Komentar Dari Pengikut NII KW-9 Al-Zaytun Yang Lugu!

Saudara Al-Zaytun berkata:

Hehe… lucu jg saya bacanya… yang jelas jadilah diri sendiri. semua orang punya fitrah. dan ingat yang berhak menilai seseorang muslim atau kafir hanyalah Alloh. walaupun kita suka shalat, puasa, haji, zakat, tapi kalau Allah menyebut kita kafir mau bilang apa. jadi, yang sering menuduh orang lain kafir, saya tanya anda Tuhan bukan?? kalau bukan, koq so-soan jadi Tuhan….. (NII KW9 Di Jurang Kehancuran)”

Tanggapan saya:

Heeem … “yang berhak menilai seseorang (itu) muslim atau kafir hanyalah Alloh” … ungkapan anda ini sangat menarik, namun sebelum saya memberikan tanggapan, masih ada hal sederhana yang perlu diperjelas sehingga menjadi pijakan kita di dalam mengkaji suatu persoalan.

Maksudnya begini … dalam melihat persoalan ini, disini kita mungkin sama-sama setuju bahwa Allah Swt adalah Sumber Kebenaran, dan saya yakin bahwa pernyataan anda yang saya kutip di atas itu bertolak dari pola pikir anda yang menyimpulkan bahwa Allah adalah Sumber Utama Kebenaran itu sendiri, sehingga segala penjustifikasian kepada makhluk adalah Mutlak wewenang Allah Swt. Pernyataan saya ini benar ataukah salah?!

Sudah ….?!

Nah, disini saya mau bertanya lagi kepada anda, apabila Allah adalah Sumber Kebenaran, lantas apakah kita sebagai makhluk-Nya mampu menemukan Kebenaran itu ataukah tidak? Sederhananya, apakah manusia mampu menelusuri atau mempelajari sehingga akhirnya dia bisa menemukan Kebenaran? Sebab, jika manusia tidak mampu menemukan Kebenaran, maka secara otomatis pernyataan anda yang mengatakan bahwa “yang berhak menilai seseorang muslim atau kafir hanyalah Alloh” adalah pernyataan yang tidak bisa terbukti sebagai pernyataan yang benar? Kondisi ini menunjukkan bahwa pada dasarnya, manusia takkan pernah bisa menemukan Kebenaran apapun dalam hidupnya, dan akibatnya … dia takkan pernah bisa tahu apakah dia sudah percaya kepada Allah ataukah belum? Apakah dia sudah Muslim ataukah belum? Karena seperti menurut anda sendiri bahwa perbuatan-perbuatan seperti solat, puasa, zakat, haji, dsb … belum menjadi indikator atau tolak ukur apakah seseorang itu sudah Muslim ataukah belum …?

Jika demikian, maka pernyataan anda selanjutnya yang mengatakan “walaupun kita suka shalat, puasa, haji, zakat, tapi kalau Allah menyebut kita kafir mau bilang apa” pun belum terbukti sebagai suatu pernyataan yang benar, karena kebenaran adalah Mutlak milik Allah Semata, sehingga tak ada satu ukuran apapun di dalam kehidupan kita ini untuk menjustifikasikan apakah sesuatu pernyataan/perbuatan seseorang itu benar ataukah salah?

Konklusi akhirnya akan muncul seperti begini …. Sebagai makhluk Allah, manusia takkan pernah bisa menemukan kebenaran apapun, karena yang bisa menjustifikasikan sesuatu itu benar ataukah salah hanyalah Allah Semata. Jika demikian, maka pada dasarnya, pernyataan ini pun tidak bisa dibilang sebagai suatu pernyataan yang benar, karena seperti konsep pola pikir yang anda adopsi di kehidupan ini adalah dengan menyimpulkan bahwa yang benar hanya Allah saja … Mas, bahkan pernyataan yang terakhir inipun takkan bisa diukur sebagai pernyataan yang benar atau salah … karena bagaimana anda bisa mengetahui mana yang benar dan mana yang salah, jika yang tahu Kebenaran itu hanya Allah Swt saja, sedangkan selain Dia tidak ada yang bisa mengetahui Kebenaran …

Pola pikir anda ini absurd dan berputar seperti lingkaran setan … dengan pola pikir anda yang menyatakan bahwa Allah adalah Kebenaran dan makhluk-Nya takkan pernah bisa mengetahui apakah Kebenaran itu, maka takkan ada bedanya bagi seseorang itu untuk beriman ataukah kafir? Salah ataukah benar? Merampok hak orang lain ataukah membela hak orang lain? Mencuri hak orang lain ataukah menjaga hak orang lain? Solat ataukah meninggalkan solat? Puasa ataukah meninggalkan puasa? Berzakat ataukah tidak berzakat?
Karena (seperti yang anda nyatakan sendiri bahwa ) bisa jadi saja anda benar, tapi kalau Allah mau bilang anda salah, maka anda salah.
Bisa jadi anda beriman, tapi kalau Allah mau bilang anda kafir, maka anda kafir.
Bisa jadi anda membela hak orang lain, tapi kalau Allah mau bilang anda merampok hak orang, maka jadinya anda perampok.
Bisa jadi anda menjaga hak orang lain, tapi kalau Allah mau bilang anda mencuri, yaa… menjadi pencurilah anda.
Bisa jadi anda bilang saya sebagai pemilik blog ini salah dan sok menjadi tuhan, tapi kalau Allah mau bilang saya benar, maka benarlah saya dan anda salah.
Lantas, bagaimana anda bilang saya mau sok-sokan menjadi Tuhan, sementara anda takkan pernah bisa tahu saya ini benar ataukah salah?
Mas, ketika anda mengatakan bahwa saya “mau sok-sokan menjadi Tuhan”, maka anda sedang menjustifikasi saya. Padahal menurut anda sendiri bahwa hak penjustifikasian itu adalah milik Allah Swt semata. Artinya, apabila hak penjustifikasian itu adalah Mutlak milik Allah semata, maka penjustifikasian anda kepada saya yang mengatakan bahwa saya “mau sok-sokan menjadi Tuhan” jelas tidak bisa diterima. Untuk itu, berhubung andalah yang menjustifikasi saya, maka hal ini menunjukkan bahwa andalah yang sebenarnya lagi “mau sok-sokan menjadi Tuhan…”

… he he he … :lol:

Kembali ke laptop …..

Saya mau tanya Mas …!

1. Allah adalah Sumber Kebenaran … pernyataan ini BETUL ataukah SALAH?
2. Manusia mampu menemukan Kebenaran … pernyataan ini BETUL ataukah SALAH?

Kalau anda menjawab pertanyaan 1 dengan mengatakan BETUL …, maka hal itu menunjukkan bahwa anda ternyata mampu mengetahui Kebenaran. Dan jika anda menjawab pertanyaan 2 dengan menjawab SALAH, lantas bagaimana cara anda menjawab pertanyaan pertama?!

Saya mau tanya untuk terakhir kalinya …!

1. Allah adalah Sumber Kebenaran … pernyataan ini BETUL atau SALAH?
2. Manusia mampu menemukan Kebenaran … pernyataan ini BETUL atau SALAH?

Renungkanlah baik-baik … :lol: terutama pesan dari Imam Ali as saat Beliau as menanggapi slogannya kaum Khawarij. Beliau as  berkata:

Sungguh itu adalah kalimat haqq, namun dimaksudkan untuk sesuatu yang batil! … dan seterusnya sampai akhir khotbah”

18 Tanggapan

  1. maksud si mas itu mungkin sebaiknya kita jangan menjudge orang lain gtu kali ustad,

    soalnya persoalan benar dan salah kan menurut kacamata kita saja, sedang menurut kacamata orang lain apalagi kacamata Allah bisa jadi berbeda

    Anggap saja pernyataan antum ini saya anggap sebagai pernyataan yang benar. Artinya jika demikian bahwa kebeneranan itu adalah sebagai berikut:

    1. Kebenaran menurut saya (mungkin salah/mungkin benar)
    2. Kebenaran menurut selain saya (mungkin salah/mungkin benar)
    3. Kebenaran menurut Allah (pasti benar/mustahil salah)

    Nah, pertanyaan ini kembali lagi, apakah manusia yang merupakan makhluk ciptaan Allah swt itu dapat menemukan kebenaran dari tipe yang ketiga ini ataukah tidak? Apabila manusia tidak mampu menemukannya, maka konsekuensi itu menunjukkan bahwa tujuan penciptaan Allah itu sia-sia, karena kondisi ini mencerminkan bahwa manusia takkan mampu menemukan kebenaran secara utuh.

    Pada akhirnya, apa yang disebut sebagai “kebenaran menurut saya” atau “kebenaran menurut selain saya” itupun tidak bisa dianggap sebagai kebenaran hakiki, karena seberapa jauh pun usaha kita untuk mencari kebenaran, maka hal itu takkan bisa menuntun kita kepada kebenaran yang hakiki.

    Konsekuensi terakhir dari bangunan pola berpikir seperti ini Savic adalah tidak adanya manusia yang mampu memahami kebenaran itu seutuhnya. Tak peduli, apakah pribadi itu seorang teladan alam semesta seperti penjelasan Allah swt tentang Nabi Muhammad saw ataukah pada diri seorang Yazid bin Muawiyah (la)? Artinya, berhubung manusia seolah-olah tidak diciptakan Allah (dengan potensi) untuk menemukan kebenaran secara utuh, maka takkan ada satu manusia pun yang mampu sampai atau menemukan kebenaran hakiki.

    Kondisi ini sekali lagi membawa kita pada suatu kesimpulan akhir bahwa Al-Qur’an pun takkan bisa menuntun manusia kepada kebenaran sejati, karena toh takkan pernah ada manusia yang mampu menemukan kebenaran itu sepenuhnya. Hal ini menunjukkan bahwa perintah Allah yang mengatakan “Taatlah kepada Rasul” artinya, ikutilah rasul-Ku yang sebenarnya tidak mengetahui apakah kebenaran sejati itu. Ini namanya absurditas.

    Savic, antum mengatakan “soalnya persoalan benar dan salah kan menurut kacamata kita saja, sedang menurut kacamata orang lain apalagi kacamata Allah bisa jadi berbeda” … Nah, apakah pernyataan antum ini benar menurut antum pribadi, ataukah benar menurut selain antum, ataukah benar menurut Allah?

    Apabila misalnya, bahwa jawaban ini benar menurut antum atau selain antum, maka jelas keduanya bukan kebenaran hakiki, karena yang mengetahui kebenaran hakiki itu hanya Allah semata. Intinya, perintah Allah di Qur’an yang mengatakan tegakkanlah Kalimat Allah di muka bumi berarti silahkan menegakkan Kebenaran yang sebenarnya kalian takkan pernah bisa mengetahui hal itu sepenuhnya. Hal ini sekali lagi mengakibatkan perintah Allah menjadi absurd.

    Kelihatannya kita harus kembli ke laptop lagi Savic …

    1. Allah adalah Sumber Kebenaran … pernyataan ini BETUL atau SALAH?
    2. Manusia mampu menemukan Kebenaran … pernyataan ini BETUL atau SALAH?

    Kalau kita menjawab pertanyaan 1 dengan mengatakan BETUL …, maka hal itu menunjukkan bahwa manusia ternyata mampu mengetahui Kebenaran. Dan jika kita menjawab pertanyaan 2 dengan menjawab SALAH, lantas bagaimana cara kita menjawab pertanyaan pertama?!

    Ada sebuah firman Allah Swt di dalam Al-Qur’an yang sebenarnya layak kita renungkan bersama-sama…

    “Katakanlah: ‘Apakah di antara sekutu-sekutumu ada yang menunjuki kepada kebenaran?’ Katakanlah ‘Allah-lah yang menunjuki kepada kebenaran’. Maka apakah orang-orang yang menunjuki kepada kebenaran itu lebih berhak diikuti ataukah orang yang tidak dapat memberi petunjuk kecuali (bila) diberi petunjuk? Mengapa kamu (berbuat demikian)? Bagaimanakah kamu mengambil keputusan? (QS. 10:35)

  2. contoh pernyataan salah = ‘Sebagai makhluk Allah, manusia takkan pernah bisa menemukan kebenaran apapun, karena yang bisa menjustifikasikan sesuatu itu benar ataukah salah hanyalah Allah Semata’

  3. iya sih… hanya Allah Yang Maha Benar dan kita ini cuma mencari pembenaran
    cuma ana meyakini kebenaran menurut Allah ini bisa aja diketahui
    soalnya ada hadits yang berbunyi bahwa kekasih2 Allah bisa melihat dengan penglihatan Allah, mendengar dengan pendengaran Allah dst….

    wallahu a’lam

    Semoga Allah menunjukkan kita kepada seluruh kebenaran seperti yang dikehendaki-Nya dan bukan sepeti apa yang kita kehendaki, bihaqqi Muhammad wa Aali Muhammad …

  4. he he he jadi itu maksudnya lugu ya :mrgreen:

  5. begitulah cara berfikir kebanyakan ustad….padahal kalo mau pada belajar ilmu Mantiq logika kita dapat dipakai …disinilah bedanya pengikut Ali as selalu menjujung tinggi nalar &logika yang lurus dalam waktu yang sama percaya pada yang ghaib.
    Al HAQ ma ALI wa ALI ma’l HAQ…shalawat ala Muhammad wa aali Muhammad….

  6. hehehe…kayak aku aja yang sering ngomong gitu.

  7. Artikel di blog Anda bagus-bagus. Agar lebih bermanfaat lagi, Anda bisa lebih mempromosikan dan mempopulerkan artikel Anda di infoGue.com ke semua pembaca di seluruh Indonesia. Telah tersedia plugin / widget kirim artikel & vote yang ter-integrasi dengan instalasi mudah & singkat. Salam Blogger!
    http://www.infogue.com
    http://agama.infogue.com/komentar_dari_pengikut_nii_kw_9_al_zaytun_yang_lugu_

  8. definisi kebenaran itu apa ustadz?

    Pertanyaan ini bagiannya di blog tetangga Ressay, mungkin perlu sesekali pertanyaan spt ini antum gulirkan di sana.

  9. kadang-kadang maksud baiknya ngajak orang untuk tidak mencampuri urusan ibadah orang lain dengan pernyataan seperti itu jadi sangat relatifis…mutlak dipaksain dengan bawa-bawa tuhannya (untung bukan Tuhan saya). Padahal masih banyak argumentasi lain, kalau maksudnya kayak diatas.

  10. Udah ah pd debat molo. Kapan kerja nya ? Kerja sana biar dpt duit, lalu bantu org2 kelaparan. Ga perlu 2.5%. Lebih byk lbh baik. Wong memang itu duitnya tuhan. Ya kembali k jalan tuhan. Ga nyambung ? Yuk perbaiki ahlak dulu

    Debat?! Disini Ga ada yang debat Mas …

    GIni Mas ….

    Ilmu itu penting Mas, karena dari sanalah bermuaranya kepercayaan
    Iman itu penting Mas, karena dari sanalah bermuaranya niat untuk berbuat
    Amal itu penting Mas, karena dari sanalah bermuaranya keikhlasan

    Sederhananya, jangan sampai kita beramal tanpa iman, karena hal ini menunjukkan bahwa perbuatan kita tanpa ilmu … bila hal ini terjadi, berarti pangkal perbuatan kita bermuara dari kejahilan, dan tanpa ilmu, berarti dasar perbuatan itu sendiri bukan bermuara dari iman, melainkan dzan (alias prasangka), pada akhirnya, kerja yang dikiranya baik itu malah semakin mengantarkannya ke gerbang kesengsaraan di dunia dan neraka di akhirat …

    Bahkan hal inilah yang Al-Qur’an pernah beritakan kepada kita agar kita selalu memperhatikan segala sebab perbuatan kita.

    Katakanlah: ‘Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?’
    Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.
    Mereka itu orang-orang yang telah kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia, maka hapuslah amalan- amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat.
    Demikianlah balasan mereka itu neraka Jahannam, disebabkan kekafiran mereka dan disebabkan mereka menjadikan ayat-ayat-Ku dan rasul-rasul-Ku sebagai olok-olok.
    ” (Al-Qur’an)

    Di samping itu, Al-Qur’an juga tidak pernah melarang perdebatan, bahkan menganjurkannya. Namun, Al-Qur’an menganjurkan agar setiap debat permbicaraan itu dilakukan secara baik dan atas dasar ilmu pengetahuan sehingga hasilnya bisa membuahkan amal saleh.

    Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (Al-Qur’an)

    Akhlak itu pakai ilmu Mas, sehingga ia tidak identik dengan adab

  11. Imam Ali as dalam Nahj al- balaghah : …..Islam adalah penyerahan diri. Penyerahan diri adalah keyakinan. Keyakinan adalah pembenaran. Pembenaran adalah ikrar. Ikrar adalah pelaksanaan. Pelaksanan adalah amal perbuatan.
    Shalawat ala Muhammad wa aali Muhammad….

  12. Salom
    Maklumlah ustad lha wong mereka gak mau ambil dari pintu ilmunya Nabi Saww jadi gitu dech. Itu bocah sama aja mau bilang klo Abu Jahal, Abu Lahab dan konco2nya belum tentu benar kafir karena Rasul Saww pun tidak berhak menjaustifikasi karena beliau bukan Allah. Aneh…..???

  13. @savic
    “kacamata Allah”

    huahahahahaha

    masa Tuhan pakek kacamata, ayak-ayak wae kang

    yang pake kacamata ya artis, bikers, lowvision people, ame kuda

    huahahahahaha

  14. Kebenaran Mutlak dari Tuhan manusia hanya meraba raba atau menafsirkanya yang berbeda dan penafsiran juga harus titafsirkan lagi dengan qur’an atau asbabunuzulnya jadi bukan menurut otak kita saja.

    Saya setuju kebenaran Mutlak itu dari Tuhan … namun pertanyaan baru pastinya akan muncul… :mrgreen: maksudnya begini … mampukah manusia mengetahui apakah kebenaran Mutlak itu? Jika jawabnya “ya, benar”, berarti manusia mampu mengetahui apakah kebenaran Mutlak itu. Contohnya ketika anda mengatakan “Saya setuju kebenaran Mutlak itu dari Tuhan”. Nah, apakah konklusi atas frase yang anda ucapkan ini niscaya benar ataukah tidak? Jika jawabnya “ya, benar”, maka lagi-lagi hal ini membuktikan bahwa manusia ternyata mampu mengetahui kebenaran.

    Salah satu konsekuensi lain dari kondisi di atas adalah; adanya manusia yang tidak tahu cara (bukan tidak mampu) untuk mengetahui apakah kebenaran itu? Konklusi terakhir dari kondisi-kondisi tersebut meniscayakan bahwa ada manusia yang tahu kebenaran dan ada yang tidak tahu.

    Kesimpulan finalnya membuktikan bahwa kebenaran Mutlak itu dari Tuhan, dan manusia mampu mengetahuinya. Benar ataukah salah?! :mrgreen:

    Bisa saja si A bilang akulah yang benar begitu si B diapun selalu mengatakan dirinya tidak salah.Hal ini tidaklah perlu diperdebatkan tapi hendaknya mari kita sama duduk dalam majelis untuk musyawarah hal ini mungkin bisa untuk menjadi titik temu.

    Misalnya A merasa selalu benar seraya mengatakan bahwa “kebenaran Mutlak itu dari Tuhan”, sedangkan B juga selalu merasa benar seraya mengatakan “kebenaran Mutlak itu bukan dari Tuhan”. Nah, coba anda musyawarahkan dalam suatu majelis sehingga terjadinya titik temu. :mrgreen:

    Barangkali Saudara Ali Mahfuzd mengatakan dirinya paling benar memimpin Negara kita tahu sejarah bahwa Ali Mahfuzd adalah bagian umat Islam bangsa Indonesia yang hanya berbeda penafsiran Qoror Harokah Romadhon mereka kaslan tidak mau bergabung dengan yang lainnya.Kalau dia paling benar tunjukan karya spektakuler mari berlomba lomba dalam kebaikan jangan hujat satu sama lainnya.

    *tu la lit … again* :lol:

  15. Mencontoh sunnah Rossul itu bukan hanya menjiplak setelah futtuh makkah banyak berzdikir dimasjid,ga jelek juga bedzikir di Masjid tapi refleksinya Sunnah adalah mencontohkan bagaimana Rossul mulai menyampaikan satu ayat karena Islam sudah Sempurna maka apa yang disunnahkan Beliau Muhammad SAW kita Ikuti dari Mulai Titik Nol Sampai Menguasai 2/3 Dunia.Ibarat kita sebagai arsitektur Islam Itu Ibarat Gambar Rumah Real Estate yang sudah jelas ukuran ruang tamu,kamar tidur,ruang keluarga dan sebagainya.
    Tentunya kalau kita ingin membuat bangunan yang sama tentu harus berpatokan pada gambar yang sama bukan?Dan apabila kita ingin menghasilkan bangunan dengan kwalitas yang samapun harus mempunyai takaran atau ukuran yang sama persis.Misal ingin buat rumah yang sama dengan kekuatan yang sama tentu harus dibuatkan aturan yang baku misal adukan semennya harus seimbang besi yang digunakan juga harus sama.Jadi Sunnah itu tidak ada bedanya yang beda hanya pada faktor waktu dan tempat yang berbeda dan pelaku yang berbeda tapi menggunakan cara cara yang sama dan aturan yang sama pula.

    real estate?! mas jual rumah ukuran berapa yaa? weleeh 2x … makin gak nyambung

    *tu la lit* :mrgreen:

    mas, pertanyaannya kan sederhana… apakah manusia mampu menemukan kebenaran ataukah tidak? kok bisa real estate, besi, semen, kw1, kw2 … kebawa-bawa …

    *makin binun*

  16. Sekarang ini menurut Ronggo Warsito adalah zaman Edan dan itu benar adanya.Dengan adanya KPK ternyata yang Korup adalah seluruh anggota dewan termasuk eksekutif dan legislatif.Apakah yang seperti ini yang dipertahankan oleh kita? Sudah saatnya kita Orang Islam yang punya hati nurani yang mempunyai KUHP & KUHPER yang datangnya dari Alloh Meluruskan sedikit demi sedikit kebengkokan di Negri tercinta Indonesia Raya.KPK adalah awal yang baik untuk pencerahan carut marut di negri ini tinggal menunggu Pemimpin Yang Adil Tampil Mendukung Apa Yang Dilakukan KPK.Saatnya Tampil Pemimpin atau SATRIO PINANDITO WAHYU Yaitu Pemimpin Yang Berdasarkan Wahyu Illahi Robby Yaitu Al Qur’an Sunnah Rossul.

  17. Manusia pasti bisa menemukan kebenaran melalui Rossulnya apaguna Rossul kalau tidak bisa menemukan kebenaran hakiki?Fungsi Rossul adalah mengembalikan kebenaran hakiki untuk meluruskan jalan yang bengkok agar kembali jalan Tuhannya.Makanya kita selalu bilang apabila salah itu mutlak dari saya pribadi kalau benar itu datang dari Alloh SWT.

    Pernyataan anda yang mengatakan “Manusia pasti bisa menemukan kebenaran melalui Rasul-Nya” sebenarnya adalah tahap selanjutnya, apabila seseorang itu telah melewati tahap sebelumnya, yaitu menemukan kebenaran tentang keniscayaan adanya kerasulan itu sendiri, dan hal ini pun adalah suatu hal yang niscaya bisa anda temukan dengan bermodalkan akal sehat alias “rasul batin” yang ada pada diri manusia berakal. And last but not least, hal ini memang menjadi bukti sangat nyata bahwa kebenaran itu pasti bisa ditemukan. Sebagaimana manusia pun bisa mengerti tentang kebatilan.

  18. dah ga usah debat melulu amal aza dengan ikhlas jangan kayak tetangga infaq diomongin melulu infaq tu ibarat kotoran kalau dah kita buang air ngapain disesalin yang ada harusnya Alhamdulillah lega rasanya bisa buang kotoran kalau ga gue bisa dibawa kerumah sakit deh!jadi kalau antum dah pernah beramal jangan pernah merasa dirugikan apalagi untuk infaq,sodaqoh,qirod dan sbg ikhlas lillahi ta’ala aza Insya Alloh jadi amal baik Ok!moga Alloh selalu meridhoi apa2 yang kita kerjakan.

    Buanglah kotoran pada tempatnya … :mrgreen: dan jangan asal buang saja … nanti nyesel … hehe :D

Tinggalkan Balasan