Post List

smiley120.jpg smiley-verycontent.png
“Salam kenal untuk semua … peace…”

Halaman ini memuat senarai artikel yang telah saya posting sejak Maret 2007 secara berurutan hingga sekarang. Secara bertahap dan dari waktu ke waktu, bagian ini akan senantiasa mengalami update.

Pembuatan halaman Post List ditujukan agar para pengunjung bisa mendapat kemudahan saat melacak tema-tema artikel yang diinginkan.

Kajian Kristologi:

Artikel-artikel Lainnya:

Penambahan artikel baru dan pembuatan link-nya dalam proses …

12 Responses to “Post List”

  1. Mohon e-mail Ustadz Syamsi Ali (Imam Besar Mesjid New York AS

    Atas Bantuan Bapak saya ucapkan terima kasih

    ——————-

    M. Syamsi Ali dapat dihubungi melalui telepon/email: +1 (917) 518-4083/MSali95949@aol.com

    Sama-sama.

  2. Doa untuk Mencapai Hajat

    Bismillâhir Rahmânir Rahîm
    Allâhumma shalli ‘alâ Muhammadin wa âli Muhammad

    Ilâhî kayfa ad’ûka wa ana ana, wa kayfa aqtha’u rajâî minka wa Anta Anta. Ilâhî idzâ lam as-alka fatu’thînî faman dzal ladzî as-aluhu fatu’thînî? Ilâhî idzâ lam ad’ûka fatastajîbulî faman dzal ladzî ad’ûhu fayastajîbulî? Ilâhî idzâ lam adharra’ ilayka fatarhamunî faman dzal ladzî adharra’u ilayhi fayarhamunî? Ilâhî fakamâ falaqtal bahra li-Mûsâ `alayhis salâm wa najjaytahu as-aluka an tushalliya ‘alâ Muhammadin wa âli Muhammad, wa an tunajjinî mimmâ ana fîhî, wa tufarrija `annî farajan `âjilan ghayra âjilin bifadhlika wa rahmatika yâ Arhamar râhimîn.

    Dengan asma Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang
    Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Rasulullah dan keluarganya

    Ilahi, Bagaimana aku berdoa kepada-Mu sementara aku adalah aku, bagaimana aku putus asa dari-Mu sementara Engkau adalah Engkau. Ilahi, jika aku tidak memohon kepada-Mu yang kemudian memberi aku, kepada siapa lagi aku harus memohon yang kemudian memberi aku? Ilahi, jika aku tidak berdoa kepada-Mu yang kemudian mengijabah doaku, kepada siapa lagi aku harus berdoa yang kemudian memperkenankan doaku? Ilahi, jika aku tidak merendahkan diri kepada-Mu yang kemudian menyayangi aku, kepada siapa lagi aku harus merendahkan diri yang kemudian menyayangi aku? Ilahi, sebagaimana Engkau telah membelah lautan untuk Nabi Musa (as) dan Kau selamatkan ia, aku memohon kepada-Mu sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, selamatkan aku dari apa yang aku takutkan, dan bahagiakan aku dengan kebahagiaan yang segera dan tidak tertunda-tunda dengan karunia dan rahmat-Mu wahai Yang Maha Pengasih dari segala yang mengasihi. (Mujarrabat Imamiyah, hlm 114).

    Doa ini diajarkan oleh Imam Ali Zainal Abidin (sa), salah seorang cucu Rasulullah saw yaitu putera Al-Husein bin Fatimah binti Rasulilllah saw.

    Doa ini diriwayatkan oleh Maqatil bin Sulaiman dari Imam Ali Zainal Abidin (sa). Ia mengatakan: Barangsiapa yang membaca doa ini seratus kali dan doanya tidak diijabah, maka laknatlah Maqatil.

    Ini menunjukan bahwa Maqatil bin Sulaiman telah membuktikannya, dan saking yakinnya ia berani mengatakan seperti itu.

    Tek arab doa ini bisa dicopi dari Milis “Keluarga bahagia” atau milis “Shalat-doa” berikut ini.

    Wassalam
    Syamsuri Rifai

    Amalan Praktis dan doa-doa pilihan, dan artikel-artikel Islami, klik di sini:
    http://shalatdoa.blogspot.com
    Milis Keluarga Bahagia & Shalat-Doa
    http://groups.google.com/group/keluarga-bahagia
    http://groups.yahoo.com/group/Shalat-Doa

  3. Shalat Hajat

    Shalat hajat ada beberapa macam caranya, antara lain:
    Pertama:
    Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa yang melakukan shalat pada hari Kamis empat rakaat (dua salam); rakaat pertama setelah Fatihah membaca Surat Al-Ikhlash (21 kali); rakaat kedua setelah Fatihah membaca Surat Al-Ikhlash (21 kali). Rakaat pertama (dalam shalat yang kedua) setelah Fatihah, Surat Al-Ikhlash (31 kali); rakaat kedua (dalam shalat yang kedua) setelah Fatihah, Surat Al-Ikhlash (41 kali). Dan sesudah salam (shalat yang kedua) membaca Surat Al-Ikhlash (51 kali), kemudian sujud sambil membaca Ya Allah (100 kali), kemudian memohon apa yang diinginkan. Maka, sekiranya orang yang melakukan shalat tersebut memohon kepada Allah untuk memindahkan gunung niscaya gunung itu akan pindah, dan memohon pertolongan niscaya pertolongan itu akan dating; karena antara dia dan Allah tidak ada hijab, dan Allah swt marah kepada orang yang melakukan shalat ini yang tidak memohon hajatnya kepada-Nya.” (Mujarrabat Imamiyah)

    Kedua:
    Imam Ja’far Ash-Shadiq (a.s) berkata: “Jika kamu ditimpa persoalan yang sulit, maka hendaknya melakukan shalat dua rakaat ketika matahari tergelincir. Rakaat pertama bacalah Surat Fatihah, dan Surat Al-Fat-h/48: 1-3 ( 1 kali), yaitu:

    بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ. إِنَّا فَتَحْنَا لَك فَتْحاً مُبِيْناً، لِيَغْفِرَ لَكَ اللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَ مَا تَأَخَّرَ وَ يُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَ يَهْدِيَكَ صِرَاطاً مُّستَقِيْماً، وَ يَنْصُرَكَ اللَّهُ نَصْراً عَزِيْزاً.

    Bismillâhir Rahmânir Rahîm. Innâ fatahnâ laka fat-han mubînâ. Liyaghfira laka mâ taqaddama min dzanbika wamâ ta-akhkhara wa yutimma ni’matahu ‘alayka wa yahdiyaka shirâthan mustaqîmâ. Wa yanshurakallâhu nashran ‘azîzâ.

    Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata. Supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyerpunakan nikmat-Nya atasmu dan membimbing kamu kepada jalan yang lurus. Dan supaya Allah menolongmu dengan pertolongan yang kuat (Al-Fat-h: 1-3).

    Rakaat kedua sesudah Fatihah bacalah Surat Al-Ikhlash dan Surat Alam Nashrah (1 kali). (Mafâtihul inân, kunci-kunci surga, hlm 230).

    Wassalam
    Syamsuri Rifa’i

    Amalan Praktis dan doa-doa pilihan, dan artikel2 Islami, klik di sini:
    http://shalatdoa.blogspot.com

    Milis Keluarga Bahagia & Shalat-Doa
    http://groups.google.com/group/keluarga-bahagia
    http://groups.yahoo.com/group/Shalat-Doa

  4. Ziarah Arba’in adalah ziarah ke 40 hari dari tragedi Karbala. Tanggal 20 Shafar/28 Pebruari adalah 40 hari dari peristiwa tragis yang memilukan hati kaum mukminin, tragedi yang menimpa keluarga Rasulullah saw di Karbala, khususnya Al-Husein cucu tercinta Rasulullah saw. Sudah selayaknya kita ummat Rasulullah saw berziarah dan menyampaikan salam kepada cucu tercinta Rasulullah saw. Semoga dengan ziarah ini kita mendapat syafaat Rasulullah saw dan Ahlul baitnya (sa), dilindungi oleh Allah swt dari segala musibah dan bala’. Berikut ini doa ziarahnya:

    بسم الله الرحمن الرحيم
    اللهم صل على محمد وآل محمد
    اَلسَّلامُ عَلى وَلِيِّ اللهِ وَحَبيبِهِ، اَلسَّلامُ عَلى خَليلِ اللهِ وَنَجيبِهِ، اَلسَّلامُ عَلى صَفِيِّ اللهِ وَابْنِ صَفِيِّهِ، اَلسَّلامُ عَلى الْحُسَيْنِ الْمَظْلُومِ الشَّهيدِ، اَلسَّلامُ على اَسيرِ الْكُرُباتِ وَقَتيلِ الْعَبَراتِ
    Assalâmu ‘alâ waliyyillâhi wa habîbih
    Assalâmu ‘alâ khalîlillâhi wa najîbih
    Assalâmu ‘alâ shafiyilâhi wabni shafiyyih
    Assalâmu ‘alal Husaynil mazhlûmisy syahîd
    Assalâmu ‘alâ asîril kurabâti wa qatîlil ‘abarât

    Salam atas wali Allah dan kekasih-Nya
    Salam atas keistimewaan Allah dan pilihan-Nya
    Salam atas kesucian Allah dan putera kesucian-Nya
    Salam atas Al-Husein yang mazhlum dan syahid
    Salam atas yang tertawan dalam peristiwa yang paling berduka
    dan terbunuh dalam tragedi paling menderita

    اَللّهُمَّ اِنّي اَشْهَدُ اَنَّهُ وَلِيُّكَ وَابْنُ وَلِيِّكَ وَصَفِيُّكَ وَابْنُ صَفِيِّكَ الْفائِزُ بِكَرامَتِكَ
    Allâhumma innî asyhadu annahu waliyyuka wabnu waliyyika wa shafiyyuka wabnu shafiyyikal fâizu bikaramatika.

    Ya Allah, aku bersaksi bahwa dia adalah kekasih-Mu dan putera kekasih-Mu, pilihan-Mu dan putera pilihan-Mu yang beruntung dengan kemuliaan-Mu

    اَكْرَمْتَهُ بِالشَّهادَةِ وَحَبَوْتَهُ بِالسَّعادَةِ، وَاَجْتَبَيْتَهُ بِطيبِ الْوِلادَةِ
    Akramtahu bisy-syahâdati wa habawtahu bissa’âdah, wa ajtabaytahu bithayyibil wilâdah,

    Kau muliakan dia dengan kesyahidan, Kau hampiri dia dengan kebahagiaan, Kau pilih dia dengan kelahiran yang baik.

    وَجَعَلْتَهُ سَيِّداً مِنَ السادَةِ، وَقائِداً مِنَ الْقادَةِ، وَذائِداً مِنْ الْذادَةِ
    Waja’altahu sayyidan minas sâdah, wa qâidan minal qâdah, wa dzâidan minadz dzâdah.

    Kau jadikan dia penghulu para sayyid, pemimpin dari para pemimpin, dan pertahanan dari semua pertahanan.

    وَاَعْطَيْتَهُ مَواريثَ الاَْنْبِياءِ، وَجَعَلْتَهُ حُجَّةً عَلى خَلْقِكَ مِنَ الاَْوْصِياءِ
    Wa a’thaytahu mawâritsal anbiyâi, wa ja’altahu hujjatah ‘alâ khalqika minal awshiyâi.

    Kau karuniai dia pewaris para nabi, Kau jadikan dia hujjah atas makhluk-Mu dari para washi.
    فَاَعْذَرَ فىِ الدُّعاءِ وَمَنَحَ النُّصْحَ، وَبَذَلَ مُهْجَتَهُ فيكَ لِيَسْتَنْقِذَ عِبادَكَ مِنَ الْجَهالَةِ وَحَيْرَةِ الضَّلالَةِ
    Fa’tadzara fid-du’âi wa Manahan nush-ha, wa badzala muhjatuhu fîka liyastanqidza ‘ibâdaka minal jahâlati wa hayratidh dhalâlah.

    Ia telah menyampaikan dalam doanya, mencurahkan dalam nasehatnya, berjuang karena-Mu untuk menyelamatkan hamba-hamba-Mu dari kejahilan dan kebingunan dalam kesesatan.

    وَقَدْ تَوازَرَ عَلَيْهِ مَنْ غَرَّتْهُ الدُّنْيا، وَباعَ حَظَّهُ بِالاَْرْذَلِ الاَْدْنى، وَشَرى آخِرَتَهُ بِالَّثمَنِ الاَْوْكَسِ، وَتَغَطْرَسَ وَتَرَدّى فِي هَواهُ، وَاَسْخَطَكَ وَاَسْخَطَ نَبِيَّكَ، وَاَطاعَ مِنْ عِبادِكَ اَهْلَ الشِّقاقِ وَالنِّفاقِ وَحَمَلَةَ الاَْوْزارِ الْمُسْتَوْجِبينَ النّارَ
    Wa qad tawâzara ‘alayhi man gharrathud dun-yâ, wa bâ’a hazhzhahu bil-ardzalil adnâ, wa syarâ âkhiratahu bits-tsamanil awkas, wa taghathrasa wa taraddâ fî hawâhu, wa askhathaka wa askhatha nabiyyaka, wa athâ’a min ‘ibâdika ahlasy syiqâq wan-nifâq wa hamalatan awzâril mustawjibînan nâr.

    Ia dianggap berdosa oleh orang yang tertipu oleh dunia,
    yang menjual bagiannya dengan harga yang paling rendah,
    yang membeli akhiratnya dengan harga yang paling hina,
    yang sombong dan arogan dalam hawa nafsunya
    yang marah pada-Mu dan murka pada nabi-Mu
    yang patuh pada hamba-hamba-Mu yang mendambakan perpecahan dan dipenuhi kemunafikan, yang menanggung beban orang-orang yang mengharuskan mereka tercampak ke dalam neraka.

    فَجاهَدَهُمْ فيكَ صابِراً مُحْتَسِباً حَتّى سُفِكَ فِي طاعَتِكَ دَمُهُ وَاسْتُبيحَ حَريمُهُ
    Fajâhadahum fîka shâbiran mustajî hattâ sufika fî thâ’atika dâmuhu wastubîha harîmuhu.

    Lalu beliau berjuang menghadapi mereka karena-Mu penuh kesabaran dan mengharap ridha-Mu, sehingga ia ditumpahkan darahnya dan disembelih kesuciannya dalam ketaatan pada-Mu.

    اَللّهُمَّ فَالْعَنْهُمْ لَعْناً وَبيلاً وَعَذِّبْهُمْ عَذاباً اَليماً
    Allâhumma fal’anhum la’nan wabîlâ wa ‘adzdzabhum ‘adzâban alîmâ.
    Ya Allah, laknatlah mereka dengan laknat yang berat dan azablah mereka azab yang pedih.
    اَلسَّلامُ عَلَيْكَ يَا بْنَ رَسُولِ اللهِ، اَلسَّلامُ عَلَيْكَ يَا بْنَ سَيِّدِ الاَْوْصِياءِ
    Assalamu’alayka yabna Rasulillâh
    Assalamu’alayka yabna sayyidil awshiyâ’

    Salam atasmu duhai putera Rasulullah
    Salam atasmu duhai putera penghulu para washi

    اَشْهَدُ اَنَّكَ اَمينُ اللهِ وَابْنُ اَمينِهِ، عِشْتَ سَعيداً وَمَضَيْتَ حَميداً وَمُتَّ فَقيداً مَظْلُوماً شَهيداً، وَاَشْهَدُ اَنَّ اللهَ مُنْجِزٌ ما وَعَدَكَ، وَمُهْلِكٌ مَنْ خَذَلَكَ، وَمُعَذِّبٌ مَنْ قَتَلَكَ
    Asyhadu annaka aminullâhi wabnu amînih. ‘Isyta sa’îdan wa madhayta hamîdan, wa mutta faqîdan mazhlûman syahidâ. Wa asyahadu annallâha munjizun mâ wa’adaka, wa muhlikun man khadzalaka, wa mu’adzdzibun man qatalaka.

    Aku bersaksi bahwa engkau adalah kepercayaan Allah, putera kepercayaan-Nya.
    Engkau hidup bahagia dan terpuji
    Engkau terbunuh dalam keadaan mazhlum dan syahid.

    وَاَشْهَدُ اَنَّكَ وَفَيْتَ بِعَهْدِ اللهِ وَجاهَدْتَ فِي سَبيلِهِ حَتّى اَتياكَ الْيَقينُ
    Wa asyhadu annaka wafayta bi’ahdillâhi wa jâhadta fî sabîlihi hatta atâkal yaqîn.

    Aku bersaksi bahwa engkau telah memenuhi janji Allah, berjuang di jalan-Nya sehingga engkau dipanggil ke haribaan-Nya.

    فَلَعَنَ اللهُ مَنْ قَتَلَكَ، وَلَعَنَ اللهُ مَنْ ظَلَمَكَ، وَلَعَنَ اللهُ اُمَّةً سَمِعَتْ بِذلِكَ فَرَضِيَتْ بِهِ
    Fala’anallâhu man qatalaka, wa la’anallâhu man zhalamaka, wa la’anallâhu ummatan sami’at bidzâlika faradhiyat bihi.

    Semoga Allah melaknat orang yang membunuhmu
    Semoga Allah melaknat orang yang menzalimimu
    Semoga Allah melaknat ummat yang mendengar tragedimu lalu ridha dengannya.

    اَللّهُمَّ اِنّي اُشْهِدُكَ اَنّي وَلِيٌّ لِمَنْ والاهُ وَعَدُوٌّ لِمَنْ عاداهُ
    Allâhumma innî usyhiduka annî waliyyun lima wâlâhu wa ‘aduwwun liman ‘âdâhu.

    Ya Allah, aku bersaksi di hadapan-Mu bahwa aku mencintai orang yang mencintainya, memusuhi orang yang memusuhinya.

    بِاَبي اَنْتَ وَاُمّي يَا بْنَ رَسُولِ اللهِ، اَشْهَدُ اَنَّكَ كُنْتَ نُوراً فىِ الاَْصْلابِ الشّامِخَةِ وَالاَْرْحامِ الْمُطَهَّرَةِ، لَمْ تُنَجِّسْكَ الْجاهِلِيَّةُ بِاَنْجاسِها وَلَمْ تُلْبِسْكَ الْمُدْلَهِمّاتُ مِنْ ثِيابِها
    Biabî anta wa ummi yabna Rasûlillâh, asyhadu annaka kunta nûran fil ashlâbisy syâmikhah wal-arhâmil muthahharah, lam tunajjiskal jâhiliyyatu bianjâsihâ, wa lam tulbiskal mudlahimmâtu min tsiyâbiha.

    Demi ayahku dan ibuku duhai putera Rasulullah, aku bersaksi bahwa engkau adalah cahaya dalam sulbi yang mulia dan rahim yang suci. Engkau belum pernah tersentuh oleh noda-noda jahiliyah, dan belum pernah terbungkus oleh pakaian jahiliyah.

    وَاَشْهَدُ اَنَّكَ مِنْ دَعائِمِ الدّينِ وَاَرْكانِ الْمُسْلِمينَ وَمَعْقِلِ الْمُؤْمِنينَ، وَاَشْهَدُ اَنَّكَ الاِْمامُ الْبَرُّ التَّقِيُّ الرَّضِيُّ الزَّكِيُّ الْهادِي الْمَهْدِيُّ، وَاَشْهَدُ اَنَّ الاَْئِمَّةَ مِنْ وُلْدِكَ كَلِمَةُ التَّقْوى وَاَعْلامُ الْهُدى وَالْعُرْوَةُ الْوُثْقى، وَالْحُجَّةُ على اَهْلِ الدُّنْيا
    Wa asyhadu annaka min da’âimid dîn wa arkânil muslimîn wa ma’qilil mu’minîn.
    Wa asyahadu annakal imâmul barrut-taqiy ar-radhiyyuz zakiy al-hâdil mahdiy.
    Wa asyhadu annal aimmata min wuldika kalimatut taqwâ wa a’lâmul hudâ wal ‘urwatul wutsqâ, wal-hujjatu ‘alâ ahlid dun-yâ.

    Aku bersaksi bahwa engkau adalah penegak agama, tonggak kaum muslimin, pengikat kaum mukminin.
    Aku bersaksi bahwa engkau pemimpin yang baik dan bertakwa, yang ridha dan suci, memberi petunjuk dan bimbingan.

    وَاَشْهَدُ اَنّي بِكُمْ مُؤْمِنٌ وَبِاِيابِكُمْ، مُوقِنٌ بِشَرايِعِ ديني وَخَواتيمِ عَمَلي، وَقَلْبي لِقَلْبِكُمْ سِلْمٌ وَاَمْري لاَِمْرِكُمْ مُتَّبِعٌ وَنُصْرَتي لَكُمْ مُعَدَّةٌ حَتّى يَأذَنَ اللهُ لَكُمْ، فَمَعَكُمْ مَعَكُمْ لا مَعَ عَدُوِّكُمْ
    Wa asyhadu annî bikum mu’minun wa bi-iyabikum, mûqinun bisyarâi’I dînî wa khawâtîmi ‘amalî, wa qalbî liqalbikum silmun, wa biamrî liamrikum muttabi’un, wa nushratî lakum mu’addatun hattâ ya’dzanallâhu lakum, fama’akum ma’akum lâ ma’a ‘aduwwikum.

    Aku bersaksi bahwa aku mempercayaimu, menyakini syariat agamaku, dan kesudahan amalku. Hatiku pasrah pada hatimu, urusanku ikut pada perintahmu, pertolonganku kusiapkan karenamu. Semoga aku selalu bersamamu, tidak bersama musuhmu.

    صَلَواتُ اللهِ عَلَيْكُمْ وَعلى اَرْواحِكُمْ وَاَجْسادِكُمْ وَشاهِدِكُمْ وَغائِبِكُمْ وَظاهِرِكُمْ وَباطِنِكُمْ آمينَ رَبَّ الْعالِمينَ .
    Shalawâtullâhi ‘alaykum wa ‘alâ arwâhikum wa ajâdikum, wa syâhidikum wa ghâibikum, wa zhâhirikum wa bâtinikum. Âmîna Rabbal ‘âlamîn.

    Semoga Allah senantiasa mencurahkan shalawat kepadamu, pada arwahmu dan jasadmu, pada kehadiranmu dan keghaibanmu, zahirmu dan batinmu. Amin ya Rabbal ‘alamin.

    Catatan: Setelah membaca doa ziarah ini, lalukan shalat sunnah dua rakaat, kemudian mohonlah kepada Allah apa yang dicita-citakan. Insya Allah, Allah swt mengijabahnya.

    Wassalam
    Syamsuri Rifai

    Link khusus Blog dan Milis Amalan praktis, doa2 pilihan dan artikel2 Islami :
    http://shalatdoa.blogspot.com
    http://syamsuri149.wordpress.com
    http://almushthafa.blogspot.com
    http://groups.google.com/group/keluarga-bahagia
    http://groups.yahoo.com/group/Shalat-Doa
    http://groups.google.co.id/group/feng-shui-islami

  5. Dilaknat artinya disingkirkan dan dijauhkan oleh Allah dari rahmat-Nya, dan dimurkai oleh-Nya.

    Orang-Orang yang dilaknat dan dikutuk di dalam Al-Qur’an dan hadis:
    1. Orang-orang kafir dan yang ingkar
    “Mereka berkata: hati kami tertutup. Tetapi sebenarnya Allah telah melaknat mereka karena keingkaran mereka; maka sedikit sekali mereka yang beriman.” (Al-Baqarah: 88)

    “Sesungguhnya Allah melaknat orang-orang yang kafir, dan menyiapkan bagi mereka api yang menyala-nyala (neraka).” (Al-Ahzab: 64).

    2. Orang-orang yang menentang kebenaran

    “Hai orang-orang yang telah diberi Al-kitab, berimanlah kamu pada apa yang telah Kami turunkan (Al-Qur’an) yang membenarkan Kitab yang ada pada kamu sebelum Kami merubah wajahmu, lalu Kami laknat mereka sebagaimana Kami telah melaknat orang-orang (yang berbuat maksiat) pada hari Sabtu, dan ketetapan Allah pasti berlaku.” (Al-Nisa’: 47)

    “Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bahagian dari Al-Kitab? Mereka mempercayai Jibt dan Thaghut, dan mengatakan kepada orang-orang kafir (musyrik Mekkah), bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari orang-orang yang beriman. Mereka itulah orang-orang yang dilaknat oleh Allah. Barangsiapa yang dilaknat oleh Allah, niscaya kamu kamu tidak akan mendapat penolong baginya.” (An-Nisa’: 51-52).

    3. Para pemimpin dan pembesar yang menyesatkan

    “Pada hari ketika wajah mereka dibolak-balikkan di dalam neraka, mereka berkata: sekiranya kami mentaati Allah dan Rasul-Nya. Dan mereka berkata: Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah mentaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan
    kami dari jalan yang benar. Ya Tuhan kami, timpakan kepada mereka azab dua kali lipat dan laknatlah mereka dengan laknat yang besar.” (Al-Ahzab: 66-68)

    4. Orang-orang yang memutuskan silaturrahim, dan orang-orang yang murtad

    “Apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan memutuskan silaturrahim? Mereka itulah orang-orang yang dilaknat oleh Allah dan ditulikan telingan mereka serta dibutakan-Nya penglihatan mereka.” (Muhammad: 22-23)

    5. Orang-orang yang menentang undang-undang Ilahiyah dan menyimpan
    kebenaran.\

    “Sesungguhnya orang-orang yang menyimpan apa yang Kami turunkan berupa keterangan-keterangan dan petunjuk, setelah Kami menerangkannyakepada manusia dalam Al-Kitab, mereka itu dilaknat oleh Allah dan dilaknat oleh semua makhluk yang dapat melaknat. Kecuali mereka yangtelah bertaubat dan melakukan perbaikan dan menerangkan kebenaran,
    mereka itu Akulah Yang Maha menerima taubat lagi Maha Penyayang.” (Al-Baqarah: 159-160)

    6. Para pemimpin kekufuran dan pelaku kerusakan di muka bumi.

    “Orang-orang yang merusak janji Allah setelah diikrarkan dengan teguh dan memutuskan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan dan mengadakan kerusakan di muka bumi, orang-orang itulah yang mendapat laknat dan lagi mereka yang memperoleh kediaman yang buruk (Jahannam).” (Ar’d: 25).

    7. Orang-orang munafik yang menyakiti Rasulullah saw

    “Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya, Allahakan melaknatnya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan.” (Al-Ahzab: 57)

    “Sesungguhnya jika tidak berhenti orang-orang munafik, orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya dan orang-orang yang menyebarkan kabar bohong di Madinah (dari penyakitimu), niscaya Kami perintahkan kamu untuk memerangi mereka, kemudian mereka tidak menjadi tetanggamu melainkan dalam waktu yang sebentar, dalam keadaan terlaknat. Dimana
    saja mereka jumpai, mereka ditangkap dan dibunuh dengan sehebat-sehebatnya.” (Al-Ahzab: 60-61)

    “Allah mengancam orang-orang munafik laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan neraka Jahannam. Mereka kekal di dalamnya. Cukuplah neraka itu bagi mereka; dan Allah melaknat mereka. Bagi mereka azab yang abadi.” (At-Taubah: 68).

    8. Orang-orang yang zalim.
    “Penghuni-penghuni surga berseru kepada penghuni-penghuni neraka: Sesungguhnya kami dengan sebenarnya telah memperoleh apa yang dijanjikan kami oleh Tuhan kami. Maka apakah kamu telah memperoleh dengan yang sebenarnya apa yang dijanjikan kepadamu oleh Tuhanmu? Mereka penghuni neraka menjawab: Betul. Kemudian seorang penyeru (malaikat) mengumumkan di antara kedua golongan itu: Laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang zalim.” (Al-A’raf: 44)

    “Mereka itu (orang-orang yang zalim) balasannya: Sesungghnya atas mereka laknat Allah ditimpakan, demikian juga laknat malaikat dan semua manusia.” (li-Imran: 87).

    9. Orang-orang yang membunuh orang mukmin
    “Barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya adalah Jahannam, kekal di dalamnya, Allah murka dan melaknatnya, dan menyiapkan baginya azab yang besar.” (An-Nisa’: 93).

    10. Iblis. (Al-Hijr/15: 35; Shaad: 78)
    “Sesungguhnya atasmu (Iblis) laknat sampai hari kiamat.” (Al-Hijr/15: 35)

    11. Orang-orang yang menuduh berzina terhadap perempuan yang baik-baik
    dan suci.
    “Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita-wanita baik-baik dan beriman (berbuat zina), mereka dilaknat di dunia dan di akhirat, dan bagi mereka azab yang besar.” (An-Nur: 23)

    12. Orang-orang yang menyalahi pemimpin yang saleh
    “Mereka selalu diikuti laknat di dunia dan hari kiamat. Ingatlah, sesungguhnya kaum ‘Ad itu kafir kepada Tuhan mereka. Ingatlah, kebinasaanlah bagi kaum ‘Ad yaitu kaum Hud.” (Hud: 60).

    “Itu adalah sebagian dari berita-berita negeri (yang dibinasakan) yang Kami ceritakan kepadamu (Mhammad); di antara negeri-negeri itu ada yang masih kedapatan bekas-bekasnya dan ada pula yang telah musnah.” (Hud: 100).

    Orang-orang yang dilaknat di dalam hadis Rasulullah saw

    Rasulullah saw bersabda: “Ada lima orang yang dimohonkan laknat atas mereka dan semua nabi mengaminkannya: (1) Orang yang menambah kitab Allah dan meninggalkan sunnahku, (2) orang yang mendustakan takdir Allah, (3) orang yang mengatakan halal atas nama keluargaku apa yang diharamkan oleh Allah, (4) orang yang mementingkan dirinya dalam harta rampasan perang yang dihalalkan baginya, (5) orang yang mengajak berbuat baik sementara dirinya meninggalkannya atau melarang orang lain berbuat dosa sementara dirinya melakukannya.” (Al-Wasail11: 271).

    Wassalam
    Syamsuri Rifai

    Link khusus Blog dan Milis Amalan praktis, doa2 pilihan dan artikel2 Islami :
    http://shalatdoa.blogspot.com
    http://syamsuri149.wordpress.com
    http://almushthafa.blogspot.com
    http://groups.google.com/group/keluarga-bahagia
    http://groups.yahoo.com/group/Shalat-Doa
    http://groups.google.co.id/group/feng-shui-islami

  6. Oleh: Syamsuri Rifai

    Kematian adalah perjalanan yang pasti dilalui oleh semua manusia. Mereka tidak bisa menghindarinya. Allah swt berfirman: “
    Tiap-tiap yang berjiwa pasti mati…” (QS 3:185).

    Perjalanan yang pasti dilalui itu mengisyaratkan kepada kita bahwa diri kita diselimuti berbagai rahasia dan misteri. Sampai hari ini, ilmu pengetahuan belum dapat memahami esensi kehidupan dan kematian.
    Allah swt menisbatkan mati dan hidup kepada Diri-Nya dalam berbagai ayat Al-Quran Al-Karim:
    “Yang menjadikan mati dan hidup…” (QS 67:2).
    “Dia-lah yang menghidupkan dan mematikan…” (QS 40:68).

    Ilmu pengetahuan sampai saat ini belum dapat membedakan secara akurat antara sel-sel hidup dan sel-sel mati. Sel-sel hidup membangkitkan kegiatan kehidupan, sedangkan sel-sel kematian tidak mampu membangkitkannya; tetapi secara lahiriah perbedaan itu tidak dapat diketahui sebabnya. Padahal sebenarnya kedua jenis sel itu sama materi dan strukturnya. Keduanya terdiri atas kalsium, ferum, dan hidrogen. Hanya saja sel-sel hidup mampu membangkitkan kegiatan yang dahsyat yang tidak mampu dilakukan oleh sel-sel mati. Sel-sel hidup itu pun tidak akan mati sampai terhentinya kegiatan kehidupan yang didukungnya. Anehnya, ketika kehidupan terhenti sel-sel itu juga tidak berkurang strukturnya sama sekali.

    Surat kabar Iththila’at di Iran, edisi 10160, pernah menulis tentang komentar pertemuan ilmiah yang diadakan untuk mengkaji seputar masalah tersebut:

    “Setelah seribu tahun yang akan datang, manusia akan dapat mengungkapkan misteri kehidupan, tetapi bukan berarti bahwa manusia akan dapat menciptakan lalat, serangga, ataupun sel-sel hidup. Objek kajian seperti itu ditegaskan oleh para ilmuwan pada seminar dengan topik Darwin. Pada akhir seminar itu, seorang profesor dari Amerika, Hans, mengumumkan bahwa pada seribu tahun yang akan datang, para ilmuwan akan dapat mencurahkan perhatiannya untuk mengungkap misteri kehidupan.”

    Dari ungkapan tersebut dapat dipahami bahwa persoalan mati dan hidup berada di luar kekuasaan manusia. Setiap manusia pasti mati pada suatu saat nanti. Yang bisa dilakukan oleh ilmu pengetahuan hanyalah menjauhkan sebagian sebab-sebab kematian dari manusia. Misalnya, penemuan berbagai bakteri penyakit, serum yang dapat menjaga dan menolak penyakit, perkembangan ilmu kedokteran dan ilmu bedah, serta pembasmian penyakit menular dan sebagainya.

    Ada juga upaya-upaya yang bagus untuk menghilangkan ketuaan pada diri seseorang dan memanjangkan umur manusia sebatas yang bisa dilakukan. Sayangnya, setiap kajian yang dilakukan untuk memperpanjang umur manusia hanya berkisar pada pencegahan penyakit dan pengobatannya, baik yang menyangkut penyakit saraf maupun penyakit jiwa. Akan tetapi, semua kajian itu sama sekali tidak dapat mengusik-usik pengaruh perilaku manusia terhadap panjang umurnya, atau pengaruh dosa terhadap berkurangnya umur. Semua itu kembali kepada perilaku ilmu pengetahuan itu sendiri yang membatasi dirinya hanya pada tabung-tabung penelitian, kajian sebab-akibat yang sifatnya material, dan mengabaikan semua hal yang tidak masuk ke dalam kerangka inderawi dan percobaan yang berdasarkan sebab-akibat tersebut. Akibat kerangka pemikiran yang sempit itu, hubungan sebab-akibat yang non-material tidak dapat dipahami dan tidak masuk akal. Misalnya, hubungan antara kebohongan dan memutuskan silaturahim dengan berkurangnya umur. Begitu pula hubungan antara kejujuran dan silaturahim dengan panjangnya umur.

    Hubungan sebab-akibat seperti itu tidak mungkin masuk dalam kerangka uji-coba penelitian material, karena hubungan tersebut berkaitan dengan hal-hal gaib yang disampaikan kepada kita melalui hadis-hadis yang bersumber dari wahyu Ilahi.

    Patut disebutkan juga di sini bahwa para ilmuwan mengakui kesempitan jangkauan ilmu pengetahuan yang dihasilkan dari kerangka inderawi dan percobaan sebab-akibat material. Mereka menyatakan bahwa dunia yang mereka ketahui melalui indera dan percobaan berdasarkan sebab-akibat materialistik adalah kecil, bahkan sangat kecil dibandingkan dengan alam lain yang sangat berpengaruh terhadap kehidupan manusia. Sayangnya esensi alam itu belum bisa dijangkau oleh berbagai uji coba tersebut.

    Maurice Materlink, seorang ilmuwan Eropa, yang dikatakan sebagai Socrates-nya zaman modern ini walaupun nilainya masih jauh di bawah Socrates sendiri, ia mengatakan: “Saya ingin mengulangi perkataan saya lagi bahwasanya saya tidak mengetahui sesuatu pun. Saya ulangi sekali lagi bahwa tidak ada seorang pun yang mengetahui sesuatu. Jika ada seseorang yang mengetahui sesuatu pasti dia akan memberitahukannya kepada manusia yang lain, dan semua orang pasti mengetahui dirinya serta memahami rahasia penciptaan alam ini. Dari sini dapat kita pahami bahwa rahasia penciptaan, rahasia-rahasia alam semesta dan akhirnya, hanyalah Tnerupakan hasil rekaan yang terbersit dalam benak kita. Atas dasar itu, kita membangun teori-teori yang berkaitan dengan masalah tersebut, di mana teori-teori tersebut akan terus dipakai selama belum diketahui adanya kekurangan dalam teori itu. Apa yang saya katakan tentang persoalan ini pun adalah hasil pemikiran saya sendiri dan saya pun tidak mengklaim bahwa yang saya katakan adalah benar. Jika ada seseorang di dunia ini yang mengakui kebenaran perkataannya mengenai rahasia penciptaan alam ini, maka kita perlu melihat sejauh mana kebenaran pengakuannya.” (Dunya Dekar, hlm 5)

    Arbery, seorang ilmuwan Inggris, mengatakan:
    “Pengetahuan kita bagaikan setetes air dan ketidaktahuan kita bagaikan samuderanya. Setiap kali tetes air itu membesar, maka setiap kali itu pula samudera akan semakin membesar. Boleh jadi generasi-generasi terdahulu telah mengalami kemajuan dalam dunia ilmu pengetahuan dan bisa menyingkap rahasia-rahasia alam ini yang barn, akan tetapi sangat menyedihkan, bahwa kita sekarang ini mesti mengakui keticlaktahuan kita mengenai rahasia wujud ini, misteri kehidupan dan kematian, filsafat penciptaan, dan lain-lain. Begitu pula misteri yang belum terungkap oleh ilmu pengetahuan sekarang ini.
    Mengapa kita semakin jauh? Sekarang ini, kita tidak mengetahui siapa diri kita sendiri, dan tidak mengetahui keterkaitan antara diri kita dengan alam semesta. Tidak ada yang mengetahui dari mana kita datang clan hendak ke mana kita pergi setelah kita mati. Me¬mang kita tidak mengetahui apa-apa dan terpaksa meletakkan tanda tanya besar di hadapan semua itu…” (Dar Jistajwi Khusybakhte, hlm 221)

    Ilmuwan terkenal, Plamarbon mengatakan:
    “Saya melihat dan berpikir, tetapi apa yang disebut dengan aktivitas berpikir? Tidak seorang pun dapat memberikan jawaban atas pertanyaan ini. Saya berjalan, dan apakah sebenarnya hakikat perbuatan otot-otot ini? Tidak seorang pun dapat mengetahuinya. Kehendakku adalah kekuatan, tetapi kekuatan yang immaterial. Bahkan semua keistimewaanku yang bersifat ruhani adalah immaterial. Aku dapat mengangkat tanganku kapan pun kuinginkan. Keinginanku itu dapat menggerakkan sisi materi dari bagian tubuh saya. Lalu apakah hakikat peristiwa ini? Lalu apakah yang menjadi perantara antara kekuatan immaterial dan gerakan tubuh yang material ini?
    Tidak seorang pun dapat memberikan jawaban atas pertanyaan ini. Katakanlah kepada saya: “Bagaimanakah caranya saraf-saraf penglihatan memindahkan gambar dari luar ke pikiran? Lalu apakah hakikat pikiran itu? Bagaimana hasil itu dapat dicapai? Dan di mana tempatnya? Lalu bagaimanakah cara kerja otak kita? Saya dapat melontarkan pertanyaan seperti itu sampai sepuluh tahun yang akan datang. Tetapi tidak seorang ilmuwan pun yang sanggup memberikan jawaban memuaskan atas pertanyaan-pertanyaan tersebut.” (Irthibath Insan va Jahan, hlm. 20-23)

    Oliver Lag, seorang ilmuwan Barat terkenal, mengatakan:
    “Apa yang kita ketahui sungguh sangat sedikit sekali dibandingkan dengan apa yang tidak kita ketahui. Sebagian ilmuwan mengulang-ulang ungkapan tersebut tanpa keyakinan, tetapi saya mengatakannya penuh keyakinan dan keimanan.” (Irthibath Insan va Jahan, hlm 23)

    Banyak lagi pengakuan-pengakuan lain mengenai kekurangan ilmu pengetahuan yang dimiliki manusia. Kita menganggap cukup untuk mengutip pernyataan dari para ilmuwan Barat. Kita kutipkan di sini pernyataan dari ilmuwan Timur, Abu Ali ibn Sina yang banyak mengucapkan kata-kata ini menjelang ajalnya:
    “Kita mati tetapi kita tidak membawa hasil apa-apa kecuali kita mengetahui bahwa kita tidak punya ilmu apa-apa.”

    Anehnya, kita melihat bahwa di samping pengakuan-pengakuan dari para ilmuwan tersebut, kita juga melihat ilmuwan yang mengeluarkan pernyataan dengan penuh keluguan dan kepolosannya yang sama sekali tidak mempercayai segala sesuatu di alam semesta yang tidak masuk di akal mereka, dan dengan tegas mengingkari segala sesuatu yang tidak bisa mereka buktikan dalam tabung-tabung penelitian, dan laboratorium-laboratorium bedah mereka.

    Dituturkan dari orang bijak, Budzarjamhar, bahwa ada seorang perempuan yang mendatanginya lalu mengajukan pertanyaan kepadanya. Dia menjawabnya tidak tahu.
    Perempuan itu mengatakan: “Sungguh keterlaluan, sang raja telah memberi Anda sejumlah harta kekayaan setiap bulan, tetapi Anda tidak dapat memberikan pertanyaan yang saya ajukan.”
    Budzarjamhar yang bijak menjawab: “Sesungguhnya sang raja memberikan sejumlah harta ini atas pengetahuan yang kumiliki, dan jika dia hendak memberikan imbalan atas hal-hal yang tidak kuketahui, niscaya dia tidak akan mampu memberikannya meskipun ia memberikan harta kekayaan yang ada di gudangnya.”(Al-Kasykul 3: 310)

    Bagaimanapun, semua ilmuwan sepakat mengenai keterbatasan ilmu pengetahuan manusia. Dan memang begitulah yang ditegaskan oleh Al-Quran:
    “…Tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.” (QS 17:85).

    Kita mengetahui bahwa sesungguhnya Allah swt memilih para nabi untuk diutus kepada manusia agar menjelaskan kepada mereka jalan kebahagiaan, dan menunjukkan kepada mereka kebaikan, serta menjauhkan mereka dari malapetaka yang timbul di dalam masyarakat manusia karena berbagai sebab. Tindakan seperti itu dilakukan, karena ketidaktahuan umat manusia mengenai detail dan dimensi hal-hal yang membahayakan dan menguntungkannya. Oleh karena itu, manusia akan menghadapi berbagai macam kesulitan dan kerusakan jika dia menjauhi petunjuk para nabi. Dan begitu pula sebaliknya, mereka akan meraih berbagai mkmat dan kebahagiaan yang hakiki bila mengikuti petunjuk para nabi. Nash-nash berikut ini menegaskan tentang adanya keterkaitan tersebut.

    “Apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri…” (QS 42:30).
    “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia….” (QS 40:42).

    Imam Ali bin Abi Thalib (sa) berkata: “Jauhilah melakukan dosa, tidak ada bencana, kekurangan rizki kecuali karena dosa, sampai pun mencakar, melukai hati, dan mencelakakan orang.” (Khishal Al-Shaduq 2:616)

    Imam Ja`far Al-Shadiq (sa) berkata: “orang yang mati karena dosanya adalah lebih banyak dibanding orang yang mati karena memang ajalnya sudah tiba.” (Bihar Al-Anwar 5:140)

    Dari hadis yang lain, juga diriwayatkan darinya: “Ketahuilah bahwa tidak ada satu bau badan yang keluar, cacat, sakit kepala, dan penyakit yang lain hinggap pada manusia kecuali karena dosa yang dilakukannya.” (Ushul Al-Kafi 3: 370)

    Itulah uraian yang berkaitan dengan pengaruh dosa yang dilakukan oleh manusia. Adapun hal-hal yang ada kaitannya dengan pengaruh amal kebaikan terhadap kebahagiaan manusia, Imam Ja`far Al-Shadiq (sa) berkata:

    “Orang yang dapat hidup dengan kebaikan yang dilakukannya adalah lebih banyak daripada orang yang hidup karena jatah umurnya.” (Bihar Al-Anwar 73: 354)

    Beliau juga mengatakan: “orang yang hidup dengan kebaikan mereka jumlahnya lebih banyak ketimbang orang yang dapat hidup karena memang iatah umurnya. Dan orang yang mati karena dosanya adalah lebih banyak dibandingkan dengan orang yang mati karena memang ajalnya sudah tiba.” (Biharul Anwar 5:140)

    Persoalan ini berkaitan erat dengan keyakinan terhadap konsep Al-Bada’. Berdasarkan riwayat-riwayat tersebut tampak bahwa manusia memiliki dua macam ajal. Pertama, ajal yang pasti (hatmiy) bila kematian manusia telah betul-betul tiba, dan dia tidak bisa menghindar darinya, dan kedua, ajal yang ditangguhkan (mawquf) atau bersyarat (mu’allaq), di mana ajal dapat ditunda dengan berdoa atau bersedekah.

    Imam Muhammad Al-Baqir (sa) berkata kepada Muhammad bin Muslim: “Maukah kamu kuberitahu sesuatu yang mengandung kesembuhan dari segala macam penyakit sampai kepada rasa kejenuhan?” Muhammad menjawab: “Ya,” kemudian Imam Al-Baqir (sa) menjawab: “Itu adalah doa.” (Falah Al-Sail, hlm 28)

    Bahkan, takdir-takdir kita yang lain pun banyak yang mirip bentuknya dengan hal di atas, yaitu diubahnya takdir kita akibat amal perbuatan yang kita lakukan.
    Hamran, salah seorang sahabat Imam Muhammad Al-Baqir (sa) pernah mengatakan kepadanya bahwa dia pernah bertanya kepada beliau tentang firman Allah:
    “Dialah yang menciptakan kamu dari tanah, sesudah itu ditentukannya ajal (kematianmu), dan ada lagi satu ajal yang ditentukan yang ada pada sisi-Nya…” (QS 6:2).
    Imam Al-Baqir mengatakan: “Yaitu dua ajal. Pertama, aial yang pasti yang telah dijatuhkan temponya (hatmiy) dan ajal yang ditangguhkan.” (Ushul Al-Kafi 1: bab Al-Bada’)

    Ada juga riwayat-riwayat lain yang mengandung makna yang sama dengan riwayat tersebut, dan juga merupakan penafsiran dari ayat itu, yang berasal dari para imam Ahlul Bayt Nabi saw.

    Sehubungan dengan masalah ini, banyak sekali kisah yang bersumber dari riwayat-riwayat dari Ahlul bait Nabi saw, yang semuanya dipenuhi dengan pelajaran tentang persoalan ini. (disarikan dari kitab Iqab Adz-Dzunub)

    Tentang kisah pemuda yang luput dari kematian, Kisah pemberian mengubah kekayaan keluarga, dan artikel Islami yang lain, juga Amalan Praktis, bermacam2 shalat sunnah dan doa-doa pilihan, kunjungi:
    http://shalatdoa.blogspot.com
    http://syamsuri149.wordpress.com
    http://groups.google.com/group/keluarga-bahagia
    http://groups.yahoo.com/group/Shalat-Doa

  7. Doa sebelum berangkat ke kantor

    Doa ini dibaca ketika akan berangkat ke kantor atau ke tempat usaha:

    Bismillâhir Rahmânir Rahîm
    Allâhumma shalli ‘alâ Muhammadin wa âli Muhammad

    Bismillâhi makhrajî wa bi-idzmihi kharajtu. Wa qad `alima qabla an akhruja khurûjî, wa qad ahshâ `ilmuhu mâ fî makhrajî wa marja`î. Tawakkaltu `alal Ilâhil Akbari, tawakkula mufawwidhin ilayhi amrahu, wa musta`înin bihi `alâ syuûnihi, mustazîdin min fadhlihi, mutabarri-in nafsahu min kulli hawlin wa min kulli quwwatin illâ bihi; khurûja dharîrin kharaja bidhurrihi ilâ man/y yaksyifuhu, wa khurûja faqîrin kharaja bifaqrihi ilâ man/y yasudduhu, wa khurûja `âilin kharaja bi`îlatihi ilâ man/y yughnîhâ, wa khurûja man/r Rabbuhu Akbaru tsiqatihi wa a`zhamu rajâihi wa afdhala umniyyatihi. Allâhu tsiqatî fî jamî`i umûrî kullihâ bihi fîhâ jamî`an asta`înu, wa lâ syay-in illâ mâ syâallâhu fî `ilmihi. As-alullâha Khayral makhraji wal madkhali lâ ilâha illâ Huwa ilayhil mashîr.

    Dengan asma Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang
    Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Rasulullah dan keluarganya

    Dengan nama Allah dan dengan zikir-Nya aku pergi menuju ke tempat tujuanku. Dialah yang mengetahui sebelum aku pergi ke tempat tujuanku, ilmu-Nya meliputi segala yang ada di tempat kepergian dan kepulanganku.

    Aku bertawakkal kepada Tuhan Yang Maha Agung seperti tawakkal orang yang menyerahkan segala urusannya kepada-Nya, yang memohon pertolongan-Nya atas semua urusannya, yang memohon limpahan karunia-Nya, yang mencari perlindungan untuk dirinya dari semua daya dan kekuatan yang tak akan terjadi kecuali karena-Nya.

    Aku pergi seperti kepergian
    orang yang kesulitan, yang dengan kesulitannya ia datang kepada Yang Maha Menghilangkan
    kesulitannya
    orang yang fakir, yang dengan kefakirannya ia datang kepada Yang Maha Mencukupi
    kefakirannya
    orang yang berkeluarga, yang karena kebutuhan keluarganya ia datang kepada Yang Maha
    Memberi kekayaan
    orang yang Tuhannya menjadi kepercayaan yang paling besar, harapan yang paling agung,
    dan cita-cita yang paling utama.

    Allah adalah kepercayaanku dalam segala urusanku,
    kepada-Nya aku memohon pertolongan dalam semua urusan.
    Tak akan ada sesuatu pun kecuali yang Allah kehendaki dalam ilmu-Nya.
    Aku memohon kepada Allah, tempat aku pergi dan tempat aku kembali.
    Tiada Tuhan kecuali Dia, kepada-Nya tempat kembali segala sesuatu.
    (kitab Mafatihul Jinan, kunci-kunci surga)

    Yang berminat tek arab doa ini, bisa mengkopi dari Milis “Keluaega Bahgia” atau milis “Shalat-doa” berikut ini.

    Wassalam
    Syamsuri Rifai

    Amalan Praktis, bermacam2 shalat sunnah dan doa-doa pilihan, Artikel-artikel Islami dan informasi Islami, klik di sini :
    http://shalatdoa.blogspot.com
    http://syamsuri149.wordpress.com

    Amalan praktis, Adab2 dan doa2 pilihan haji dan umroh dilengkapi tek arab, bacaan tek latin dan terjemahan, klik di sini :
    http://almushthafa.blogspot.com

    Milis artikel2 Islami, macam2 shalat sunnah, amalan2 praktis dan doa-doa pilihan serta eBooknya, klik di sini:
    http://groups.google.com/group/keluarga-bahagia
    http://groups.yahoo.com/group/Shalat-Doa

    Milis Feng Shui Islami, rahasia huruf dan angka, nama dan kelahiran, rumus2 penting lainnya, dan doa2 khusus, klik di sini :
    http://groups.google.co.id/group/feng-shui-islami

  8. Assalamu’alaikum wr.wb

    Yang terhormat Bapak dan Ibu, Ikhwan dan Akhawat
    Dalam suasana Maulid Nabi saw yang sangat mulia ini, kita perlu melakukan perenungan kembali ttg perjuangan dan missi Rasulullah saw yaitu Rahmatan Lil-’alamin (menebarkan kasih sayang pada semua hamba dan makhluk Allah swt).

    Dan sepantasnya kita sbg ummatnya menyampaikan salam dan ziarah kepada Rasulullah saw.
    Smg dengan ini hari dan bulan yang sangat mulia ini mengalirkan rahmat dan keberkahan kepada kita semua.

    Bagi yang berminat Amalan2 utama, salam dan doa ziarah Nabi saw yang khusus di hari dan bulan Maulid yg sangat mulia ini, silahkan mengkopi dari:
    http://syamsuri149.wordpress.com
    http://shalatdoa.blogspot.com

    Wassalam
    Syamsuri Rifai

  9. Cara Menghitung Tempat Tinggal

    Rasulullah saw juga bersabda: “Ada 4 hal yang membahagiakan dan 4 hal yang mencelakakan. Empat yang membahagiakan adalah isteri yang shalehah, tempat tinggal yang luas, tetangga yang shaleh, dan kendaraan yang menyenangkan. Adapun empat hal yang mencelakakan adalah tetangga yang buruk, isteri yang tidak baik, tempat tinggal yang sempit.” (Biharul Anwar 73: 154)

    Makna ini sangat luas dan dalam. Secara makna batiniyah hadis tersebut ulama kita membuat rumus-rumus perhitungan antara lain tentang apakah rumah atau tempat tinggal itu membawa kebahagiaan dan keberkahan rizki atau kesengsaraan dan kesulitan bagi penghuninya? Dalam Kitab klasik “Mujarrbat Imamiyah” disebutkan rumus cara menghitung tempat tinggal dengan sistem pembagian 4 antara tempat tinggal dan penghuninya.

    Cara menghitungnya, silahkan berkunjung ke:
    http://syamsuri149.wordpress.com
    http://shalatdoa.blogspot.com

    Wassalam
    Syamsuri Rifai

  10. Dalam hadis yang bersumber dari Abu Said Al-Khudri, Rasulullah saw pernah berwasiat kepada menantunya Ali bin Abi Thalib (sa): ….

    Pertama: Wahai Ali, janganlah kamu menggauli isterimu pada awal bulan, tengah bulan, dan akhir bulan, karena hal itu mempercepat datangnya penyakit gila, kusta, dan kerusakan syaraf padanya dan keturunannya.

    Kedua: Wahai Ali, janganlah kamu menggauli isterimu sesudah Zhuhur, karena hal itu (bila dianugrahi anak) dapat menyebabkan jiwa anak mudah goncang, dan setan sangat menyukai manusia yang jiwanya goncang.

    Ketiga: Wahai Ali, janganlah kamu menggauli isterimu sambil berbicara, karena hal itu (bila dianugrahi anak) dapat menyebabkan kebisuan. Dan janganlah seorang suami melihat kemaluan isterinya, hendaknya memejamkan mata ketika berhubungan, karena melihat kemaluan dapat menyebabkan kebutaan pada anak.

    ….Selengkapnya kunjungi:
    http://shalatdoa.blogspot.com
    http://syamsuri149.wordpress.com

  11. Kita semua tidak mengetahui peristiwa yang terjadi di zaman Nabi saw juga pribadi orang-orang yang hidup di zamannya. Kita hanya mengetahuinya melalui informasi yang sampai pada kita melalui kitab-kitab, guru-guru kita, orang tua kita, dan lainnya.

    Tentu yang perlu kita pertanyakan: apakah informasi yang sampai pada kita itu valid dan shahih atau tidak valid dan tidak shahih? Khusus tentang pribadi Fatimah Az-Zahra’ (sa) banyak dikutip dalam kitab-kitab hadis dan sejarah, baik dari kalangan Ahlussunnah maupun dari kalangan Ahlul bait (sa). Sehingga kevalidan informasi tentangnya mencapai mutawatir.

    Kecintaan kepada Fatimah (sa) tidak bisa dipisahkan dari kecintaan kepada Rasulullah saw, dan sebaliknya kecintaan kepada Rasulullah saw tidak bisa dipisahkan dari kecintaan kepada Fatimah (sa). Juga kebencian kepada Fatimah tidak terpisahkan dari kebencian kepada Rasulullah saw, dan sebaliknya. Berikut ini sebagian hadis-hadis Nabi saw tentangnya:

    Marah Fatimah (sa) marah Nabi saw
    Dalam Shahih Bukhari, kitab awal penciptaan, bab manaqib keluarga dekat Rasulullah saw:
    Rasulullah saw bersabda:

    فاطمة بضعة مني فمن أغضبها أغضبني
    “Fatimah adalah bagian dari diriku, barangsiapa yang membuatnya marah ia telah membuatku marah.”

    Hadis ini juga terdapat dalam kitab:
    1. Kanzul Ummal, jilid 6 halaman 220, hadis ke 34222.
    2. Faydh Al-Qadir, jilid 4 halaman 421, hadis ke 5833.
    3. Khashish An-Nasa’I, halaman 35.

    Menyakiti Fatimah (sa) menyakiti Nabi saw
    Rasulullah saw bersabda:
    فاطمة بضعة مني يريبني ما أرابها ويؤذيني ما آذاها
    “Fatimah adalah bagian dari diriku, menggoncangkan aku apa saja yang menggoncangkan dia, dan menyakitiku apa saja yang menyakitinya.”

    Hadis ini dan yang semakna terdapat dalam kit