim yang saling bermusuhan, dan mendamaikan suami dan istri. Berdasarkan qiyas atau analogi dari ketiga keadaan ini, para ulama hadis memberikan beberapa pengecualian lainnya; menyelamatkan nyawa dan kehormatan orang tak berdosa dari tangan penguasa zalim dan penindas apabila seseorang tidak menemukan cara lain untuk menyelamatkan mereka.
Perhatikanlah baik-baik, bahwa baik hadis ataupun penafsiran Al-Qur’an di atas tidak mesti berhubungan dengan non-Muslim saja. Lihat juga ayat al-Qur’an di bawah ini:
“Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar.” (QS. 16:106)
Kisah seorang Mukmin di zaman Fir’aun yang bertaqiyah untuk melindungi Musa as.
“Dan seorang laki-laki yang beriman di antara pengikut-pengikut Fir’aun yang menyembunyikan imannya berkata: “Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena dia menyatakan: “Tuhanku ialah Allah padahal dia telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Tuhanmu…” (QS. 40:28)
Seperti yang antum lihat sendiri bahwa taqiyah bukan produk made in Syiah, tapi made in al-Qur’an.
Jika demikian, lantas mengapa kaum Wahabi malah menyatakan bahwa taqiyah itu identik dengan syirik karena takut kepada selain Allah, atau munafik dan lain sebagainya, padahal al-Qur’an secara tegas melarang untuk menjerumuskan diri kita kepada kebinasaan tanpa tujuan dan membolehkan taqiyah, meskipun hal itu atas nama jihad dan lain sebagainya, “janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. 2:195)
InsyaAllah bermanfaat dan mohon maaf atas pernyataan saya yang kurang berkenan. ‘Alaiha wa ‘alaikum salam. Jazakallah kheir. Wassalamu’alaikum.
to musaddiq …
saya pernah baca artikel sejarah dari Dr shabir, yg mengkritisi sejarah yg berlaku umum sekarang. bahkan mengatakan bahwa sejarah syahidnya Imam Husain as itu dusta…peristiwa karbala itu tdk pernah ada..
bahkan Dr shabir berkesimpulan sejarah dikumpulkan dan dituliskan oleh orang parsi
bagaimana pendapat anda?
mohon sharingnya….
to musaddiq …
setuju buat Dr shabir bagi orang mengkritisi sejarahpati akan bertanya ?
betulkah yazid pd tahun 61hH beradadi karbala dan membunuh husein ? bukankah yazid pd watu itu berada di damakus dan yg berada dikarbala dan yg menyuruh membunuh husein adalah ubaidillah bin ziyad ?bukankah demikian itu yg di sebut dlm sejarah
——————–
Tanggapan:
Menurut saya, pernyataan Dr Syabir sendiri tidak menafikan peristiwa Karbala, tapi dia hanya mencoba membela Yazid la. Itu adalah haknya dan hak anda juga untuk membela Yazid, jadi teserah anda karena anda bebas memilih dan punya akal sehat.
dan mas seperti yg salah satu ikhwan yg memberitahukan karena sy coba mencari kitab atau literatur syiah yg langkah mungkin bagi orang awam seperti sy dia menunjukan sy satu pernyataan dr ulama syiah sendiri ketika sy tanya tentng karbala allamah MH thabath- thabai {ulama syiah } , mrnyatakan bahwa syahidnya imam husein dikarbala meningkatkan kecenderungan orang orang untuk melihat dien mereka sendiri ebagai suatu nmasyarakat terpiah lm dunia islam {islam yiah hal 8}
——————————–
Tanggapan:
Saya punya bukunya Allamah Muhammad Husein Thabathaba’i dan peringatan tentang Imam Husein as memang selalu diperingatkan oleh umat Syiah sedunia setiap tahunnya. Terus kenapa Mas Daud? Saya tidak mengerti anda sebenarnya mau mengaitkan hubungan ini kemana karena tidak nyambung argumennya.
bahkan dlm salh satu riwayat diceritakan tentang penghianatan syiah terhadap muslim bin uqail bin ja”far bin abi thalib , saudara dan utusan husein ra , yg kemudian berbuntut dan terjadinya peristiwa karbala .tp sy heran dan menjadi pertanyaan ? peristiwa seperti ini tdk diangkat sm ulama syiah apakah mereka bertaqiyah ? seperti dlm buku maqatil ath thalibiyiin karangan abdul faraj al isfhani sedangkan kitab ini secara khusu membahas sejarah biografi anak turunan abu thalib
—————————
Tanggapan:
Peristiwa Karbala adalah bukti bahwa saat itu umat Muslim telah berkhianat kepada perjuangan Rasul saw dan cucundanya Imam Husein as.
Sebagian umat Syiah memang ada yang menjadi pengkhianat saat itu dan saya akui hal tersebut, karena umat Syiah memang tidak imun terhadap dosa.
Lalu bagaimana dengan para pembunuh Imam Husein sendiri, apakah menurut antum bahwa mereka itu menjadi pengikut setia Rasul saw dan Imam Husein as?!
Apakah MAs Daud tahu siapa-siapa yang hadir di padang Karbala dan ikut membantai Imam Husein as, salah satu komandan yang mengabdi kepada kekaisaran Yazid ini adalah Umar bin Sa’d bin Abi Waqas …
Apakah menurut Mas Daud bahwa orang yang namanya saya sebut ini adalah loyalis kepada Imam Husein as ataukah pengkhianat?
Saya telah menjawab bagian saya, lalu bagaimana dengan antum sendiri?!
Antum mau menolak sejarah pembantaian Karbala seperti Dr Syabir, apakah hal ini berarti antum melakukan itu karena loyal kepada Imam Husein as ataukah sebaliknya?
kalau sekiranya ulama itu sedang bertaqiyah sedangkan sejarah yg penting kayak gitu disembunyikan ? wahhhhh gawattt nehhhh
——————————
Tanggapan:
Apa hubungan sejarah Karbala dengan kasus taqiyah yang antum tanyakan? Dan Siapakah yang hendak menyembunyikan sejarah Karbala? Dr Syabir ataukah para ulama itu Mas Daud?!
sedangka ulama sunni mereka adalah penyampai kebenaran
pemberani walau harus mati
membuat kerajaan thogut gempar
——————————-
Tanggapan:
Pemberani itu adalah orang yang berani tampil di hadapan laan-lawan mereka Mas Daud, bahkan sekalipun harus ke daerah musuh seperti Ahmadinejad atau Sayyid Hasan Nasrullah, dan bukannya sembunyi sejak 911 sembari ngirim tape rekaman kalau mau ngomong kepada publik?! Lalu menyuruh petani Afghanistan yang hidupnya sudah serba kepepet dan tidak paham strategi militer ke medan perang …
Maaf, persepsi saya soal keberanian dalam hal ini mungkin agak berbeda …
seperti ulama 4 madzhab mereka disika ,diprnjara
———————————
Tanggapan:
Disiksa oleh siapa Mas Daud? Saat itu jelas bukan oleh orang-orang Kristen atau Yahudi kan, alih-alih orang Syiah? Siapakah mereka Mas Daud?
serta ulama sunni abad sekarang yg membuat amrik sekutu dan orang munafik gentar dgn dakwahnya
seperti perkataan rasul yg mereka yakini ” jihad yg utama mengatakan kebenaran dihadapan penguasa kafir” bukan menyembunyikan karena takut dibunuh
seperti perkataan ibnu taimiyyah :”kalau sekiranya mereka memenjarakan ku maka itulah waktu aq berduaan dgn rabbku, kalau sekiranya mereka mengasingkanku maka itu adalah tamasya bagiku kepada rabbku ,dan kalau mereka membunuhku maka itulah kemulian yg diberikan rabbku kepada ku”
masya allah tauhid apakah ini???
————————————
Tanggapan:
Mana yang lebih mulia antara Ibnu Taimiyyah yang berbicara seperti kalimat di atas dan sahabat Rasul saw da pengikut setia Imam Ali as hingga syahidnya, yaitu Ammar bin Yasir yang mengatakan hubal … hubal … hubal, pada saat dia tidak punya pilihan lain karena tidak tega menyaksikan kedua orang tuanya sedang disiksa dihadapannya? Mana yang lebih sempurna tauhidnya? Ammar bin Yasir si pendekar Rasul saw dan Ahlulbait Nabi saw ataukah Ibnu Taimiyyah?
tmohon maaf kalau ada salah kata dr y yg lemah dan khilaf ini
karena kesempurnaan hanya milik allah
dan mas sy mempunyai banyak kendala dlm mencari kitab dan literatur yiah tp ahamdullilah ternyata allah menoong sy dan ketika sy baca sy berdiri dgn yakin sy berkata” saksikan bahwa sy orang islam yg mengikuti alquran dan sunnah rasul”
—————————-
Tanggapan:
Saya juga minta maaf karena meskipun sudah menghadirkan bukti-bukti ayat Al-Qur’an dan hadis-hadis Sahih dari pihak Sunni sendiri, tetapi antum belum bisa menerima fakta-fakta tersebut. Tapi saya tetap hargai pilihan antum dan itu adalah jalan yang anda pilih sendiri.
Adapun saya, maka saya lebih memilih hadis yang lebih sahih menurut Sunni sendiri Mas Daud, yaitu Al-Qur’an dan Ahlulbait Nabi saw.
Untuk itu, berhubung antum sudah membuat keputusan, maka sebaiknya diskusi ini tidak perlu dilanjutkan lagi. Jazakallah dan syukran.
HUEHEHE…BUAT PAK DAUD… MAU PAKE AK47 ATAU AK 1003 NGA MEMPAN SAME ANE
HUEHEHE…..TAON DEPAN ANE MAU KLUARIN KHAMER MERK ”UMAR WALKER” YANG LEBIH AMPUH DARI “JHONY WALKER”…HUEHEHE…NTAR PAK DAUD TAK KIRIMIN…BIAR KALO TAWASUL KE UMAR BIN KHATAB LEBIH CEPET CONECTNYA.
HUEHEHE …lucu sekalii! …….BTW ..jangan salah lho khotob itu (ayahnya umar) wawasannya luas lho! .. tahu mitos yunani segala, ..kan cuanggih rek, ….terutama paling fanatik sama dongeng oedipus, ..sampai dipraktekin ama dia, shg jadi umar, jadi umar sejatinya adalah buah hasil dari wawasan luas. HUEHEHE.
nah dokter shabir ini syiah atau sunni, syiah itu munculnya sejak zaman kewafatan Ar-Rasul SAWW, sejak keimamahan berada di imam Ali, jadi jauh sebelum peristiwa Karbala, kalau mau mendiskusikan masalah Karbala, berarti sudah masuk dalam salah satu ‘kotak’ yaitu kotak syiah, …soalnya sudah barang tentu bukti2 sejarah sunni tidak apresiatif terhadap peritiwa itu. hmm sebenarnya ada juga lho literatur sunni menyangkut peristiwa Karbala ini. kalo itu yang terjadi maka lebih parah. …iya kan? bisa2nya anda lebih mengikuti dokter Shabir ini daripada ulama2 anda sendiri.
—————————
Kali ini, pandangan Mas Daud ini menurut saya lebih mengarah kepada konklusi emosional ketimbang rasional. Tapi jangan kaget saudara Denjaka, saya sendiri pernah kok mengalami fase-fase seperti ini, karena sewaktu membaca peristiwa pembantaian cucunda Nabi saw yang bernama Al-Husein di Karbala, maka saya sendiri sempat menyatakan hal yang serupa dengan ungkapan Mas Daud. Sebab, seluruh fakta sejarah itu terlalu menyakitkan untuk saya akui sebagai seorang manusia, apalagi sebagai seorang Muslim.
Ucapan guru-guru SD, SMP, SMA saya yang mengatakan bahwa Islam telah mengukir sejarah peradaban manusia dengan tinta emas segera sirna dihadapan saya … dan sejak saat itu, setiap kali ada seseorang menyebut sejarah Islam, maka tema sejarah Islam yang pertama kali muncul di benak saya adalah peristiwa Karbala …
Kalau saja peristiwa Karbala itu benar-benar tidak ada, lantas berapa banyak ulama dan juga sejarawan Sunni yang mau kita kategorikan sebagai pengkhayal kelas pertama ketimbang ilmuwan papan atas, termasuk Ibnu Taimiyyah sendiri?
Cobalah renungkan baik-baik Mas Daud, karena yang menulis sejarah Karbala itu bukan hanya sejarawan Syiah, tapi seluruh penulis sejarah Sunni yang tulisannya di luar konteks Sirah Nabawiyyah, maka mereka pasti akan mengakui kebenarannya, termasuk keterlibatan Yazid bin Muawiyah la dalam pembunuhan tersebut. Hanya kaum Wahabi belakangan saja yang kemudian mulai menulis beberapa pledoi terhadap Yazid la
Intinya, membenarkan hikayat yang datang dari seorang Dr. Syabir ini, sama saja mau mengatakan bahwa beberapa cendkiawan besar Sunni seperti Thabari, Al-Ghazali, bahkan Muhammad Abduh dan Rasyid Ridho sebagai penulis komik Islam best seller?!
Menurut saya ini adalah suatu keyakinan beragama yang sudah tidak rasional lagi dan dogmatis!
Kepada Saudara Denjaka, saya ucapkan terima kasih atas komentarnya. Minal a’din wal faa’izin, mohon maaf lahir dan batin.
Sama-sama ustadz dan mohon maaf lahir batin juga.
akhir2 ini sebenarnya yang sering terjadi benturan adalah antara saudara2 kita sunni dan kaum nasrani. dan dalam dialog kadang2 terjadi situasi yang sangat tidak konstruktif.
situasi yang menurut saya sudah tidak ada prospek sama sekali, yah tapi kadang2 saudara2 sunni tetap mau melanjutkan (mungkin maksud mereka ingin memberi hidayah). Tapi pelecehan yang dilakukan umat kristiani terhadap figur islam (nabi kita) menurut saya sudah tidak akan mampu lagi diterima oleh kaum muslimin (kalau ustadz lihat situs semacam FFI, maka akan terbelalak melihat penghinaan mereka) bahkan menurut saya sudah sampai pada taraf bisa membahayakan keimanan kita. sering saudara2 sunni kalah dalam suatu argumen, dan kadang2 saya support dg dalil juga. tetapi mereka terus maju. nah yang saya heran dan juga adalah pertanyaan bagi ustadz, adalah kenapa kok sering saya merasa bahwa umat kristiani ini selalu menerapkan standar ganda, ketika memulai dialog dg kita, apakah ini merupakan rumus mereka sejak zaman dulu? kok mereka nekat sekali menghina nabi kita, apakah mereka benar-benar tidak mengetahui hakikat nabi kita, saya seakan-akan merasa mereka ini sengaja/berlomba-lomba masuk neraka. karena menurut saya hakikat nabi kita itu sudah sangat fitrah bagi manusia, termasuk yang nonmuslim. (tanda-tandanya sebagai habibullah sangat jelas bagi manusia). apa yang terjadi dengan fenomena ini? kemudian sering saya nasehati saudara2 sunni untuk tidak usah berdiskusi dengan mereka (tapi lewat forum lain yg islam) apabila mereka mulai menghina nabi kita, karena bagi saya orang2 ini sudah percuma (saya merasa hati nurani mereka sudah tidak ada) bahkan justru akan mengganggu keimanan kita, ..yah tapi saudara2 sunni kebanyakan tetap saja maju terus, saya mengambil hikmah dari peristiwa mubahalah, yang bahkan rasul SAWW saja tidak berkenan untuk dakwah pada mereka (mereka tidak berani melanjutkan mubahalah karena tahu kapasitas ahlulbayt, tapi mereka tetap kristen!) dan rasulpun tidak berusaha terus berdakwah pada mereka. bagaimana pendapat ustadz akan hal ini.
————————————-
Salam Saudara Denjaka, terima kasih sebelumnya.
Pertama-tama, banyak sekali penyebab munculnya kesalahpahaman antara Islam (baik Sunni maupun Syiah) dan Kristen ataupun agama-agama lainnya. Suatu ideologi (apapun labelnya) selalu bisa memunculkan suatu sikap sejenis fanatisme, karena ia muncul dari afeksi atau perasaan si penganut yang setaraf dengan level pengetahuannya. Dakwah Islam tidak melulu mesti memperdebatkan apakah Yesus ataukah Muhammad yang sebenarnya Mesiah? Kita ebaiknya menjawab kalau ditanya atau manakala mereka membuka suatu topik pembicaraan. Kiat yang dilakukan oleh beberapa rekan dari kristolog Sunni menurut saya sudah over the top, kalau mungkin tidak mau dibilang way out of line…
Bagi kebanyakan orang Keyakinan beragama adalah sarana pendamai rohani, penghilang kegelisahan, tumpuan harapan dimana emosi seseorang lebih banyak tercurah di dalamnya ketimbang akal sehatnya sendiri. Dakwah dengan menunjukkan perbuatan baik dan terpuji, jauh lebih baik ketimbang hanya berdiskusi semalam suntuk dan akhirnya berakhir dengan caci maki. Banyak Muslim yang mengira bahwa banyak umat Kristen yang rajin ke gereja dan membaca Alkitab mereka, sebagaimana banyak umat Kristen yang mengira bahwa banyak umat Muslim yang rajin ke Mesjid dan membaca Al-Qur’an mereka..
Ini jelas hanya dugaan semata,karena di realitas, saya lebih melihat bahwa dari level remaja hingga dewasa, mayoritas umat Muslim tidak atau belum pernah membaca 5 surat pertama Al-Qur’an, seperti al-Baqarah, Ali Imran dst. Demikian pula di Kristen, banyak yang sudah dewasa tapi membaca Injil kanonik secara lengkap saja belum pernah.
Mengajak seseorang kepada Islam bukan dengan mengatakan “Mas/Mbak, agama anda salah, Tuhan anda palsu karena kebenaran itu hanyalah milik Islam/Kristen saja”. Ada sebuah cerita ketika seorang Muslim yang ikut pertukaran siswa harus tinggal dengan keluarga Kristen di sana. Tapi setelah setahun seluruh keluarga itu memilih untuk masuk Islam, padahal tidak pernah si Muslim itu mengucapkan sepatah katapun tentang Islam atau risten, si Muslim tidak pernah solat di depan mereka, pada saat Ramadhan, si Muslim terus berupaya melakukan aktivitas seperti biasa selain makan dan minum.
Keluarga itu bercerita bahwa sejak si pemuda itu datang, dia tidak pernah berbicara sepatah katapun soal agama mereka ataupun soal Ilam, tapi dia selalu menunjukan sikap berbuat baik. Saat mereka sedang minum-minum alkohol, si pemuda itu membuat juice dan tetap duduk menemani mereka, sembari membicarakn efek-efek alkohol yang bisa membahayakan kesehatan. Dia menyebutkan berapa banyak kecelakaan fatal di Amerika utara yang berawal dari mengkonsumsi alkohol. Saat natal, si pemuda itu membawa kue sebagai hadiah sebagai penghormatan kepada perayaan mereka. Si keluarga itu mengatakan bahwa sejak semula mereka selalu berharap si pemuda itu membuka topik soal Islam, karena kalau sampai si pemuda itu buka mulut, maka pihak keluarga sudah siap dengan serentetan artikel copy paste yang siap di luncurkan ke arah si pemuda.
Setelah sekitar 4-5 bulan tinggal bersama keluarga itu, akhirnya pihak keluarga itu yang malah penasaran, mereka bilang mengapa anda tidak pernah bicara soal agama anda kepada kami. Hampir seluruh keluarga di lingkungan kami bercerita bahwa kalau menerima remaja Muslim untuk tinggal di rumah, pasti bakal di ceramahi soal Islam dan bakal menyebut kalau Kristen itu agama yang salah dan menympang, lalu mengapa anda tidak melakukannya?
Si pemuda menjawab: kalian tidak pernah bertanya, lalu mengapa saya mesti mengatakan sesuatu yang kalian tidak tanyakan, jawabnya sederhana. Tapi kali ini, si keluarga yang semakin heran dengan si pemuda itu, mereka bilang Islam itu agama apa? Saat itu si pemuda tadi masuk ke kamar dan keluar dengan membawa Al-Qur’an dalam bahasa Inggris seraya mengatakan: saya tidak bisa mengatakan Islam itu apa dan bagaimana,tapi saya membawa kitab terjemahan ini sebagai cara kalian bisa berkenalan dengan Islam.
Sejak itu, keluarga itu rajin membaca Al-Qur’an dan kadang bertanya kepada si pemuda. Lalu beberapa bulan kemudian, seluruh keluarga itu masuk Islam karena melihat si pemuda Muslim itu berakhlak baik dan sopan. Persepsi buruk mereka terhadap Islam pun segera hilang.
Kristologi adalah ilmu yang bisa mengantarkan kita agar semakin bisa memahami agama samawi dan bukan untuk berdebat atau menyakiti umat agama lain.
Segala sesuatu yang diawali dengan niat kebencian, pongah dan lain sebagainya hanya akan membawa pada keterpurukan dan kekecewaan. Islam adalah agama yang membawa damai, peduli kepada sesama manusia, peduli pada keadilan, rasa cinta kasih dan menolong sesama.
Semoga kisah teladan dari Imam Ali as berikut ini bisa menjadi pelajaran bagi kita bersama.
hmm saya banyak dapat pencerahan disini
————————-
Terima kasih
assalamualaikum,, smoga bermanfaat buat kita semua.. bukannya diskusi ini ttg dua makam yang berada di samping rosul? kok nyambungnya ke syiah dan sunni..?
buat anda yang mengatakan bahwa dua makam yang berada di samping makam rosul itu bukan makamnya Abu bakar dan Umar, ada beberapa pertanyaan dari ana,
apa dalil anda?, referensinya mana? kebetulan di mesir ini banyak buku2 ttg yg ilmsejarah, munkin ana bisa langsung mencarinya, kalo memang ada. dan kalo boleh ana tau, buku sejarah apa aja yang pernah anda baca sehingga bisa mengatakan hal yang sepeti itu? siapa saja orang yang pernah mengatakan demikian? (dua makam yang di samping makam rosul itu bukan makamnya abu bakr dan umar), udah baca siroh Abu bakar dan Umar blm? kalo antum blm pernah baca, bukankah dsna disebutkan bahwa pada suatu saat beliau pernah berkata pada Aisyah ra agar di saat wafatnya nanti, beliau berwasiat kepada Aisyah agar jasadnya di makamkan di sisi makamnya rosul…
adapun ttg Umar ra, dalam kitab sejarah Umar ra yang ditulis oleh Dr Ali muhammad Muahmmad As sollaabi, imam Ad dzahbi meriwayatkan bahwa suatu ketika Umar meminta kpd Aisyah agar di makamkan disisi makam kedua sahabatnya (Rosulullah SAW dan Abu Bakr ra)
dan tdak perlu setiap muslim harus meneliti kebenaran riwat ini, karna mengenai masalah ini tidak ada khilaf diantara ahli ilmu bahwa bahwa makam Rosulullah SAW, Abu Bakar, dan Umar dimakamkan bersampingn satu sama lain.
ana sudah berusaha meluruskan suatu hal yang menurut ana sebuah kekeliruan, dan juga menurut para ahli ilmu. Di terima ataupun tidak, itu adalah hak antum, billahittaufiq wa kullu ‘Am wa antum bikhoirin…
—————————-
Wa’alaikumsalam,
Syukran untuk masukannya Saudara Pelajar Al Azhar yang budiman. Senang sekali bisa berkenalan dengan antum, karena saya sendiri masih ada sedikit pertanyaanyang mungkin bisa antum bantu untuk menjawabnya.
Sementara ini, dalill saya bahwa sejarah yang terkait dengan kuburan AB dan Umar itu adalah bagian dari kisah-kisah make belief yang dibuat di era Bani Umayyah.
Sebenarnya, analisa ini berangkat dari kajian kristologi saya dalam nubuat Daniel seputar nubuat antikristus yang insyaAllah kalau sudah selesai akan dipulikasikan. Pertanyaan antum yang pertama sangat tepat? Tapi entah kenapa, sebagian saudara-saudara Muslim yang lain lebih suka membicarakan hal ini hanya di seputar lebel produk ketimbang substansi yang saya sampaikan.
Sehubungan dengan pertanyaan antum yang terkait dengan subyek artikel ini, maka saya berpandangan bahwa politik bani Ummayyah di zamannya, sedikit banyak telah mempengaruhi, atau mungkin lebih tepatnya mendistorsi sebagian sejarah Islam perdana. Dan hal ini bukan tuduhan tanpa argumen. Salah satunya adalah pernyataan Dr. Yusri Abdul Ghani Abdullah di dalam bukunya yang berjudul mu’jam al-muarrikhin al-muslimin: hatts al-Qur’an ats-tsani ‘asyr al-hijri (silahkan antum rujuk). Saya rasa buku ini tidak sulit untuk antum dapatkan di Kairo.
Di bagian muqaddimah, beliau menyebutkan bahwa sedikitnya ada 6 faktor terjadinya proses pengumpulan sejarah permulaan Islam, dan salah satunya adalah: “Adanya kecenderungan sebagian khalifah seperti Muawiyyah bin Abi Sufyan dan Mansur Al-Abbasi untuk memanfaatkan sentiment sejarah dalam mengelola politik mereka.”
Kajian saya belum final dan sederhananya ia berangkat dari tema kristologi seputar nubuat antikristus dan historiografi Islam (sejak era klasik hingga modern), serta dengan melihat fakta bahwa konflik paska wafat Nabi saw, seperti Saqifah dan kasus tanah Fadak itu memang terjadi.
Di samping itu, bukan rahasia bahwa upaya penulisan sejarah Islam pertama kali dan yang diakui, telah diprakarsai oleh Urwah bin Zubair (w. 94 H/712 M). Seorang anak yang berayahkan Zubair bin Awwam dan yang menikah dengan putri Abu Bakar sendiri, yaitu Asma binti Abu Bakar. Lalu pengumpulan selanjutnya dilakukan oleh putranya Usman bin Affan, yaitu ‘Abbana (w. 105 H). Kemudian oleh Wahab bin Munabbih (w. 110 H/728 M) yang konon pernah memiliki hubungan akademis dengan Abu Hurairah. Seorang tokoh perawi hadis yang sedikitnya diketahui memiliki 20an nama dan juga loyalis kepada Bani Umayyah.
Lalu kita juga memiliki sederetan riwayat tentang peran Aisyah atas wafat dan pemakaman Nabi saw. Benarkah Nabi saw telah dikuburkan di dalam rumah Aisyah dan wafat dipelukannya? Mungkin sebelum bisa menjawab hal ini, maka pertanyaan mendasarnya adalah: Benarkah Aisyah memiliki sebuah rumah? Ataukah Nabi saw di kubur di dalam rumahnya sendiri?
Menurut saya sejauh ini, pernyataan-pernyataan bahwa Nabi saw di kubur di rumah Aisyah, lalu riwayat Abu Bakar dikuburkan di sana, kemudian adanya riwayat tentang permintaan Umar kepada Aisyah, maka semua hal itu adalah bagian dari dialog-dialog fiktif yang masih diiringi dengan riwayat upacara penguburan yang proses kejadiannya masih simpang siur. Silahkan anda rujuk sendiri karena proses penguburan Abu Bakar dan Umar bukan satu versi cerita.
Masih ada sisi lain yang mungkin dalam kesempatan ini masih belum bisa saya sampaikan, tapi pertanyaan besarnya, seperti yang saya harapkan antum bisa menjawabnya, adalah: “Siapakah sejarawan Muslim yang pertama kali menyebutkan bahwa kedua makam di sisi Nabi Muhammad saw itu adalah milik Abu Bakar dan Umar? Dan pada tahun berapakah sejarawan itu menuliskannya? ”
Dalam hal ini, analisa saya tidak merunut kepada kajian sanad dari para periwayat saja, seperti nukilan antum perihal pernyataan Adz-Dzahabi yang mana dia sendiri sebenarnya baru muncul sekitar 600 tahun kemudian. Akan tetapi, saya juga menganalisa konteks kronologis periwayatan yang ada di dalam riwayat-riwayat sejarah Islam itu sendiri. Yakni secara komprehensif.
Intinya, perjalanan kajian saya ini memang masih cukup panjang, tapi pewacanaan ini saya tujukan untuk memperoleh masukan positif lain dari berbagai pihak, barangkali dari orang seperti antum sendiri yang mudah untuk mendapatkan buku-buku atau bertanya kepada para pembimbing sejarah di sana.
Salam dan terima kasih.
B’Tul ROMO MUSADEQ Ane setuju ame Nt, Sejarah bekan barang tabu buat di teliti…. WHY NOT ? KITAB SEJARAH bukan KITAB SUCI, MENGUGAT SEJARAH BUKAN MENGGUGAT AGAMA….AGAMA BUKAN SEJARAH & SEJARAH JUGA BUKAN AGAMA….. TETAPI merek KHAMER “UMAR WALKER” akan menjadi SEJARAH….HUEHEHEHE
ID MUBARRAk YA ROMO….Minal a’din wal faa’izin
BUKU ANTUM YANG TERBARU UDAH NONGOL BLOM ?
————————————–
Terima kasih dan salam kenal.
Saya rasa ini adalah kali pertama saya mengomentari antum, karena sejak kemarin komentar-komentar antum sempat membuat saya ketawa-ketiwi sendirian setengah jam sebelum tidur …
Mungkin antum cocok untuk menulis anekdot-anekdot keagamaan jenaka dan barangkali bisa dibuat buku kecil … Kok bisa disambung-sambung kesana … saya benar-benar gak habis pikir …
Terutama untuk menghilangkan fanatisme doktrin yang kini tengah melanda sebagian kecil Muslimin …
Walhasil terima kasih atas dukungan antum terhadap blog saya, minal ‘aidin wal faaizin, mohon maaf lahir dan batin.
assalamualaikum wr. wb.
met sore nih ustadz,
wah ana juga dapat pencerahan ustads, terimakasih, dan al afwu sebelumnya ustads, saya juga setuju dengan antum mengenai mentalitas spiritual dan akhlak yang harus dibangun diantara umat muslim. juga ketika menghadapi nonmuslim. selanjutnya mengenai masalah penghinaan (khusus ini saja) yang mereka lakukan terhadap nabi kita, bagaimana pendapat ustads. ana juga paham, perpektif yang mereka ambil berbeda. tetapi seperti telah kita pahami bahwa tiada yang maksum kecuali para nabi dan ahlulbayt, meniscayakan adanya ‘kesalahan mutlak’ yang berasal dari diri sendiri. seperti mungkin kezaliman terhadap ahlulbayt dari pihak manapun. demikian juga jalan keselamatanpun ternyata tidak mutlak berasal dari ikhtiar diri kita, soalnya ada hadis dari imam Mahdi as, yang kira-kira berisi, bahwa ada kelak sebagian orang islam yang selamat, dikarenakan mereka mencintai Ali bin Abi Thalib as, padahal mereka tidak mengetahui hakikat Ali Bin Abi Thalib as. disini ada keterputusan antara pemahaman ikhtiari dengan realitas, jadi ternyata pemahaman konseptual mampu menjadi gerak ikhtiari, demikianpula arahsebaliknya gerak ikhtiari bisa mensucikan jiwa. Kemudian ada pula pemahaman konsep akan mensimulasi kebaikan, tapi bisa pula kehati-hatian dalam bertindak mengkondisikan pembentukan bangunan konsep dan penyucian jiwa. jadi menurut pandangan saya ciri-ciri dan keutamaan-keutamaan Ar-Rasul SAWW itu sangat kuat, mudah dicari, dan cukup menyentuh kesadaran, itulah yang menyebabkan hampir-hampir fitrah bagi manusia atau makhluk ciptaan Allah yang lain. kemudian adapula para ma’shumin yang ternyata juga menjadi pemimpin bagi umat manusia, mereka memiliki predikat belum pernah menyembah berhala, tentu setelah islam banyak yang kemudian memiliki pemaaman konsep mengenai tauhid, tetapi ternyata kualitasnya tetap berbeda dengan yang belum pernah menyentuh berhala, sehingga hanya ulil amri yang menjadi pemimpin. jadi bagaimana menurut pandangan ustads atas fenomena penghinaan-penghinaan yang menimpa nabi kita (khusus masalah ini saja)
al-afwu minkum lho ustads, karena saya menggunakan analogi-analogi untuk mengekspresikan pendapat, habis susah betul mengungkapkan perasaan itu, ……intinya ini aja kok ustads apakah mereka itu mengingkari hati nurani mereka sendiri atau tida, kalau tidak berarti mereka benar2 tidak mengenal sama sekali Ar-Rasul SAWW.
asalammualaikum
mas anda bilang sy ketika menulis saran ini bersifat emosional ketik sy lihat astagfirullah anda betul bahwa sy emosi ketika itu sy mengakuinya tp tahukah anda kenapa sy emosi karena umar and shabat dihina bahkan sy membaca tentang artikel” about” yg anda tulis seperti nya menyalahkan abu bakar sedangkan anda sendiri tau bahwa seorang katakanlah sunni sangat menghormati abu bakar bahkan rasul sendiri dan allah meridhoi abu bakar serta sahabat yg lain nabi sendiri tlh mengatakan pd ali ” dua orang ini adalah pemimpin ahli surga yg berumur antara 30-50 dr golongan yg terdahulu dan yg kemudian kecuali pr nb dan rasul jang kau beritahukan kpd keduanya hai ali ” {at tirmidzi }lihat silsillah al hadiits ash shahiha 882 dan al jami ashagiir 7005
sedangkan allah berfirma dlm surah al-fath “sesungguhnya allah tlh ridha terhadap orang orang mumin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon”
bukankah sahabat yg dituduh seperti abu bakar dan yg dihina seperti umar ada pd hari itu? apakah kt sebagai umat muslim menutup mata terserah apakah anda mau menanggapinya tau tdk itu adalah hak anda entah mungkin selama ini anda bertaqiyah sm sy atau tdk tp yg tau astagfirullah
Dalam Kitab Al Kafi jilid 2 hal 244 disebutkan sebuah riwayat bahwa sahabat nabi telah murtad kecuali tiga orang saja.
sedangkan Ibnu Babawaih Al Qummi dalam Al I’tiqadat hal 103 mengatakan : keyakinan kami terhadap mereka yang mengingkari imamah Ali dan para imam setelahnya adalah sama seperti mengingkari kenabian seluruh nabi, sedangkan keyakinan kami terhadap mereka yang mengakui imamah Ali dan tetapi mengingkari salah satu imam setelahnya adalah sama dengan beriman kepada seluruh nabi tetapi mengingkari kenabian Nabi Muhammad. sedangkan ketika sy cari secara intensif sy temukan faktabhwa mereka Mengubah isi al quran dengan menambah nambah ayatnya dan membuang sebagian ayatnya, menambah rukun islam dengan wilayah (perwalian) ahlulbait dan sebagainya. maaf kalau anda tersinggung tp ini adalah suatu kebenaran karena sy dapatkan dr kitab syiah sendiri
Demikian pula dengan Iran yang bermazhab Ja’fari 12 imam, negara itu terikat dengan aturan dan ajaran mazhab Syi’ah yang beberapa di antaranya tercantum di atas. di antara praktek mazhab Syi’ah tersebut di atas adalah:
Adanya jabatan wali faqih yang sejalan dengan prinsip imamah. Waliy faqih atau dikenal dengan jabatan pengawas revolusi (mursyid tsaurah) adalah pengganti imam yang belum datang untuk kemajuan umat.
Menindas minoritas Sunni yang tinggal di Iran. 20% penduduk Iran adalah Sunni, biasanya berdomisili di daerah Ahwaz dan Baluchistan. Mereka mengalami diskriminasi dalam segala bidang kehidupan, salah satunya adalah tidak adanya masjid Sunni di kota Teheran. Sehingga muslim Sunni yang berdomisili di Teheran melakukan shalat jum’at di kedutaan Pakistan.
sipa yah yg sebenarnya meendam kebencian ?
sedangkan kebencian sy yg mas katakan adalah berdasar
” orang yahudi berkata “uzayr putra allah” dan orng nasrani berkata ‘ al masih putra allah ‘ demikin itulah ucapan mreka dgn mulut mereka :mereka meniru perkataan orang kfir terdahulu dilaknati allah lah merka bagaimana mereka sampai berpaling ?” { at taubah ;30} apkah laknat itu benci? tdk mungkin dilaknat kalu tdk dibenci ? mungkin anda akan mengatakan pd sy wah tanpa perkatan ulama al quran ini tlh qahti sedangkqn sy cuma memberitahu tentang laknat dan benci sedangkan abdullah bin salam diberitahukan bahwa dia masuk islam betul enggak mas karena beda tuh orang islam dr suku yahudi serta orang yahudi yg agama yahudi? apakahada disebutkan yg tdk terlaknat yg tdk setuju zionis ? tdk tp yahudi and binatang nasrani {al anfal;22} {al anfal ; 55} bahkan sang babi, anjing atau ayam .keledai lebih mulia { qs al arraf ; 7;179} ijma ulama loh mk dari itu diterapkan jizyah untuk melindungi darah binatang itu
jd sy paling takut membenci tanpa dasar kalau pun ada maklum lah manusia sedangkan kebencian sy kira lebih layak ditujukan pd muawiyah karena hujatan dan comment yg tak beradab itu pasti timbul dr hati yg benci tp anda katakan sebuah guyon berarti anda menuduh serta menghina rasul kenapa bukankah yg mentarbiyah mereka rasul menghina serta menuduh serta orang yg dirdohi allah berarti menuduh rasul salah tarbiyah sedangkan maasum yg djaka syiah katakan kpd rasul begini Di Indonesia Nabi Muhammad SAW, Nabi yang menerima wahyu Allah berupa Al Qur’an, pernah bermuka masam kepada Abdullah bin Ummi Maktum. Lalu turunlah ayat-ayat surat Abasa. Namun Syiah marah-marah dan tidak bisa menerima hal itu, karena Nabi –seorang yang maksum- tidak layak untuk bermuka masam pada orang beriman. Hal itu menyelisihi kepatutan yang menjadi kelaziman seorang yang Maksum. Akhirnya mereka pun menghujat Ahlussunah dan menuduh Ahlussunnah Membenci Nabi, karena menuduhnya bermuka masam menghadapi seseorang yang sedang mencari hidayah.Di Indonesia pernah ada sebuah buku yang ditulis oleh seseorang bernama Husein Al Habsyi –telah meninggalkan dunia ini-, yang berjudul Nabi Tidak Bermuka Masam. Saya pernah melihatnya entah kapan dan di mana, saya sudah lupa, tapi saya tidak lupa judulnya. Jika tidak keliru buku itu juga sudah dibantah oleh mantan panglima laskar jihad, Ja’far Umar Thalib, Kita bertanya-tanya ke mana umat syiah saat kaum Muslimin dibantai di Ambon dan Poso, tidak pernah terdengar beritanya, baik dari media massa maupun dari orang-orang yang tempo hari ikut berjihad. bukan kah begitu. seperti perkatan salah satu ikhwan sy tentang syiah Dalam kitab Shahih min Sirati An Nabiy Al A’zham -jilid 3 hal 162- Ja’far Murtadha mengatakan:
Begitulah, tangan-tangan kotor terpercaya sengaja merubah riwayat ini hingga konon Nabi mengatakan: selamat datang, wahai orang yang karenanya saya ditegur oleh Allah, bisa dilihat dalam kitab-kitab tafsir seperti Ad Durr Al Mantsur dan kitab lainnya.
Akhirnya Ja’far Murtadha mengatakan bahwa yang shahih adalah riwayat dari Ja’far As Shadiq bahwa yang berpaling adalah seseorang dari bani Umayah, dalam riwayat itu tidak disebutkan namanya.
Tetapi sayangnya perilaku buruk itu dilakukan juga oleh salah satu imam syiah yang konon maksum, yaitu Ali bin Abi Thalib. Saat itu Ali memanggil Ashim’ bin Ziyad, yang meninggalkan kehidupan dunia dan mengurung diri:
Ashim datang, Ali pun bermuka masam melihatnya, dan berkata: Apakah kamu tidak malu pada keluargamu? Apa kamu tidak kasihan pada anakmu…..
Nahjul Balaghah Khutbah 167
Tafsir Nur Ats Tsaqalain jilid 5 hal 189
Wasa’il Syiah jilid 5 Bab Dibenci bagi orang yang berkeluarga untuk berpakaian kasar dan mengasingkan diri dari kehidupan dunia.
Majma’ul Bayan jilid 5 hal 88
Thaharatul Maulid 261 – 267 isi kitab syiah lebih banyak dari penulis kitab sejarah Nabi di atas – Ja’far Murtadha- yang menulis 10 jilid tentang sejarah Nabi. Begitulah ulama syiah, belum banyak menelaah sudah sok menulis buku. Atau Ali boleh bermuka masam namun tidak demikian halnya Nabi?
tentang afghanistan
yg anda tuduhkan mereka adalah sekelompok petani yg mengalahkan uni sovyet walaupun mereka dituduh bersama amerika sungguh ustadts sy adalah mujahid afghan jd sy maaf bukan sombong sy rasa informasi yg sy dapatkan lebih bs dipertanggung jawabka lagipula sebuah negara miskin serta kecil yg orangnya seperti yg mas bilang terbelakan tp sang beruang mundur dgn ketakutan sekarang sang pelacur amerika yg mendapat giliran sang tentara salib itu yg akan mulai hitung mundur kehancurannya mau tau kenapa mereka adalah bangsa yg dari dulu sering terlanda perang sedangkan iran dan afghan Dalam wawancara dengan sebuah Majalah , Mantan Wapres Iran Ali Abtahi dengan bangga mengatakan : “ jika bukan karena bantuan teheran, kabul dan baghdad tak akan dapat ditaklukkan”. Pernyataan ini menyingkap hakekat peran Iran dalam mengalahkan dua negara tetangga yang di kuasai Sunni. Afghanistan yang terakhir berada di bawah pemerintahan Taliban, hampir terlibat perang ketika Taliban berhasil menguasai Mazar Syarif dan membunuh anggota misi diplomasi Iran yang terbukti melakukan kegiatan mata-mata. Akibatnya kedua negara menggelar pasukan di perbatasan dan hampir terlibat perang. Tetapi Allah tidak menakdirkan perang terjadi. Permusuhan terhadap Taliban tidak begitu saja hilang, terutama karena Taliban adalah penganut Sunni yang di anggap “menindas” penganut Syi’ah di Afghanistan, dan berpotensi mengancam Iran. Akhirnya ketika Amerika berniat menyerang Taliban, Iran ikut membantu dan ikut senang, karena musuhnya hancur tanpa Iran harus mengeluarkan satu butir peluru. Begitu pula Iraq yang terlibat perang berkepanjangan pada dekade 80an, masih berpotensi mengancam Iran dan luka akibat perang masih belum kering dari ingatan . Maka ketika Amerika berniat menyerang Iraq, Iran pun ikut bergembira karena satu lagi musuhnya dihancurkan oleh Amerika. Ditambah lagi Iran memiliki perhatian khusus terhadap Iraq sebagai sebuah negara bermazhabkan Syi’ah imamiyah. Hal itu karena hampir seluruh tempat suci kaum Syi’ah berada di Iraq. Maka Iran sangat berkepentingan untuk menguasai Iraq melalui kaum Syi’ah yang memegang tampuk kepemimpinan politik setelah Saddam “lengser” oleh Amerika.
Sempat keluar fatwa dari ulama Syi’ah di Iraq –Ali Sistani- yang mengharamkan berjihad melawan Amerika. Memang tidak semua Syi’ah mendukung penjajahan Amerika, tetapi yang nampak di lapangan adalah adanya dua faksi besar yang memiliki laskar dan membantu Amerika melawan Mujahidin. Dalam aksinya laskar Syi’ah yang bernama tentara mahdi dan milisi badar melancarkan aksi pembersihan etnis terhadap ahlussunnah, tentunya dengan sponsor pelatihan dan amunisi dari Iran dan dukungan pemerintah Syi’ah yang berkuasa di Iraq. Tragedi bosnia terulang lagi, tetapi kali ini terjadi di Baghdad, di negeri yang pernah menjadi Ibukota Islam di masa lalu. Masjid Sunni diserang, Al quran dirobek-robek, jamaah masjid dibantai, menjadi peristiwa harian, hingga kita bosan mendengarnya. Tetapi media massa tidak begitu gencar meliput peristiwa ini sehingga kita yang berada di Indonesia tidak banyak mendengarnya. Berita pembantaian yang dilakukan Syi’ah terhadap Ahlussunnah di Iraq kalah oleh berita ramainya pertikaian antara Iran dan Amerika karena aktifitas Nuklir Iran, yang sampai saat ini baru sampai pada tahapan “perang mulut”, sehingga kaum Muslimin Sunni di Indonesia dengan gegap gempita mendukung Iran yang tangannya berlumuran darah kaum Sunni di Iraq, sehingga darah kaum Sunni begitu saja mengalir tanpa pernah diprotes oleh kaum Muslimin di Indonesia. Kaum Muslimin –termasuk mereka yang dipandang sebagai tokoh- ikut mendukung Iran yang secara langsung maupun tidak langsung membantai Ahlussunnah di Iraq. Ini adalah hasil dari praktek taqiyah ditambah sifat lugu dan polos yang ada pada kaum Muslimin di indonesia. Seharusnya dengan menelaah literatur Syi’ah sudah cukup untuk menentukan sikap terhadap Iran, apalagi ditambah dengan pembantaian yang dilakukan Syi’ah –dibawah naungan Iran- terhadap kaum Muslimin Sunni. Tokoh-tokoh muslim Indonesia begitu mudah menerima masukan dari para pengikut Abdullah bin saba’ sehingga mereka terperangkap dan menjadi korban praktek taqiyah yang dilancarkan Syi’ah di sekitar mereka sendiri.
Disebutkan di atas bahwa Iran membantu Amerika dalam menjajah Iraq dan Afghanistan. Padahal sebenarnya yang terjadi adalah Iran membantu Amerika untuk mengepung dirinya sendiri. Sebelum menduduki Iraq dan Afghanistan, Amerika telah menempatkan pangkalannya di negara sekitar Iran. Pangkalan Amerika telah dibangun di Tajikistan, Uzbekistan, Turkmenistan, Kuwait, Arab Saudi, Qatar dan Emirat Arab, sehingga mengepung Iran dari segala penjuru. Pangkalan militer Amerika hanya belum ada di Iraq dan Afghanistan, tetapi hari ini pasukan Amerika telah menempatkan pangkalannya di Afghanistan dan Iraq. Iran telah terkepung dari segala penjuru. Bulan lalu Amerika menempatkan beberapa kapal induk di teluk Persia, sebuah manuver yang rutin ketika hendak memulai serangan ke sebuah negara. Tetapi serangan ke Iran masih spekulasi, melihat Iran sebagai anak baik hanya sedang emosi.
Iran berhasil memiliki proyek pengembangan nuklir, namun nuklir menjadi amat berbahaya ketika berada di tangan penganut mazhab Syi’ah yang memiliki keyakinan-keyakinan “menakutkan” seperti diulas di atas. dalam dunia internasional, senjata nuklir lebih memiliki fungsi bargaining bagi sebuah negara, artinya sangat jarang digunakan dalam perang terbuka. senjata nuklir yang dimiliki menjadi ancaman bagi negara sekitar. Kebetulan negara di sekitar Iran adalah negara-negara Sunni. Ditambah lagi sikap Iran yang tidak kooperatif terhadap inspeksi yang dilakukan badan atom dunia, semakin memperbesar kecurigaan dunia terhadap proyek nuklir Iran yang katanya bertujuan damai. Apakah kali ini pemerintah Iran bertaqiyyah? Melihat ancaman bagi yang meninggalkan taqiyah di atas, tentunya pemerintah Iran tidak ingin terkena laknat akibat meninggalkan taqiyah. Maka dapat dikatakan bahwa Iran sedang “mentaqiyyahi” dunia. Amat wajar jika negara-negara arab amat gelisah ketika Iran mengembangkan nuklir.
mohon maaf kalau menjadi seorang politikus informasi ini sy dapatkan dr pr ikhwan dan sy cari sendiri
sedangkan masalah taqiyah sebetulnya yg anda bilang gak nyambung itu sy ingin memberikan sedikit apresiasi sy tentang taqiyah yg sy dapat dr berbagai informasi tp karena berbagai hal sy lupa bagaimana dan terhambat emosi yg anda bilang ketika membaca saran dr muawiyah yg anda bilang pelawak astagfirullah
11 imam itu disebut juga sebagai salah satu dari tsaqalain (dua pusaka) yang harus diikuti oleh orang muslim. Pusaka satu lagi adalah Al Qur’an. Selain ucapan ahlulbait, kitab-kitab itu juga memuat penjelasan-penjelasan ulama syiah, yang juga harus diikuti karena status ulama menjelaskan ayat-ayat Al Qur’an dan ucapan ahlulbait di atas. Tapi belakangan ulama syiah naik pangkat menjadi wakil imam ma’sum (yang juga ma’dum = tidak ada) untuk mengatur kehidupan keberagaamaan para penganut syiah.
Tetapi buku-buku yang memuat ajaran syiah itu hampir seluruhnya susah diakses. Terutama buku-buku yang memuat ucapan-ucapan ahlulbait, sumber legalitas bagi syiah selain Al Qur’an, sehingga kita hanya mengetahui ajaran syiah dari mulut-mulut pengikutnya atau dari buku-buku yang ditulis oleh ulama masa kini dan tidak memuat langsung ucapan ahlulbait. Ini menimbulkan kerancuan, di satu sisi orang akan mengira bahwa itulah sebenarnya mazhab syiah, tetapi ada golongan lain dari umat Islam yang berkesempatan untuk mengakses ke kitab-kitab induk syiah dan mendapati ternyata ucapan dari penganut syiah tentang mazhabnya ternyata tidak sesuai dengan isi kitab-kitab itu. Perlu diketahui bahwa kitab-kitab syiah itu memuat ajaran-ajaran yang tidak pernah didapat dalam Al Qur’an serta sabda Nabi SAW. Di sini umat dibuat bingung, akhirnya diadu domba. Ini karena adanya sebagian umat yang celakanya mereka adalah kaum intelektual tetapi terjangkit penyakit lugu dan polos. Mereka begitu saja percaya dengan ucapan-ucapan penganut syiah yang berpropaganda tentang ajarannya tanpa ingin mengecek ke sumber asli.
Mereka berbenturan dengan orang-orang yang ikhlas ingin mengingatkan umat akan ajaran yang tidak sesuai dengan Al Qur’an dan sabda Nabi SAW. Akhirnya umat pun diadu domba. Lebih berbahaya lagi bahwa mereka adalah kaum intelektual yang didengar suaranya di masyarakat. Kasihan masyarakat yang terbius oleh “angin surga” baik yang dilontarkan oleh penganut syiah maupun dari intelektual yang lugu lagi polos –tapi intelek-.
Tidak ada yang aneh jika kita melihat fenomena “intelek tapi lugu”, karena sikap lugu mereka tertipu oleh angin surga dari da’i-da’i syiah. Tetapi yang patut dicermati adalah penganut atau ustadz-ustadz syiah, mengapa mereka terkesan menutupi isi riwayat-riwayat dari ahlulbait? Mengapa ucapan mereka berbeda dengan apa yang tercantum dalam buku-buku riwayat-riwayat ahlulbait? Apakah mereka sengaja ingin menyembunyikan riwayat ahlulbait atau mengapa? Ini yang barangkali terlintas pada benak kita. Ataukah riwayat itu hanya diperuntukkan bagi kalangan khusus yang sudah dianggap layak untuk mengaksesnya? Apa pun jawabannya, kitab-kitab syiah sudah bukan barang langka lagi, mereka yang benar-benar ingin pasti akan dapat menemukan dan mengaksesnya, meskipun para ustadz syiah mencoba sekuat tenaga untuk menyembunyikan.
Sebagai misal, anda tidak akan mendengar penganut atau ustadz syiah menukil riwayat di bawah ini:
Dari Abu Abdillah –Ja’far Ash Shadiq- mengatakan: Ambillah harta orang nashibi di mana saja kamu dapatkan, lalu bayar seperlimanya pada kami.
Riwayat ini terdapat dalam kitab