Kopi Darat Bersama Tuhan Di Cosmos Cafe [Bagian Ke-1]

 

cosmoscafe.jpg
Saya: Salam Bos! .. Wah Anda selalu dicari-cari, tapi sulit yaa …
Bos: “Ya … pasti gak ketemu donkz!
Karena mereka tidak menghubungi saya lewat kantor akal, tapi malah ke kantor nafsu … Sudah saya beri fasilitas kok gak dipergunakan…!
Saya: Pelayan! Dua hot Cino yaa…!”

 

Pertanyaan:

Benarkah alam semesta ini ada penciptanya, ataukah ia terwujud dengan sendirinya?

Jawab:

Ada sebuah kisah yang menyimpan hikmah. Pada suatu hari, ada dua orang yang berdiskusi tentang Tuhan. Orang pertama percaya kepada adanya Tuhan, sedangkan yang kedua menolaknya. Diskusi itu hampir saja berubah menjadi perdebatan. Namun saat itu, orang pertama (yang beriman kepada Tuhan) segera meredakan situasi, karena dia hanya ingin menyadarkan pandangan temannya yang keliru, karena menganggap Tuhan itu tidak ada. Dia berkata: “Sekarang sudah larut. Besok siang kamu ke rumah saya saja, sekaligus makan siang di rumah,” kata orang pertama. Tawaran itupun langsung diterima oleh orang kedua yang masih bersikeras dengan berkata bahwa Tuhan itu tidak ada.

Keesokan siang harinya, orang kedua segera bertandang ke rumah orang pertama, sesuai jadwal yang mereka tetapkan. Dan setelah disapa untuk masuk ke rumah, orang pertama itu langsung menyambut sahabatnya dengan senyum dan mempersilahnya untuk duduk di meja makan. Tanpa rasa curiga, orang kedua itu segera pergi ke arah meja makan. Namun dia sangat terkejut! karena melihat seluruh meja makan telah dipenuhi dengan berbagai jenis masakan yang sangat banyak. Dia berkata kepada orang pertama: “Kita cuma berdua, tidakkah porsi makanan ini agak berlebihan. Atau apakah kamu mengundang orang selain saya?” Tapi, orang pertama itu tidak menjawabnya dan sekali lagi, hanya membalasnya dengan senyuman.

Meskipun merasa heran, tapi orang kedua hanya bisa bersabar dan berharap dia akan memperoleh penjelasan atas pertanyaannya itu dari orang pertama. Setelah beberapa saat, orang pertama keluar dari dapur dan kembali membawa senampan makanan lain. Orang kedua itu semakin keheranan! Tapi kali ini, dia enggan untuk bertanya dan berharap temannya akan memberikan penjelasan. Tapi bukannya menjelaskan, tiba-tiba orang pertama hanya berkata: “Ayo! Silahkan dicicipi masakannya.” Karena takut dianggap kurang sopan, maka orang kedua langsung mencicipi makanan tersebut. Setelah beberapa saat, tiba-tiba orang pertama itu bertanya: “Bagaimana masakannya, apakah enak? Orang kedua dengan sungkan menjawab: “Sungguh luar biasa! Enak sekali”

Saat itu, terjadilah sedikit tanya-jawab di antara kedua orang tersebut.

Orang kedua itu ingin basa-basi sambil bertanya: “Apakah kamu yang telah memasak seluruh masakan ini?”

Jawab orang pertama dengan tenang: “Tidak, bukan saya yang memasaknya.”

Setelah orang kedua merasa heran dengan melihat masakan yang begitu banyak, kini dia keheranan lagi, terutama karena jawaban yang telah diberikan oleh orang pertama. Sebab, orang kedua itu tidak melihat ada orang lain di rumah tersebut.

Lalu orang kedua itu bertanya lagi: “Apakah kamu membeli seluruh masakan ini?”

Jawab orang pertama: “Tidak, saya tidak membelinya.”

Karena orang kedua mulai kesal dan juga semakin heran atas jawaban dari orang pertama, lantas dia berkata kepada orang pertama.

Orang kedua: “Apabila kamu tidak memasaknya, dan tidak membelinya, dan saya juga tidak melihat ada orang lain yang membantu anda memasak, lalu siapakah yang membuat seluruh makanan ini?”

Kembali orang pertama itu menjawab dengan tenang: “Wah…saya sendiri tidak tahu! Sebab, tadi pagi saya mendengar suara gaduh di dapur dan mungkin saja seluruh masakan yang enak ini telah terjadi dengan sendirinya,” katanya.

Mendengar jawaban itu, orang kedua pun langsung tertawa dan berkata: “Mana mungkin masakan yang enak ini bisa terjadi dengan sendirinya? Kamu pasti melawak, tambahnya”

Jawab orang pertama: “Sungguh aneh! Hari ini kamu merasa heran dan tidak percaya dengan kemunculan masakan ini—secara tiba-tiba! Padahal, luasnya hanya semeja. Tetapi kemarin, kamu bersikeras dengan mengatakan kepada saya bahwa alam semesta yang lebih luas dan lebih besar dari makanan semeja ini, kamu bilang bisa muncul dengan sendirinya?” Kemudian orang pertama menambahkan lagi: “Kalau makanan yang luasnya hanya semeja, sudah mengharuskan adanya juru masak, lantas bagaimana dengan jagad raya yang luas dan teratur ini? Mungkinkah ia terjadi dengan sendirinya dan tanpa sebab? Mungkinkah alam semesta ini terwujud tanpa ada Pencipta?”

Saat itu, orang kedua terkejut dengan pernyataan dari orang pertama, dan dia menyadari kekeliruan berpikirnya selama ini.

Orang kedua tertegun sejenak lalu berkata: “Ucapan kamu itu benar, selama ini saya telah keliru dalam berpikir dan telah menyombongkan diri sendiri….Padahal, saya tidak mampu mengetahui siapakah orang yang telah menyiapkan makanan anda yang luasnya hanya semeja, lantas bagaimana mungkin saya bisa mengingkari Sang Pencipta atas alam semesta yang luas ini? Sungguh! Saya telah bersikap tidak adil kepada Tuhan saya dan juga kepada diri saya sendiri.”

Kisah di atas menyimpan hikmah yang sangat dalam. Pengetahuan tentang adanya Tuhan merupakan perkara yang badihi (yakni, suatu kesadaran di jiwa yang tidak memerlukan proses berpikir dalam-dalam). Walaupun demikian, ia tetap membutuhkan kesadaran dasar, yakni mampu bersikap adil kepada dirinya sendiri. Dia harus menyadari bahwa dia hanyalah seorang makhluk yang tak berdaya, serba membutuhkan, serba kekurangan dan tidak mampu bergantung secara penuh kepada dirinya sendiri.

Untuk itu, dia membutuhkan udara untuk bernapas, air untuk minum, tumbuhan untuk kebutuhan pangan, rumah untuk bernaung dan orang lain untuk menghibur kesendiriannya. Namun dibalik semua kebutuhan yang bersifat jasmani, maka setiap orang juga memiliki perasaan dan kemampuan untuk berpikir alias potensi-potensi ruhani. Dia memiliki kemampuan untuk mengetahui dan memahami, serta menimba berbagai pengalaman untuk memperbaiki kehidupannya. Semua potensi itu tidak nampak secara fisik, tapi suatu rasa yang ada di lubuk sanubarinya. Salah satu rasa, atau titik tolak kesadaran yang ada di dalam diri manusia adalah rasa keinginanya untuk mengetahui segala sesuatu. Hal ini bisa kita saksikan sendiri pada anak-anak balita sekalipun. Yakni, ketika dia mulai menjamah segala hal yang ada disekitarnya dan menanyakan berbagai persoalan setelah mereka mampu berbicara. Sejak bayi, seorang anak sudah mampu membedakan mana ibu dan ayahnya, dan mana yang bukan.

Inilah kesadaran fitri manusia, potensi ini ada di dalam diri kita sejak kemunculan kita pertama kali di alam dunia ini. Kesadaran manusia tentang keberadaan Tuhan juga merupakan salah satu potensi yang bersifat fitri. Dan hanya dengan sedikit merenung, maka dia akan mampu membuktikan bahwa alam semesta yang luas ini, pasti ada Penciptanya, dan mustahil alam ini bisa ada tanpa ada yang menciptakannya.

Artinya, kesadaran tentang adanya Pencipta adalah perkara yang tidak mungkin bisa dinafikan oleh setiap manusia. Sebab, bila kita menafikan kesadaran itu, maka secara otomastis, kita akan menafikan adanya hukum sebab-akibat yang bekerja di alam semesta. Padahal, ia (hukum itu) merupakan prasyarat utama bagi manusia di dalam memahami segala persoalan di kehidupan. Bahkan ilmu-ilmu seperti sains dan filsafat menyatakan bahwa alam semesta bekerja atau berjalan sesuai dengan hukum sebab-akibat.

Jika demikian kondisinya, lalu mengapa masih ada manusia yang mengingkari keberadaan Sang Pencipta? Persoalan pengingkaran kepada Sang Pencipta sebenarnya tidak pernah ada. Hal ini persis seperti yang pernah dinyatakan di dalam Al-Qur’an sendiri:

Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: ‘Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?’ Tentu mereka akan menjawab: “Allah”, maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar).” (QS. Al-Ankabut: 61)

“Dan sesungguhnya jika kamu menanyakan kepada mereka: ‘Siapakah yang menurunkan air dari langit lalu menghidupkan dengan air itu bumi sesudah matinya?’ Tentu mereka akan menjawab: ‘Allah’, Katakanlah: ‘Segala puji bagi Allah’, tetapi kebanyakan mereka tidak memahami(nya).” (QS. Al-Ankabut: 63)

“Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: ‘Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?’ Tentu mereka akan menjawab: ‘Allah’. Katakanlah: ‘Segala puji bagi Allah’; tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (QS. Luqman: 25)

“Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: ‘Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?’, niscaya mereka menjawab: ‘Allah’. Katakanlah: ‘Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemudharatan kepadaku, apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudharatan itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat menahan rahmatNya? Katakanlah: ‘Cukuplah Allah bagiku’. Kepada-Nyalah bertawakkal orang-orang yang berserah diri.” (QS. Az-Zumar: 38)

“Dan sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka: ‘Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?’, niscaya mereka akan menjawab: ‘Semuanya diciptakan oleh Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui’.” (QS. Az-Zukhruf: 9)

“Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: ‘Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab: ‘Allah’, maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah )?” (QS. Az-Zukhruf: 87)

Maksudnya, secara umum orang-orang atheis (sebutan untuk kelompok manusia yang mengingkari Tuhan) hanya mengingkari kesiapaan Tuhan, dan bukan mengingkari keberadaan Tuhan. Dan seperti telah dikatakan sebelum ini dan juga sebagaimana dijelaskan di dalam Al-Qur’an bahwa semua manusia, secara umum, tidak mungkin bisa mengingkari adanya hukum sebab-akibat. Alasannya, kesadaran berpikir ini hanya bisa hilang bila jiwanya terganggu, seperti misalnya ketidakwarasan.

Namun, pengingkaran kaum atheis kepada Sang Pencipta, sebenarnya, bukan seputar persoalan “apakah” alam semesta ini tercipta tanpa Penyebab? Melainkan mereka mengingkari siapakah Tuhan Semesta Alam itu? Artinya, pengingkaran mereka terjadi pada level siapakah Tuhan? Dan bukan adakah Sang Pencipta (Tuhan) itu?

Dengan demikian, pengingkaran kaum atheis terkait dengan penolakan mereka terhadap mengenal Tuhan (atau makrifatullah), dan bukan menolak keberadaan-Nya. Sebab, perkara kesadaran adanya Sang Pencipta—di dalam diri setiap manusia—adalah persoalan rasional atau logis dan hanya memerlukan proses berpikir yang sederhana (badihi).

Satu Tanggapan

  1. Salamun ‘alaikum Ustad ,
    Ahzantum ……..sangat bagus sekali , dan menambah wawasan ana al fakir Ilm dalam menghadapi pertanyaan serupa kelak.

    Bihaqqi Muhammad wa’alih

    DRA

    —————————————————-

    Wa’alaikumsalam wa rahmah,

    Jazakallah kheir. Syukran. Mohon doanya juga.

Tinggalkan Balasan