Holy Holiday - Sebuah Renungan

Oleh: Ema. R

Alternatif untuk berekreasi dengan keluarga maupun individual yang sekaligus ada makna spritualnya sungguh menjadi bisnis yang paling laku di negeri ini. Sekilas memang sangat efektif dan bermanfaat, karena toh dengan niat berlibur tetapi pahala beribadah pun dapat diraih, sehingga mencari kebaikan dunia dan akhirat pun dapat dicapai dalam sekali menjalankan perjalanan ibadah haji yang juga sekaligus termasuk salah satu rukun Islam.

Biasanya mereka dalam rangka mempersiapkan ibadah hajinya itu yang paling mereka ‘concern’ adalah pakaian ihramnya, mukenanya, jilbabnya dan pernak pernik lainnya , pokoknya sesuatu yang akan dipakai disana hingga kosmetik pun mereka khusus beli yang tidak beralkohol. Jarang sekali saya melihat mereka yang ‘concern’ akan makna dan hakikat berhaji itu sendiri. Seperti pada umumnya orang Islam di negeri ini hanya memperhatikan faktor assesorisnya, lebih ke fiqihnya dari pada ke hakikat dibalik ibadah hajinya. Lucunya , mereka semua berharap ingin menjadi hajinya yang mabrur katanya, tanpa ingin tahu bagaimana untuk menjadi haji yang mabrur itu.

Menurut kebanyakan orang untuk mencapai haji mabrur itu dengan melaksanakan ‘fiqih haji’ yang baik saja menurut ustad-ustad travelnya. Disana mereka berupaya sangat keras untuk dapat mencium hajar aswad misalnya, tetapi jarang sekali ada yang bertanya apa makna dan hakikat mencium hajar aswad, yang apabila mereka satu ibadah itu saja tahu makna dan hakikatnya tentunya mereka akan menjadi haji yang mabrur dengan sendirinya.

Karena pada saat kita mencium hajar aswad itu ada mengandung unsur ketaatan dimana manusia mengingat kembali janjinya pada Allah SWT (yang dulu pernah dilakukan di alam ruh ) untuk berTAUHID dengan menjalankan amal ma’ruf & nahi munkar, jadi diharapkan setelah mencium hajar aswad apabila kembali ke tanah air nya masing2 diharapkan mereka akan menjadi panji2 Islam dalam membela agama Allah SWT.
Karena sesungguhnya tolok ukur diterima tidaknya beribadah adalah apabila ada perubahan dalam diri kita ke arah kebaikan. Misalnya yang paling konkrit yang dulunya sering ber’ghibah ‘setelah kembali tidak akan pernah lagi untuk melakukan perbuatan yang memalukan itu karena telah menyadari itu termasuk fitnah dan dosa besar.

Apabila setelah kembali dari ibadah tersebut masih merasa sama seperti sebelumnya atau bahkan lebih buruk lagi…….Sadarlah wahai saudaraku itu pertanda anda hanya ber’rekreasi’ ke tanah suci, dengan membuang tenaga, waktu anda sekedar ‘mejeng’ di depan rumah Allah dan makam nabi saaw…Naudzubillah….

Jelas makna dari berhaji yang adalah salah satu ibadah wajib buat yang mampu ini, harus ada dampak positif baik itu untuk diri sendiri ataupun sekelilingnya (masyarakat) , karena apabila tidak berdampak positif, buat apa Allah SWT menyuruh kita melakukan ibadah tersebut???

Allah Azawajala tidak butuh gelar haji atau hajjah dari kita, yang IA inginkan adalah menambah keTAATan kita padaNYA sehingga kita merasa lebih dekat denganNYA dan selalu ingin membuatNYA bahagia dengan beribadah lebih banyak dari sebelumnya serta melaksanakan amal ma’ruf dan nahi munkar, mengerjakan semua yang di suruhNYA dan meninggalkan semua yang DIA larang.

5 Responses to “Holy Holiday - Sebuah Renungan”

  1. Tren 2008-2009 adalah wisata spiritual….. dengan ikonnya ……..

    *Pak Bondan Winarno punya saingan nih*

  2. jazakallah kher ustad, posting artikelnya…insya Allah menyusul yang lainnya…

    O ya tren 2008-2009 wisata spirtual? semoga para penyelegaraan haji /umrah, juga memikirkan tidak hanya keuntungan dunia tapi juga mendidik para calon jemaahnya kepada sesuatu yang lebih bermakna dengan target me’MANUSIA’an kan para jemaah haji Indonesia yang terkenal paling banyak kuotanya. Karena kita sebagai warga negara ini wajib mempertanyakan dimana letak kesalahannya, sehingga negeri yang sering berhaji/umrah ini terkenal dengan bangsa yang terKORUP di dunia…Allah SWT tidak akan menyuruh umatNYA berbuat sesuatu kalau bukan untuk KEBAIKAN manusianya itu sendiri. Segala rahasia ibadah apabila di gali, akan mendatangkan suatu keajaiban yang luar biasa…berusahalah untuk ingin tahu dibalik kewajiban ibadah yang Allah perintahkan. Adrikna YA MAHDI….

  3. adalagi fenomena yang menyebalkan.. coba perhatikan deh, kalau seseorang kena masalah dan mesti hadir di pengadilan, mereka tiba2 berusaha tampil bak orang soleh/solehah, pake baju koko, pake peci, kopiah atau apalah, yang perempuan tiba2 pake kerudung atau jilbab, padahal biasanya aurat mereka mencuat disana sini….. iih…bisa begitu ya….

  4. buat shfiya, begitulah bila kita hanya menggunakan simbol untuk beribadah…Mereka pikir Tuhan bisa dibo’ongin apa?sama Allah aja mereka begitu bagaimana pada makhluk2NYA…Susah negeri ini sudah hancur, mayoritas orang hanya inget Tuhan bila sedang susah aja, itupun hanya sekedar permukaannya aja dengan simbol2 tadi sambil mencaci nasibnya ( berarti mencaci Tuhan), boro2 bersikap tawakal…Nauzubillah deh..

  5. Ema, salam. Tulisannya sudah mengingatkan saya untuk terus belajar dan menerapkan pelajaran tsb dalam kehidupan sehari-hari… Thanks.

Leave a Reply