“Apa Iya Allah Punya Kaki dan Betis?!”

Saya agak kaget ketika menerima email dari seseorang tentang beberapa hadis aneh yang “konon” telah disahihkan oleh beberapa pencatat hadis kelas pertama Sunni, seperti Sahih Bukhari, Sahih Muslim, Sunan Tirmudzi, Musnad Ahmad, dan kitab-kitab tafsir seperti al-Tabari, Ibn Katsir dan Suyuti.

Hadis pertama mengatakan bahwa Allah punya “Kaki” sementara yang kedua menyatakan bahwa Allah punya “Betis”. Saya jadi ngakak sendiri saat membaca, dan membayangkan hal-hal yang … dan punya resiko berdosa. Tapi hadis-hadis ini sungguh super aneh dan saya tidak paham mengapa kok bisa lolos seleksi kesahihan dari pakar-pakar hadis tersebut … ?!

“Kaki Allah”

Abu Hurairah meriwayatkan daripada Nabi saw:

“Syurga dan neraka bertengkar, masing-masing ingin membuktikan siapakan yang lebih hebat daripada yang lain. Neraka berkata: ‘Aku mempunyai keistimewaan dengan masuknya orang-orang yang sombong dan berkuasa.’ Syurga berkata: ‘Aku tidak tahu mengapa hanya orang yang lemah dimasukkan ke dalamku.’ “Maka Tuhan berfirman kepada surga: ‘Engkau adalah rahmatKu, dan melalui engkau Aku menunjukkan rahmat kasih-sayangku terhadap hamba-hambaKu.’ Dan kemudian Dia berfirman kepada neraka: ‘Engkau adalah kemarahanKu, dan melalui engkau Aku menghukum orang-orang yang akan Aku kenakan hukuman. Setiap daripada kalian akan dipenuhi.’ Tetapi neraka tidak akan penuh, maka Allah memasukkan kakiNya ke dalamnya (neraka). Kemudian neraka berkata: ‘Cukup! Cukup!’ Maka dengan cara ini neraka akan penuh, kerana Allah tidak menyalahkan sesiapapun. Maka kepada surga pula, Dia akan masukan makhluk yang baru untuk memenuhkannya.”

“Betis Allah”

Dalam Sahih Bukhari, Mustadrak oleh al-Hakim, Tafsir Tabari, Ibn Kathir dan Suyuti, kami dapati hadith-hadith yang menyentuh tentang “betis” Allah. Dalam ayat berikut: “Pada hari betis disingkapkan dan mereka dipanggil untuk bersujud, maka mereka tidak kuasa.” (Al-Qalam: 42)

Abu Sa’id, salah seorang sahabat Nabi saw berkata beliau mendengar Nabi saw berkata:

“Tuhan Kami akan menyingkapkan betisNya, kemudian setiap orang Mukmin dan mukminah akan berlutut di hadapanNya, kecuali mereka yang menyembahNya di muka bumi hanya untuk menunjuk-nunjuk atau untuk menarik minat orang lain supaya suka kepadanya maka mereka ini tidak akan dapat melutut dan akan kekal dalam keadaan tegak berdiri.”

Hadith ini telah diriwayatkan secara terperinci oleh Bukhari dalam Bab Tauhid; kami kutip secara ringkas disini.

“Akan diseru pada Hari Pembalasan: Setiap orang akan berbaris di belakang sembahan-sembahan mereka. Maka orang ramai akan berkumpul di belakang tuhan-tuhan mereka, kecuali penyembah-penyembah Allah akan tetap teguh berdiri menungguNya.Kemudian Allah akan muncul dan bertanya kepada mereka: ‘Adakah anda mempunyai satu tanda pengenalan di antara kamu dengan Allah yang akan membolehkan kamu mengenaliNya?’ ‘Ya, mereka akan berkata: “Betis”. Kemudian Allah akan menyingkapkan BetisNya, apabila melihat hal ini orang-orang Mukmin akan sujud dan akan mengikutNya ke surga.”

25 Tanggapan

  1. mungkin tidak diartikan secara harfiah
    wallahua’lam

  2. Abu hurairah sih… :)

  3. lho bukankah salah satu sifat ALLAH tidak sama dengan ciptaaNYA? ASTAGFIRLLAH HAL’AZHIIIM.gak sopan membicarakan ALLAH dalam masalah begini.

  4. Maha suci Allah dgn.segala sifat yg bahru…kalo kamu beranggapan bahwa tangan, atw kaki, atw apapun kepunyaan Allah sama spt.makhlukNYA, berarti ke-islam an kamu mesti diprtanyakan ? Astagfirullah wa atubu ilaih..Smoga Allah memberikan hidayahNYA selamanya pd umatNYA

    Wah, pernyataan anda menarik juga … Jadi apakah anda ingin mengatakan kepada saya bahwa Allah itu sebenarnya punya tangan, kaki tapi bedanya, semua itu (yakni tangan, kaki dan betis Allah itu) tidak sama seperti makhluk-Nya? Maksudnya begitu Mas.

  5. Bener kata Rusman, Abu Hurairah sih…
    Berarti kita musti berhati-hati dalam meyakini kesahihan hadits.. Memang sudah saatnya kita mencari KEBENARAN YANG HAKIKI… bukan sekedar BENAR… (keBENARan) apalagi BETUL… (keBETULan… donk…)

  6. Wah,baru tahu saya kalau ada hadis2 kayak gini.

  7. wah tuh orang aneh punya.suer gw emank gak muslim abis alias suka bolong sholat n suka ndablek ama perintah n aturan Allah.tapi suer gw gak setuju sama siapa pun yang seolah menggunakan dalil apapun bwt nyamain ALLA ama mahluknya.kayana tuh orang meski tes IQ n cek otak siapa tahu otaknya ketinggalan di toilet.upz sorry ya yang tersinggung.bwt gw”want to journey to heavent.see AL-quran for detil”upz sory lagi sok uztadz ya.sory

  8. [...] diatas seolah-olah ringan sekali diucapkan oleh seorang blogger sewaktu saya blogwalking  di [...]

  9. lho…tuhan itu juga punya mata, tangan dan sebagainya….

  10. pencipta tidak sama dengan ciptaannya..

    manusia pencipta mobil

    apakah manusia sama dengan mobil?

    hadits tersebut jangan ditelan bulat-bulat, karena mengandung makna kiasan..

    wallahu a’lam..

    Oh gitu ya Mas, kalo kiasan Kaki Allah dan Betis Allah itu kira-kira apa ya Mas? Mungkin jawabnya wallahu’alam … :lol:

  11. Memang benar pencipta tidak sama dengan yang dicipta, tapi manusia tidak punya roda sementara mobil tidak punya kaki…

    jadi nggak nyambung yaa…. :D

  12. Allah memiliki segalanya ….

    Salam kenal Mas, tapi menurut ilmu saya yang terbatas ini, pernyataan mas Zaid mungkin belum tepat. Saat ini saya tahu setidaknya ada dua hal yang Allah tidak punya

    Yang nisbi itu kita semua.
    Jangan punya perasaan dan sangkaan yang berlebihan terhadap “keinginan” mensucikan Allah, tapi malah “ke-blinger”. Ke”bablasan”.

    Kenapa kita yakin kalo kita ini “real” ?

    Coba jelaskan Mas. Saya mau belajar juga kok.

    Kenapa musti yakin kalo Allah itu beda sama kita, dengan standar pembedanya adalah kita ?

    Karena Al-Qur’an yang mengatakannya Mas. “Laisa kamitskihi syai’un” Allah tidak memiliki kesepertian dengan apapun juga

    What ‘de …. ?
    Memangnya kita ini standar untuk menghukumi yang Universal ?

    Kalau kita tidak standar untuk menghukumi yang Universal, lantas mengapa Mas Zaid tahu bahwa yang Universal itu ADA.
    Jika sesuatu yang Mas Zaid sudah nyatakan ADANYA, tapi menurut Mas Zaid itu belum menghukuminya, lantas namanya apa?

    Allah PUNYA “Kaki”, “Tangan”, “Mulut”, “Kepala”, dst……apa saja yang kita semua TUNJUK. Tentu dalam dimensi “Ke-tak-terbatasan”.

    Jika Allah punya “Kaki”, “Tangan”, “Kepala”, dan seterusnya berarti Allah punya kesepertian dengan makhluk.
    Lantas bedanya Islam dengan penyembah berhala apa (maaf)?
    Padahal Al-Qur’an mengatakan bahwa Allah itu laisa kamitslihi syai’un. Allah itu tidak punya kesepertian apapun dengan makhluk.
    Apa maksud Mas Zaid bahwa Allah punya semua itu, tapi dalam dimensi ketakterbatasan.
    Mas, jika dimensi ketakterbatasan itu ada dan Allah adanya disana, berarti dimensi ketakterbatasan lebih besar dari Allah sendiri.

    Sekali lagi jangan alergi kalo Allah punya segalanya.

    Ketika Mas katakan bahwa Allah punya segalanya, saya jadi ingat Imam Ali as yang pernah ditanyakan hal ini, dan beliau katakan “TIDAK”, karena ada dua hal yang setidaknya Allah tidak punya, yaitu isteri dan anak. Ketika Mas Zaid katakan bahwa Allah punya segalanya dan saya tidak perlu alergi dengan itu, maka saya katakan bahwa saya sangat alergi dengan ucapan itu. Maaf, mungkin kita tidak sependapat pada hal itu.

    Sementara Bukhari, Muslim dst yang memuat riwayat2 itu……sama seperti mereka….KE-BABLASAN. Kurang isi di kepala, dan asal “cangkem” dari longgarnya batas-batas periwayatan sejumlah kelompok Islam. Maklum slogan “khusnudzan” abad itu kental banget, jadi tukang sapu jalan, tukang pasir basah, tukang batu “lembek”, tukang “Harrat” semua boleh kasih hadits. Mungkin juga para periwayat dan yang memasukkan literatur2 tersebut, malemnya kalah judi terus “Mabok bae”.

    Percaya mas Zaid. Untuk itu saya katakan bahwa hadis ini aneh sekali dan maksain banget gittooe loh…

    (Mereka Anti Epistimologi, Anti Filsafat, … tidak selalu fideisme vis a vis efidensialisme)

    Setuju dengan Moderator, Haditsnya biki Hebooohhh (dari dulu gak di buang2), kita panggil tukang bersih2 dari Saudi–soalnya dananya “luber”–, buat ngilangin hadits model gitu di seluruh dunia. Was that possible ? You’ll busy on that !!

    Terima kasih Mas Zaid.

  13. Maksudnya gini…

    Segala hal yang terlintas dalam kaidah2 dimensional, pasti bukan Tuhan,…
    Bahwa Allah jelas tidak memiliki anak dan Istri …. apalagi orang tua, jelas keliru.

    Maksud dan isi tanggapan saya sebelumnya jelas dalam konteks hadits dalam “kitab Enam-nya” Ahlu Sunnah.

    Pendekatan “mamlukiyah” terhadap Allah jelas keliru, namun gambaran terdekat yang masih mungkin dicari dari pemikiran kita (yang makhluk) terhadap Tuhannya, sulit di tepis dalam kaidah2 rasional. (Secara deterministik tidak mungkin, namun masih bisa diterima sebagai sebuah ke-maujudan akal tentang Tuhan dan segala hal yang “lebih luas”)

    Jadi,
    Coba2-nya bukhari dan temen2nya, kelihatannya buruk, tapi rasa “penasaran” tentang Tuhan gaya mereka, yahhhh…..elementer dibandingkan “Sadr Mutha’alihin” bahkan antum mas moderator…he…he…..

    Heemm … agaknya anda mau mengatakan bahwa hadis ini ternyata telah membuat wajah anda termesem-mesem juga seperti saya.
    Menurut saya, prinsip Tanzih dan Tasybih itu sudah jelas, sedangkan hadis ini tetap lucu menurut saya.
    Sejujurnya, saya tidak tahu apakah Sadra akan ikut termesem-mesem juga saat membaca hadis ini … he … he … ;)

  14. Assalaamu’alaykum..

    “Fasaluu Ahladzdzikri in kuntum laa ta’lamuun”
    (Maka bertanyalah kepada yang memiliki pengetahuan (‘Ulama) jika kalian tidak mengetahui)

    itu adalah sepenggalan dari Firman Alloh ‘Azza wa Jalla. Dalam ilmu agama terdapat ilmu2 yang berkaitan dengan Bahasa seperti ; Nahwu, Shorof, Balaghoh, Mantiq, dll. Jadi tanyakan saja kepada ‘Ulama yang memiliki kapabilitas dalam hal ini. Baru di post lagi oleh antum. Klo kita main cerna sendiri2 jadinya malah akan semakin jauh dari pengertian yang sebenarnya.

    Wassalaamu’alaykum..

    Wa’alaikumsalam,

    Kalau itu jawabannya, saya sendiri sudah menanyakannya hal tersebut dan seperti para komentator yang lalu lalang seperti anda tentang hadis ini, maka anda sendiri hanya bisa merujukkan hadis ini ke sisi ilmu bahasa Arabnya. Ini masukan yang telah terpikir oleh saya pertama kali saat membaca hadis ini.

    Jawabnya, mereka hanya tertawa-tawa dan mengatakan bahwa Sahih Bukhari adalah kompilasi hadis yang di anggap sebagai sahih oleh dirinya sendiri mengikut standar ilmu yang dimilikinya. Artinya, Nabi saw sendiri tidak pernah datang atau membaca hadis-hadis ini lalu mensahihkan hadis-hadis itu sebagai salah satu ucapannya. Bukhari bisa salah tapi Al-Qur’an tidak.

    Jadi, kalau hadis ini memang tidak sejalan dengan acuan ketuhanan di dalam Al-Qur’an, sebaiknya ditinggalkan saja. Kita tidak perlu memaksakan diri dengan mencari makna-maknanya hanya untuk membela kebenaran hadis Sahih Bukhari ini. Apalagi bila hal itu dilakukan semata-mata karena Bukhari secara kebetulan telah menyebut buku hasil kompilasi hadisnya itu sebagai Kitab Sahih Bukhari. Untuk itu, saya menyampaikan hadis ini apa adanya dan tidak mempersepsikan maknanya agar hadis ini terlihat better

    Wassalamu’alaikum

  15. Harap maklum aja si Abu Hurairah bin Abu Hura-hura itu mahzabnya Mahzab Kuliner wal Badok, jadi pemahaman tentang Tuhan tergantung makanan dari penguasa di Zamannya

  16. Ass.wr.wb.

    Saya juga sering membaca hadits yang membingungkan saya dan ketika membaca syarahnya lebih bingung lagi karena terkesan mencari pembenaran untuk menjaga nama baik perawinya. Padahal secara tidak sadar malah melecehkan Rasulullah SAW.

    Salah satu contohnya adalah hadits yang dikatakan oleh sementara orang sebagai hadits tentang keutamaan Muawiyah, yaitu ketika Rasullullah SAW memanggil Muawiyah dan dia tidak datang karena sedang makan dan ini berlangsung hingga tiga kali tetap tidak datang dengan alasan sedang makan kemudian Raulullah SAW berkata : “Semoga perut Muawiyah tidak pernah kenyang” (au kama qala Rasulullah SAW)

    Dalam salah satu kitab syarahnya Albani mengatakan ini termasuk keutamaan Muawiyah dengan dalil hadits nabi saw: “Ya Allah apabila ada orang yang dicaci/dilaknat oleh aku sedang orang tersebut tidak layak mendapat laknat itu, maka semoga itu akan menjadi kemuliaannya” (au kama Qala)

    Saya terkesan setelah membaca penjelasan Albani ini bahwa Rasulullah saw itu orang yang amat ceroboh mengumbar umpatan kepada muawiyah yang menurut Albani tidak layak menerima umpatan itu (semoga perut muawiyah tidak pernah kenyang)sehingga ini malah menjadikan keutamaan bagi muawiyah.

    Bukankah Allah berfirman : “La yantiqu ‘anil hawaa, inhua illa wahyun yuhaa”, lalu apa mungkin Rasulullah saw akan mengatakan sesuatu yang tidak layak bagi Muawiyah?

    Demi menjaga nama baik Muawiyah dan perawi hadits Albani telah mencari pembenaran dengan mengorbankan Rasulullah saw.

    wallaahu a’lam!

  17. Siapa yang menyembah Allah Tapi tidak bisa Melihat Atau Merasakan KehadiranNYA sebaiknya jangan menyembah …

    Allah Lebih dekat dengan Kita dari pada urat nadi kita…
    Hati-hatilah saudaraku jangan cepat memutuskan atau memvonis salah sesama muslim,hati-hati terhadap keterbatasan mata,hati,pikiran anda….

    Demi Dzat yang menciptakanku …janganlah kalian memutuskan perkara yang anda sendiri tidak mampu untuk meyakini benar atau salahnya.

    wassallam….

    Santri emas AlBasyariah.

  18. Salam ‘alaikum.
    Saya kutip tulisan Penulis Blog “… Jadi apakah anda ingin mengatakan kepada saya bahwa Allah itu sebenarnya punya tangan, kaki tapi bedanya, semua itu (yakni tangan, kaki dan betis Allah itu) tidak sama seperti makhluk-Nya?..”

    Bagaimanakah Penulis Blog menanggapi pendapat yg seperti itu (pendapat bhw Allah memiliki tangan, wajah, & mata tetapi tangan, wajah, & mata Allah tidak seperti, tidak sama, tidak mirip dgn yg dimiliki oleh makhluk-Nya)?
    Terima kasih atas jawabannya. Salam ‘alaikum.

    ———————-

    Wa’alaikumsalam,

    Kekeliruan pandangan ini jelas Mas Badari, karena Al-Qur’an mengatakan laisa kamitslihi syai’un. Allah Swt tidak memiliki kesepertian apapun dengan makhluk-Nya. Afwan dan terima kasih.

  19. Tidakkah pendapat “Allah memiliki tangan, wajah, & mata, tetapi tangan, wajah, & mata Allah tidak seperti makhluk-Nya” adalah juga pendapat yg tetap berpegang pada ayat “Laysa kamitslihi syay-un”?
    Mohon ulasan pencerahannya. Syukron. Salam ‘alaykum.

    —————–

    Saya sudah memberikan penjelasannya kepada antum, dan kini giliran antum menjelaskan hal itu ke saya. Syukran.
    “haatu burhanakum in kuntum shodiqin…”. ;)

  20. Salam ‘alaykum.
    Mereka yg berpaham “Allah memiliki tangan, wajah, & mata, tetapi tangan, wajah, & mata Allah berbeda dari makhluk-Nya” berpandangan bhw paham mereka tidak menyamakan Allah dengan makhluk-Nya karena adanya pernyataan/frase eksplisit bahwa tangan, wajah, & mata Allah tidak sama, tidak seperti (=berbeda) dari makhluk-Nya. Jadi, paham tersebut tidak melanggar kaidah “laysa kamitslihi syay-un”.

    Sekarang, bila Penulis blog berpandangan bhw paham di atas melanggar kaidah “laysa kamitslihi syay-un”, mestinya Anda yg menjelaskan di mana letak kesalahan argumentasi dari jawaban/penjelasan di atas.
    Mohon pencerahannya, Pak Mushoddiq. Terima kasih & Salam ‘alaykum.

    ————

    Wa’alaykumsalam,

    Mas Badari tahu gak perbedaan arti kata mitsl dan matsl dalam bahasa Arab?

    Saya kira, bila anda bisa memahami hal ini, itu akan banyak membantu.

    Anda mengatakan: “mata Allah tidak sama, tidak seperti (=berbeda) dari makhluk-Nya.”

    Mas Badari, meski ada perbedaan atau ketidaksepertian pada ungkapan anda, tapi kesamaan antara keduanya masih tetap ada, yaitu sama-sama memiliki mata. Sedangkan yang beda hanya esensi atau formanya saja. Sedangkan Allah Swt “laisa ka mistlihi syai’un.”

    Jadi ayat ini sudah jelas tanpa perlu saya jelaskan lagi.

  21. 1.) Saya terlalu sedikit faham bhs. Arab. Jadi, mohon ajari saya perbedaan arti kata mitsl dengan matsl. Syukron.

    ————–

    Tanggapan:

    Kata matsalaun dan mitsalun berbeda. Kata matsal menunjukkan adanya kesamaan, sedangkan mitsal adalah ketidaksamaan. Jadi ayat itu harus dipahami bahwa Allah Swt tidak seperti apapun (syai’) dalam hal apapun juga. Ini ayat yang terkait dengan tanzih ilahi, dimana Allah Swt tidak akan pernah memiliki kesamaan dalam hal apapun dengan makhluk-Nya.

    2.) Mengenai “beda hanya formanya, tapi tetap ada kesamaannya”, izinkan saya menyampaikan argumen berikut:
    a.) Dalam Al-Quran, Allah disebut [bersifat] sami’un bashir (= mendengar & melihat). Manusia juga memiliki kemampuan mendengar & melihat, tapi tentu saja sifat mendengar & melihat-nya Allah tidak sama dengan sifat melihat & mendengar-nya manusia. Di sini, yg berbeda adalah formanya [melihat-nya Allah berbeda dgn melihat-nya manusia], tapi masih tetap ada kesamaannya, yaitu sama-sama bersifat mendengar & melihat. Bagaimana tanggapan Pak Mushoddiq?

    ———–

    Tanggapan:

    Asma Allah Swt menunjukkan kepada kesempurnaan-Nya bukan kesamaan potensi, esensi atau forma-Nya dengan makhluk. Ayat-ayat itu terkait dengan tasybih ilahi yang bertujuan agar manusia bisa memahami kesempurnaan Allah Swt dan bukan untuk menyamakan atau mensetarakan-Nya dengan makhluk.

    b.) Pak Mushoddiq [mungkin] memaknai “tangan Allah” dengan “kekuasaan Allah” [misalnya pada ayat Allah menciptakan manusia dengan kedua tangan-Nya, atau ayat Allah menggulung langit & bumi]. Dengan makna ini, Allah memiliki kekuasaan; makhluk Allah juga memiliki kekuasaan, hanya saja kekuasaan makhluk bersumber dari Allah, tidak mandiri, bersifat terbatas, dan segenap perbedaan lainnya dengan kekuasaan Allah. Di sini, perbedaan juga pada formanya, tetapi masih ada kesamaannya, yaitu sama-sama memiliki kekuasaan. Bukankah kita akan selalu menemui kesamaan istilah bagi sifat Allah dan bagi sifat makhluk-Nya sehingga agar menjaga prinsip “laysa kamitslihi syay-un” kita mesti menyimpulkan perbedaan terletak pada formanya? atau bagaimana?

    ———

    Tanggapan:

    Allah adalah Wujud Mutlak sedangkan selainnya relatif (mumkinul wujud). Segala sesuatu (syai’) yang masih bergantung kepada sesuatu selain dirinya sendiri adalah faqir bi zat. Untuk itu, anda tidak bisa mengatakan bahwa manusia memiliki kekuasaan, karena pada dasarnya, potensi kuasa itu sendiri bersifat karunia dari Allah dan bukan milik manusia. Begitu pula dengan kemampuan mendengar, melihat, mengetahui, dsb yang dimiliki manusia. Allah Swt pada diri-Nya tidak bisa disifatkan dengan apapun. Mungkin Kitab Nahjul Balaghah yang berisi pernyataan dari Imam Ali as bisa menjadi bahan renungan anda. Silahkan anda bisa membelinya di toko buku mana saja.

    “(Allah) Yang sifatNya tidak terbatasi oleh batasan tertentu, tidak dapat tergambarkan oleh ungkapan kata, tidak terikat oleh waktu, dan tidak ada yang menyudahi-Nya. Sebab, setiap sifat adalah berlainan dengan yang disifati, dan setiap yang disifati bukanlah persamaan dari sifat yang menyertainya. Maka, barangsiapa melekatkan suatu sifat kepada-Nya, berarti dia telah menyertakan sesuatu dengan-Nya….dst”

    Beliau juga berkata:

    “Dia tidak dapat dicapai oleh akal dengan pembatasan, maka tiadalah Dia dapat disamakan (dengan sesuatu). Tidak pula Dia ditimpa oleh waham (angan-angan) dengan perkiraan, maka Dia tidak dapat diserupakan. Tidak ada dalam ke-Awal-annya permulaan, dan tidak ada dalam ke-Azalian-nnya kesudahan. Dialah yang Awal dan senantiasa awal, dan Dia maha kekal tanpa ada batas waktu. Dahi-dahi bersujud kepada-Nya dan bibir-bibir pun mentauhidkan-Nya. Dia membatasi segala sesuatu saat penciptaannya, yang menjadi penjelas bagi kesamaannya.”

    Mudah2an jawaban Pak Mushoddiq lebih mencerahkan & meyakinkan saya. Terima kasih. Salam ‘alaykum.

    ———-

    Tanggapan:

    Untuk lebih jelas, silahkan antum diskusikan hal ini kepada ustadz saya Muhsin Labib dan Musa Kadzim, insyaAllah antum akan memperoleh pencerahan yang lebih baik dan jelas daripada diri saya. Wassalamu’alaikum.

  22. maaf, siapa saja sih generasi salaf itu,
    1.apakah yg direkomendasikan oleh WAHABY saja,sehingga dia diikuti???
    2. apakah SALAFY tidak menerima dengan tafsir/ta’wil oleh Ibnu Abbas (yg telah disebutkan ulama bahwa dia adalah Bapa Ahli tafsir)???
    3.apakah orang yg menta’wilkan (demi kesucian Allah dari sifat makhluk)selalu disalahkan SALAFY

    SALAFY selalu beralasan: “Kami hanya akan mengatakan apa yang telah dikatakan oleh kalangan salaf, ‘Arti duduk (al-istiwa) diketahui, tapi bentuk duduknya (al-kaif) tidak diketahui, dan pertanyaan tentangnya adalah bid’ah.”

    tetapi apakah Ibnu Abbas tidak dianggap salaf padahal dia menta’wilkan :
    “Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan Sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa.” (QS.51 [adz Dzâriyât] : 47)

    Kata أَيْدٍ secara lahiriyah adalah telapak tangan atau tangan dari ujung jari jemari hingga lengan, ia bentuk jama’ dari kata يَدٌ. (Baca Al Qamûs al Muhîth dan Tâj al ‘Ârûs,10/417.)

    Akan tetapi Ibnu Abbas ra’ mena’wîl arti kata tangan dalam ayat Adz-Dzariyat ini dengan بِقُوَّةٍ artinya kekuatan. Demikian diriwayatkan al Hafidz Imam Ibnu Jarir ath-Thabari dalam tafsirnya, 7/27

    dimana keSALAFan kalian.

    Ibnu Abbas pernah mendapat do’a Nabi saw. , “Ya Alah ajarilah dia (Ibnu Abbas) tafsir Kitab (Al Qur’an).” (HR. Bukhari)

    namun apabila SALAFY masih berkeras kepala, apa boleh buat, semua hati manusia ada dalam genggamanNya.

  23. akidah yang aneh… benar juga kata saudara Rusman, “abu hurairah sih.” :D

    tapi ternyata bukan kaki dan betis saja. yang yg ada di hadis malah mengatakan bahwa Allah berjanggut dan berkepala botak, bergerak pada sepertiga malam, dll.

  24. astagfirullaoh…ya maafkan mereka yg sesat ….kembalikanlah kepada jalan yang benar. Ternyata hidayah itu tidak selalu di berikan kepada orang pintar..

  25. kesimpulan bodoh bila ada yg mengatakan Allah SWT adalah “betis?” jgn terjebak dgn pertanyaan bodoh kapirun

Tinggalkan Balasan